Jangan lupa vote...
Hari ini baru pukul enam petang, tapi Kenzi tampak sudah rapi, bersiap untuk pergi malam minggu. Malam minggu ini sedikit berbeda, Kenzi akan menghabiskan malam minggu ini bersama Melati. Dan rencananya, Kenzi akan mengungkapkan perasaannya kepada gadis itu. Kenzi janjinya menjemput Melati pukul setengah delapan nanti, dan sekarang niatnya kerumah Rio dulu, untuk meminta pengarahan.
Kenzi meringis, sembari memberhentikan motor besarnya tepat didepan rumah Rio. Pria itu menghela nafas panjang, belum apa-apa dirinya sudah deg-deg an dan dingin duluan. Kenzi melihat pantulan dirinya dari kaca spion motor, pria itu berdecak sembari merapikan rambutnya yang begitu berantakan.
"Ck, ini rambut nggak bisa diajak kompromi apa? Cemburu lo gue jalan sama Melati? " sakingnya gemesnya dengan rambut, Kenzi malah mengacak-ngacak rambutnya tidak karuan, kesal karena rambutnya tidak bisa rapi kali ini.
"Pas pembagian sikap lo kemana, Ken? " ujar Rio, melihat Kenzi yang masuk tanpa izin kedalam kamarnya. Tidak itu saja, Kenzi dengan seenaknya mengambil pomedo dan langsung mengoleskan pada rambutnya. Pria itu tampak sibuk didepan kaca besar Rio.
"Udah ganteng belum gue? " tanya Kenzi, menghadap sepenuhnya kepada tiga sahabatnya yang tengah rebahan bermain game.
Rio, Otak, dan Gibran, mengerjap-ngerjap. Merasa sedikit aneh dengan Kenzi yang tampak sudah rapi, biasanya jam segini pria itu masih terlihat seperti gembel.
"Lo mau kemana? " tanya Otak dengan ekpresi datar.
Kenzi mengelum senyum, sembari menyemprotkan parfum milik Rio ke sekujur tubuhnya, membuat Rio mengumpat keras. "GILA LO! GUE AJA YANG PUNYA NGGAK MAKE SEBANYAK ITU! " amuk Rio, sembari melemparkan bungkus rokok kearah Kenzi.
Kenzi berdecak acuh, lalu meletakkan parfum Rio ketempat semula. "KARENA ITU GUE PAKE BANYAK, " balas Kenzi ikut mengamuk.
"Orang nggak tau diri emang gitu, " ujar Otak, melirik Kenzi dengan sinis.
Kenzi berdicis kesal, melihat ketiga sahabatnya itu dengan kesal. Beberapa detik kemudian Kenzi berdecak beberapa kali, sembari geleng-geleng. Menyaksikan betapa nolepnya ketiga beban keluarga ini. Lihatlah mereka, terkujur lemah dilantai kamar Rio, seakan sudah bekarja berat saja. Bahkan secercah semangat tidak ada tampak pada diri mereka, padahal ini sudah magrib. Gibran pun sama, namanya saja anak guru, tapi tetap nolep.
"Bran, lo gini emang nggak dimarahin sama buk Rose? " tanya Kenzi, menyebutkan nama seorang guru yang berstatus sebagai Mama Gibran.
Gibran menjauhkan ponsel dari pandangannya, lalu pria itu menoleh kearah Kenzi. "Makanya gue disini, kalau dirumah bisa kena amuk gue. "
Rio tersenyum bangga, menepuk-nepuk bahu Gibran. "Udah mulai ada perubahan, " ujar pria itu, melihat kearah Kenzi.
Kenzi tersenyum, sembari mengangguk-angguk. "Bicaranya sekarang udah mulai panjang-panjang. Udah berani juga ngatain nyokapnya. " Gibran hanya menanggapi dengan decihan, merasa serba salah. Ia diam dikatain, ia bicara tambah dikatain.
Otak tampak menguap, pria itu meregangkan otot-ototnya dengan mengangkat tangan tinggi-tanggi. "Aa.." ujar pria itu merasa seakan merasa lega. "Lo mau kemana buaya?" lanjut Otak bertanya dengan malas kepada Kenzi.
Lagi-lagi Kenzi mengulum senyum. "Gue..." pria itu mengigit bibirnya bawahnya, sebelum melanjutkan ucapannya. "Mau ngajak Melati keluar. Rencananya...gue mau nembak dia. " ujar Kenzi, diakhiri dengan ringisan.
