Vote dulu ya...
"Mampus! Mawar ngambek! " ujar Rio kepada Kenzi yang tengah terkulai lemas diatas meja, pandangan pria itu sedari tadi hanya kepada Mawar.
Kenzi mengerang kecil, merasa bersalah kepada Mawar. Ini sudah jam istirahat, dan Mawar tidak kunjung mau diajak bicara oleh Kenzi. Padahal Kenzi tadi sudah membujuknya, tapi tetap saja tidak mempan.
"Lagian lo nggak ada otak, " ujar Otak serius, memandangi Mawar dengan eskpresi memprihatinkan. "Kalau capek, yaudah berenti aja. "
"Jangan ngasih harapan kalau lo nggak bisa wujud'tin harapan itu." Gibran yang pendiam kini mengeluarkan suara.
"Dan jangan berjanji kalau nggak bisa nepatin," ujar Rio dengan wajah datar, berbeda sekali dengan biasanya.
Kenzi mengumpat, menegakkam tubuhnya. Merasa semakin bersalah kalau begini, terlebih para sahabatnya menyalahkan dirinya.
Kenzi menghela nafas panjang. "Gue bakal berusaha buat wujudtin harapan itu," ujar Kenzi, menatap Gibran dengan tatapan capek.
"Lo bikin dia terluka," ujar Gibran, lagi.
"Udah deh, Ken. Males gue sama lo. Lo aja deh Bran sama Mawar, gue dukung, sumpah, " ujar Otak membuat Kenzi kembali mengumpat.
"Gue dekatin Melati karena gue mau jadi temennya. Beda sama Mawar." pandangan Kenzi tertuju ke Mawar yang tengah menulis dimejanya.
Rio menghela nafas panjang. "Tapi nggak gitu juga kali, Ken. Lo udah janji buat jemput Mawar, eh taunya lo sama Melati. "
Kenzi mengajak rambutnya frustasi, mengabsen semua penghuni kebun binatang. "Gue harus apa? "
Otak berdecak. "Datengin lah. "
Kenzi menciutkan bibirnya. "Dia marah. " usai berkata itu Kenzi menghela nafas panjang, berdiri lalu berjalan ke bangku Mawar.
Kenzi berdehem sebelum mendudukan bokongnya disamping kursi Mawar. Tidak ada sahutan membuat Kenzi langsung mendudukan bokongnya.
Kenzi sedikit mendekat ke Mawar, melihat apa yang tengah dikerjakan Mawar. Mawar tengah menggambar. "Cantik, " ujar Kenzi, berdecak kagum melihat gambar bunga mawar yang dibuat oleh gadis itu.
"Coba lo gambar bunga melati, pasti lebih cantik. " Sontak Mawar langsung menoleh, mendelik begitu saja.
Kenzi gelagapan, didalam hati ia mengumpat. "Kan--"
"Bunga melati? "
Kenzi meneguk ludahnya, ia mengangguk gugup. "Iy-ya, 'kan bunga mawar nya udah bagus tuh, tinggal bunga melati aja." Kenzi langsung membuang muka, menggerutui dirinya sendiri.
Tangan Mawar menggenggam pensil yang ada ditengannya dengan erat. Melampiaskan emosi ke benda itu. Perlahan Mawar menghela nafas. "Gue tau maksud lo, " ujar Mawar tersenyum, namun beberapa detik kemudian ia menampakkan wajah garangnya, membuat Kenzi meneguk ludah.
Kenzi bernafas lega, ketika Mawar sudah kembali fokus menggambar. Kenzi menggeser kursinya untuk mendekat ke Mawar. Kenzi menggapai tangan kiri Mawar, lalu menarik-narik jarinya, seakan membujuk gadis itu. "Udah dong marahnya, " ujar Kenzi dengan wajah cemberut, seperti anak kecil.
"Pergi atau nggak gue tusuk lo sama pensil," ujar Mawar, penuh dengan penekanan.
"Lo takut sama Mawar 'Ken? " celetuk Otak tiba-tiba, duduk diatas meja yang berada dibelakang Kenzi.
