Jangan lupa vote...
Mawar melihat pantulan dirinya dicermin. Ia terlihat sangat cantik menggunakan dress selutut. Tapi kecantikan itu tidak bisa mengukir senyuman dibibirnya, sedari tadi Mawar menyendu, garis wajahnya menampakkan kesedihan. Menarik ujung bibir untuk tersenyum saja rasanya sulit.
Mawar bimbang, antara pergi kepesta ulang tahun Kenzi atau tidak. Kenzi mengundang Melati, Mawar tidak mau hatinya tersakiti melihat interaksi Kenzi dan Melati dipesta nanti.
Mawar menghapus air matanya yang jatuh. Akhir-akhir ini buliran air itu sering jatuh karena ulah Kenzi.
Ponsel Mawar mengeluarkan notifikasi, gadis itu langsung meraih ponsel yang terlatak diatas meja riasnya.
Kenzi:Dimana?
Kenzi: jangn bilang ga jadi dateng
Kenzi: Cery lagi diluar kota ya?
Kenzi: lo gue jemput aja gimana?
Tidak ada niat untuk membalas di hati Mawar. Gadis itu menghela nafas panjang, lalu beralih ke room chat lain.
Gibran: p
Gibran: lo nggak dateng?
Mawar: iya, gue dateng
Gibran: berangkat sama siapa?
Mawar: diantar bg cakra, cery diluar kota soalnya
Gibran: o yaudah
Mawar: kenapa emangnya?
Gibran: nggak, mastiin aja
Mawar: melati udah dateng?
Gibran: belum kayknya
Mawar: gue takut
Mawar: ntar sakit hati lagi:(
Gibran: ngapain takut?
Gibran: ntar kalau ada apa-apa cari gue aja
Mawar: hehehe
Mawar: makasi ya kak gibran:)
Read.
***
Kenzi yang tengah tertawa-tawa bersama teman-temannya kini jadi berhenti mendadak. Mata pria itu berhenti berkedip, matanya fokus ke satu titik, dan perlahan senyuman mengembang dibibirnya. Kenzi seakan terpana begitu saja, ia mengerjap sebelum berkata. "Mawar," ujar Kenzi dengan senyuman, walau wajah Mawar tampak datar saja.
"Wih! Bidadari dari mana nih? " Otak berlagak sok kaget, melihat Mawar dengan mata yang ia lebarkan.
Kenzi berdecak, melirik sinis sahabatnya itu. "Punya gue. "
Rio mencibir. "Punya gue, punya gue, diberi kepastian aja nggak, " ujar Rio melirik Kenzi acuh sembari mengusap mulutnya.
Kenzi mengumpat kecil, perlahan ia tersenyum ke Mawar. "Lo nggak mau ngucapin apa-apa gitu sama gue?"
Mawar menghela nafas berat, lalu mendekat ke pria itu. "Happy birthday." tidak lupa Mawar memeluk Kenzi.
Kenzi tersenyum hangat, sembari membalas pelukan itu. "Makasi, ya, " ujar Kenzi didalam dekapan itu.
Mawar melerai pelukan lebih dulu, tapi Kenzi sedikit manarik gadis itu untuk mendekat. "Maafin gue, sayang." bisik pria itu, tepat pada telinga Mawar.
Entah kenapa Mawar tidak bisa menahan senyumannya, gadis itu mendorong tubuh Kenzi, dan jangan lupakan pipinya yang sudah merona.
"Ehmm ehhm." Kenzi melirik sinis Otak yang tengah berdehem-dehem tidak jelas.
"Kepastianya kapan tuh aa Kenzi," ujar Rio, mengeluarkan cengiran iblisnya.
"Jangan lama-lama gantungin anak orang." Otak kembali menyahut.
Kenzi mengumpat pelan, dua sahabatnya itu selalu membicarakan tentang kepastian. Tenang saja, suatu saat Kenzi akan memberikan kepastian untuk Mawar. Walau ia sendiri tidak tahu kapan.
Mata Mawar menangkap seorang jangkung yang berada disamping Rio. Entah kenapa pria itu setiap berempat, ia selalu berada disamping Rio.
