Jangan lupa tambahin cerita ini ke perpus kalian, ya...
"Loh Mawar kok nggak sama Kenzi? " tanya seorang wanita paruh baya yang berstatus sebagai Mama Kenzi.
Mawar meringis, merasa sedikit gugup dan bingung ingin menjawab apa. "Eh, Tante sama Om kok nggak dansa? " Mawar malah balik bertanya, melihat Papa dan Mana Kenzi secara bergantian.
Mereka berdua terkekeh. "Kita mah nggak bisa gituan, nggak ngerti caranya, " ujar Papa Kenzi membuat Mawar terkekeh kecil, begitu pun dengan Gibran. Papa dan Mama Kenzi lucu, anaknya tengah merayakan ulang tahun eh dia malah nonton tv didalam rumah.
"Mawar, Melati itu siapanya Kenzi? Pacarnya? Perasaan Kenzi nggak pernah cerita soal Melati." tanya Mama Kenzi terlihat serius dan penasaran.
Garis wajah Mawar langsung berubah. "Hm--"
"Kak Mawal, ayo..." Kira menarik tangan Mawar, membuat Mawar mau tak mau menuruti gadis kecil itu.
Sedangkan Gibran tersenyum sopan sebelum melalui kedua orang tua Kenzi.
Setelah bermain bersama Mawar dan Gibran, membuat Kira capek dan mengantuk. Kini Kira sudah terlelap dalam tidurnya. Gadis kecil itu tidur dibuai dengan nyanyian Gibran yang diiringi dengan petikan gitar. Aneh memang, biasanya orang menyanyikan lagu nina bobo untuk menidurkan anak kecil, ini Gibran malah menyanyikan lagu cinta-cinta diiringi dengan petikan gitar.
Merasa Kira sudah benar-benar lelap dalam tidurnya, membuat Gibran menghentikan nyanyian dan petikan gitarnya. Pria itu meletakkan gitar yang ia ambil dari kamar Kenzi ke bagian sudut kamar Kira.
Tatapan Gibran tertuju kepada Mawar yang tengah duduk diatas ranjang Kira, Mawar tengah mengelus-ngelus rambut Kira, membuat gadis kecil itu benar-benar terbuai. Tatapan Gibran mengisyaratkan untuk mengajak Mawar keluar dari kamar Kira. Mawar yang mengerti langsung beranjak dari ranjang Kira dengan hati-hati.
Gibran menutup pintu kamar Kira dengan hati-hati, lalu membalikan badan. Seketika Gibran menyerngit, melihat Mawar yang tengah menahan tawanya. "Kenapa? " tanya Gibran tenang.
"Bilang aja lo malu nyanyi nina bobo, iya'kan? Ngaku lo. " ucap Mawar seakan menghakimi Gibran.
Alis Gibran terangkat, lalu ia tersenyum simpul. "Tapi suara gue bagus'kan? "
Mawar terkekeh sembari malangkah beriringan dengan Gibran. "Lo bisa sombong juga ternyata. "
"Kayaknya pestanya udah selesai deh, Bran." lanjut Mawar, membuat Gibran menggidikkan bahunya.
Kali ini ruangan tamu menampakkan pemandangan yang sangat tidak mengenakkan untuk Mawar. Terlihat sahabat Kenzi dan Kenzi disana, mereka tengah membuka kado. Tidak itu saja, ada Melati dan Dhita juga disana. Mereka berdua juga ikut membuka kado, entah kenapa Mawar jadi muak melihat dua gadis itu. Polos-polos tapi aksinya lancar juga.
"Mawar, lo disini? " ujar Kenzi sedikit terkejut.
Mawar berusaha memasang ekspresi biasa saja. "Iya, gue diajak main sama Kira tadi. Soalnya temen dansa gue nggak ada," ujar Mawar tenang, berhasil membuat suasana jadi tegang dan mencekap.
Kenzi berusaha untuk santai, pria itu mencoba untuk tersenyum. "Oh iya, lo kesini dianter bang Cakra'kan? Sekarang biar gue yang anter lo pulang, ya? "
Rio menghela nafas panjang, capek dengan semua drama Kenzi. "Jangan plin-plan, Ken. Tadi lo bilang lo mau nganter Melati pulang, tapi sekarang Mawar. Sebenarnya lo mau yang mana sih? "
Mawar tersenyum miris mendengar itu. "Dia emang gitu, yo. Seanaknya aja, seakan-akan dunia ini milik dia. "
Untuk pertama kalinya Mawar melihat Melati dengan tajam, membuat gadis itu langsung menunduk. Mawar menghela nafas berat, lalu menarik tangan Gibran untuk menjauh dari mereka semua.
"Lo kalau mau nangis, nangis aja. Jangan ditahan, ntar rasanya makin sakit," ujar Gibran dengan suara lambat kepada Mawar yang pandangannya tajam kedepan, entah apa yang dipikirkan gadis itu.
"Jangan dipendam, ntar hati lo tambah sakit," lanjut Gibran menatap Mawar dari samping.
Mawar melihat Gibran dengan lekat, perlahan satu-persatu bulir air itu jatuh dari pelopak mata Mawar. Gibran langsung membuang muka, tidak tega melihat Mawar menangis seperti ini. Disisi lain Gibran menggerutui dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kenzi jahat, Bran," ujar gadis itu dalam tangisannya.
Gibran menghela nafas panjang, perlahan tangan pria itu terulur untuk menghapus air mata Mawar. "Lo hebat, bisa bertahan sampai disini." Gibran mencoba untuk tersenyum menguatkan Mawar.
Tangisan Mawar tersendak-sendak. "Gue cengeng, Bran? " Gibran tersenyum, sembari menggeleng pelan.
"Gue nggak lebai'kan nangisin Kenzi yang udah giniin gue?" gadis itu terus berucap dalam tangisannya.
Lagi-lagi Gibran tersenyum, pria itu kembali menggeleng pelan. "Lo nggak cengeng, dan lo nggak lebai. "
Perlahan tangisan Mawar merada, mungkin sekarang yang tersisa hanyalah sesegukan kecil tanpa air mata. Rasa sakitnya kini mulai mereda, karena Mawar telah mengeluarkannya dalam bentuk air mata.
"Udah? Kita pulang, yuk," ujar Gibran begitu lembut, dan menenangkan. Pria itu menarik lembut tangan Mawar, dan Mawar menurut begitu saja.
"Gue nggak nyusahin lo 'kan, Bran? " tanya Mawar menghapus sisa-sisa air matanya.
Gibran menggeleng. "Nggak, lo nggak nyusahin gue."
"Bran...makasi, ya. Lo udah nenangin gue. "
Gibran langsung menoleh, alis pria itu terangat. "Gue udah nenangin lo? " tanya Gibran seakan tidak percaya dengan ucapan Mawar barusan.
Mawar mengangguk. "Kenapa? Kok lo gitu? "
Gibran menggeleng, lalu perlahan ia tersenyum. Tangan Gibran terangkat, dan mengusap lembut surai hitam Mawar. "Lo kalau ada apa-apa bilang sama gue, ya."
Mawar tersenyum, lalu mengangguk. "Makasi, Kak Gibran. "
Maaf banget kalau jelek, dan makasi banyak buat yang udh baca sampai akhir.
Jangan lupa vote ya dan jangan lupa tambahin ke perpus kalian juga
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
أدب المراهقينCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