Kenzi mengumpat. "Pergi nggak lo?! "
"Seharusnya lo yang pergi, " ujar Mawar terdengar santai, gadis itu masih setia menggambar.
Kenzi meneguk ludahnya, tiba-tiba ia kehilangan nyali. "Ng-nggak git--" ucapan Kenzi terpotong ketika tawaan nyaring Otak menggelega.
"Apaan-apaan?" Rio secara tiba-tiba meloncat kesamping Otak, pria itu merangkul bahu Otak akrab.
Didalam hati Kenzi mengumpat, ingin memusnahkan kedua sahabatnya itu dengan bom atom. "Pergi nggak kalian." Kenzi terlihat gemes dengan kedua temannya itu.
Otak tertawa. "Seharusnya dia yang pergi, 'kan Mawar? "
Mawar menoleh ke otak, lalu gadis itu mengangguk, membuat Otak dan Rio kembali tertawa terbahak-bahak.
"Gua udah nunggu dia, ternyata dia malah pergi bareng Melati. Mana Melati di ajak muter-muter lagi. Nyesel banget gue udah percaya sama dia. "
Otak mengangguk-ngangguk sok mengerti. "Parah itu mah! "
"Nggak bisa dimaafin cowok kayak gitu mah. Mending sama yang lain aja." Rio tidak tinggal diam, pria itu juga ikut memanasi.
Otak mengangguk. "Cowok yang mau sama lo banyak, nggak dia doang. Udah nggak ngasih kepastian, brengsek lagi. "
Kenzi terpaku, serasa tertembak sendiri dengan ucapan Otak barusan. Yang dikatakan Otak benar. Banyak yang menginginkan Mawar, tapi Mawar tetap memilih menunggu kepastian dari Kenzi. Seharusnya Kenzi sadar, kalau dirinya beruntung.
"Kalian bisa pergi nggak? " suara Kenzi tiba-tiba menjadi dingin, membuat kedua sahabatnya itu saling pandang, dan beberapa detik kemudian mereka pergi.
Kenzi mendesah pelan, menjatuhkan kepalanya ke meja. Menatap lekat wajah Mawar. "Lo itu cantik, Mawar. Tapi kenapa gue nggak bisa suka sama lo? " Kenzi melirih didalam hati, membuat dirinya kembali mendesah pelan.
Kenzi menipiskan bibirnya sebelum berkata. "Gambar ini buat gue? "
"Nggak," jawab Mawar singkat, membuat Kenzi menghela nafas.
"Maaf." pria itu melirih, membuat Mawar menoleh kepadanya.
Mawar menghela nafas berat, menoleh sepenuhnya kepada Kenzi. "Tadi malem udah minta maaf. Ngulangin lagi. Sekarang juga minta maaf. "
"Dan gue nggak bakal ngulangin lagi," ujar Kenzi cepat, sambil menegakkan tubuhnya, melihat Mawar penuh dengan permohonan.
Kenzi meraih tangan Mawar. "Kita bakal berjuang sama-sama. "
Mawar menghela nafas panjang. "Tapi lo mau berenti 'kan? "
Kenzi menggeleng pelan. "Bahkan pikiran itu nggak pernah terlintas diotak gue. "
Kenzi menatap Mawar dengan lekat, meraih pipi gadis itu. "Maaf gue udah buat lo terluka. "
Mata Mawar menyendu, gadis itu menunduk. Mawar marah karena Mawar takut Kenzi menyukai gadis itu, dan meninggalkan dirinya. "Janji nggak bakal ngulang lagi? "
Kenzi mengangguk. "Janji." pria itu tersenyum, mengacak rambut Mawar.
Mawar yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa menciutkan bibir.
"Ntar pulang sama gue, ya? "
"Iya, tapi gue keruangan osis dulu, buat ngambil laptop."
Kenzi tersenyum hangat, lalu ia mengangguk.
Terima kasih banyak buat yang udah baca sampai akhir. Maaf banget kalau ceritanya hambar dan membosankan.
Jangan lupa rekomendasiin cerita ini keteman-teman kalian, ya...
Luv💜
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
Teen FictionCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