"HAH? " sontak mereka bertiga terkejut, bahkan Gibran terlihat langsung duduk.
"Lo serius? " tanya Gibran tenang dibalas anggukan oleh Kenzi.
"Gue nggak mau tau, pokoknya gue mau dikasih pj. Gue mau lo trakir gue ditempat yang mahal." Otak menagih begitu saja.
"Lo serius, Ken? " tanya Rio, terlihat tenang dan serius. "Mawa--" ucapan Rio terhenti ketika mendengar decakan yang keras dari Kenzi.
"Kenapa selalu Mawar sih? Gue nggak ada apa-apa lagi sama Mawar. Gue sukanya sama Melati, gue maunya sama Melati. Titik. " ujar Kenzi terdengar kesal.
Rio mengangguk pelan, jujur ia sedikit kasihan terhadap Mawar yang masih memiliki rasa untuk Kenzi. Kenzi juga salah menurut Rio, seharusnya Kenzi tidak memberi Mawar janji, yang membuat gadis itu yakin pada Kenzi. Namun pada akhirnya Kenzi malah memutus janji itu, membuat Mawar begitu tersakiti. Rio tidak bisa berkata banyak, ia juga tidak bisa terlalu ikut campur dengan urusan Kenzi.
Gibran berdehem, membuat perhatian tertuju kepadanya. "Gue cuman mau ngomong, kalau lo jadian sama Melati lo jangan ngumbar, ya? " ujar Gibran hati-hati, dengan mata yang ia sipitkan. "Kasian Mawar. Mau nggak mau lo harus mikirin perasaan dia, karena sebelumnya lo ngasih harapan buat dia. Jangan bikin dia tambah tersakiti. "
Kenzi memaksakan senyumannya, lalu ia mengangguk pelan. Beberapa saat kemudian Kenzi berdecak keras. "Kok kalian nggak seneng gitu gue mau nembak Melati? Dukung gue dong gila! Gue ini sahabat kalian! " kesal pria itu, kembali menjangkau parfum Rio.
"Gue dukung lo kok, cuman gue males aja buat teriak-teriak, energi gue habis soalnya," ujar Otak tampak malas. Memang pria itu hari ini tampak lemah, seakan kehabisan tenang.
"Gue dukung lo, sumpah! Tapi bisa nggak lo jauhin tangan lo itu dari parfum gue." Rio khawatir parfum mahal miliknya dihabisi oleh manusia minim akhlak seperti Kenzi.
Sprut! Sprut! Prut!
Rio mengumpat keras ketika Kenzi dengan seenak jidatnya menyemprotkan parfumnya keudara. "ANJING! BABI! LO PIKIR PARFUM BAYGON SEMPROT PENGUSIR NYAMUK! LO NGA--" ucapan Rio berhenti, ketika menyadari sosok bermata tajam muncul dari balik pintu.
Otak dan Gibran yang tengah malas-malasan dilantai kini langsung duduk, dan berdiri tegap. Mereka berdua saling pandang, lalu mereka langsung lari keluar, melalui Papa Rio begitu saja. Papa Rio itu tidak galak, hanya saja ia akan menceramahi remaja-remaja nolep itu dengan panjang lebar. Tentu itu sangat menyiksa untuk remaja jaman sekarang.
Kenzi cengengesan, ketika pandangan papa Rio tertuju kepadanya. "Om, makin ganteng aja, " ucap Kenzi gugup, didalam hati ia menyumpahi Otak dan Gibran yang telah kabur duluan.
"Kenzi...ayok kebawah, sholat dulu. Kamu imam, ya? Tenggorokan om lagi sakit soalnya, " ujar pria paruh baya itu sembari memegangi lehernya.
Kenzi cengengesan hambar sambil meneguk ludahnya, didalam hati ia menangis, mengingat ini shalat magrib, tentu ia harus membaca ayat shalat dengan bersuara, mana dirinya cuman hafal surat al-ikhlas lagi.
"Rio, cepat mandi atau--" belum sempat sang Papa menyudahi ucapannya Rio langsung melompat kearah kamar mandi.
"KEN! AMBILIN GUE ANDUK! "
Maaf jelek.
Terima kasih banyak buat yang udah baca sampai akhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
Ficção AdolescenteCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