"Kenapa mandangin Gibran? " tanya Kenzi, menyadari Mawar memandangi Gibran sedari tadi.
Mawar beralih dengan cepat, lalu menggeleng.
Otak terkekeh. "Gibran malem ini tambah ganteng ya, Mawar? "
"Beda banget sama yang itu. " Otak menjulurkan lidahnya, dan mengarahkan lidah itu kepada Kenzi.
"Cita-cita gue pengen jadi Gibran," celetuk Rio sembarang, membuat Gibran mendengus pelan.
"Kalau jadi Gibran, siap-siap aja leher lo sakit. " ujar Otak, sukses membuat mereka semua menyerngit.
"Kenapa? " tanya Gibran, dengan ekspresi datar.
"Soalnya lo kalau nggak ngangguk ya ngegeleng, nggak pernah bicara, gitu aja terus." Otak malah berciloteh.
Gibran mengatupkan bibirnya, sebelum berkata. "Nggak juga, ini gue bicara."
Kenzi dan Rio bersorak heboh, sama seperti disekolah waktu itu, sampai-sampai para tamu undangan menoleh kearah mereka.
"Mampus lo di skakmat babang Gibran!" Kenzi kembali membully Otak.
"Aaa...babang Gibran! Bangga banget gue punya sahabat kayak lo," ujar Rio bangga kepada Gibran, entah apa yang membuatnya bangga. Rio memeluk Gibran dari samping, membuat Gibran berdecak dan mendorong tubuh pria itu.
"Melati." mereka semua langsung diam, dan menoleh kearah pandang Kenzi, tidak terkecuali Mawar.
"Lo dateng, gue nungguin lo, " ujar Kenzi dengan wajah yang tampak lebih cerah.
Melati tampak gugup, terlebih ada Mawar. "E-iya," ujar Melati diiringi dengan senyuman gugup. "Happy birthday."
Kenzi tersenyum, sambil mengambil kado yang diberikan Melati kepadanya. "Makasi, ya. " lagi-lagi Kenzi kembali mengelus surai hitam milik Melati.
"Happy birthday, Kenzi." Dhita memberikan kado kepada Kenzi sambari mengeluarkan cengiran khasnya.
"Eh, nama lo siapa? " celetuk Otak, memandangi Dhita dengan ekspresi tergiur.
"Dhita," ujar Dhita ramah, menjabat tangan Otak.
"Gue mau sama temen Melati, " ujar Otak memandangi Kenzi.
Kenzi menyerngit. "Lah ngapain lo bilang sama gue? " Kenzi kembali berpaling ke Melati, dengan senyuman khasnya. "Lo cantik banget," lanjut Kenzi memuji, membuat Rio berdehem, seakan memberikan peringatan.
Melati tampak risih berada disini, ia menggaruk-garuk tekuknya sebelum berkata. "Eung...gue kesana dulu," ujar Melati kaku, gadis itu menggigit bibir bawahnya setelah berkata.
"Eh, ngapain disitu? disini aja sama gue. Eh ntar lo pulang sama siapa? " tanya Kenzi antusias.
Melati meringis pelan. "Sama Dhita. "
"Sama gue aja."
Disisi lain Mawar terpaku ditempat, wajah gadis itu pucat mendengar cilotehan Kenzi yang ditujukan untuk Melati. Mawar seakan dilupakan oleh Kenzi, Kenzi seakan menganggap Mawar tidak ada. Lagi-lagi hati Mawar kembali tersakit.
Mawar tetap setia mendengar cilotehan Kenzi yang semakin menjadi-jadi. Bahkan beberapa detik yang lalu Kenzi sempat menggombali Melati. Ditambah lagi dengan Otak yang terus menggoda mereka, membuat Kenzi terpancing.
Mawar menghela nafas berat, seharusnya ia tidak percaya akan janji Kenzi pada malam itu. Seharusnya Mawar tahu, itu semua hanyalah omong kosong.
Tidak mau tersakiti lebih dalam, Mawar memilih untuk menjauh.
Makasi buat yang udah baca sampai akhir. Maaf banget kalau jelek.
Dan jangan lupa rekomendasiin cerita ini keteman-teman kalian, ya...
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
Teen FictionCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
