Jangan lupa vota...
Mereka kini dirumah Rio, tanpa kehadiran Kenzi. Sebenarnya hanya Otak dan Rio lah disini, tapi beberapa menit yang lalu Gibran dan Mawar datang membawa bakso mang udin yang dibungkus. Membuat Rio dan Otak mengucapkan ribuan terima kasih.
Bakso memang paling enak disantap disaat cuaca dingin seperti ini.
"Mawar, lo pernah nggak digombalin Gibran? " tanya Otak, sambil menikmati bakso yang ia makan.
Mawar menelan makanan yang ada didalam mulutnya. "Nggak, " jawab Mawar santai.
"Ngode, minta digombalin tu, Bran, " ujar Rio, menyikut siku Gibran, membuat Gibran berdecak keras.
"Emang temenan sama Gibran itu asik, ya Mawar? Kalian kalau berdua ngomongin apa aja? " tanya Otak bertubi-tubi, karena ia begitu penasaran bagiamana Mawar bisa akrab dengan Gibran yang sangat jarang berbicara.
"Kalau diatas motor kalian ngomongin apa aja? " Rio juga ikut bertanya.
Mawar terkekeh pelan. "Eh, Otak, kok lo nanya asik apa nggaknya temenan sama Gibran? Lo 'kan sahabatnya, jelas lo lebih tau lah. "
Gibran meneguk air putih yang disediakan Rio. "Emang temanan sama gue nggak asik, Tak? " kali ini Gibran yang bertanya.
"Kalau berdua sama lo doang mah nggak asik, tapi kalau sama-sama asik," ujar Otak kelewat jujur, membuat Mawar tertawa.
Rio mengangguk, pertanda setuju. "Kalau bareng lo itu banyak diemnya, jadi canggung. Kayak-kayak orang yang lagi pdkt. "
"Eh tapi, sekarang lo kayak udah mulai banyak bicara deh, Bran, " ujar Otak, jadi serius.
Rio kembali mengangguk, lalu terkekeh. "Lo sekarang udah sering ngejawab omongan Kenzi. "
"Buat belain Mawar pastinya." Otak tersenyum, melihat Gibran dengan alis yang naik turun, membuat Gibran langsung berpaling dengan raut wajah jijik.
"Gue heran deh sama kalian. Kenapa kalian seakan jodoh-jodohin gue sama Gibran gitu, " ujar Mawar, membuat Gibran langsung melihat kearahnya.
"Soalnya Gibran lucu kalau kesal. " Otak tertawa kecil, lalu menekan-nekan pipi Gibran, membuat Gibran berdecak lalu berpindah duduk sembari mengangkat mangkuk baksonya.
"Eh, itu bukannya suara Kenzi," ujar Rio dengan mata menyipit seakan berusaha mendengar suara yang berasal dari lantai bawah.
Benar saja, beberapa saat kemudian seorang remaja yang masih mengenakan seragam sekolah memasuki kamar Rio.
Seketika alis Kenzi terangkat, melihat sosok Mawar ada didalam kamar Rio. Tidak biasanya gadis itu ikut bergabung. Kenzi sudah menduga, pasti Gibran yang membawa gadis itu kesini. Terlebih mereka berdua juga masih mengenakan baju sekolah, pertanda mereka usai dari suatu tempat.
"Dari mana, Bran? " tanya Kenzi sembari mendudukan bokongnya disamping Otak.
Gibran hanya menggeleng kecil sembari mengunyah, membuat Kenzi mengumpat dan menghantam lambat dengkul Gibran menggunakan kakinya.
Sedangkan Mawar sedari tadi memperhatikan Kenzi, entah kenapa kali ini ia begitu terpesona kepada pria yang telah membohonginya itu. Terlebih rambut hitam pekat Kenzi kini tampak basah, membuat kadar ketampanan pria itu naik drastis.
Seketika Mawar mengalihkan pandangan ketika tatapannya dengan Kenzi bertemu. Didalam hati Mawar mengumpat, menyadari Kenzi tidak sama lagi seperti dulu. Kenzi yang ada didalam satu ruangan dengannya ini adalah sosok Kenzi yang baru, sosok Kenzi yang tengah mencintai gadis yang bernama Melati bukan Mawar.
Alis Kenzi terangkat, menyadari ternyata sedari tadi Mawar memperhatikannya. Tapi Kenzi tampak tidak ambil pusing soal itu.
"Lo sama Gibran udah baikan, Ken? " tanya Otak.
"Lo tanya aja sama dia," ujar Kenzi acuh, sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celana. "Eh, kalian nggak lebihin baksonya buat gue?" suaranya Kenzi tampak kesal.
"Kita aja dibeliin Gibran sama Mawar." jawab Rio yang tampak fokus menyantap makanannya.
Kenzi mengangguk, lalu kembali melihat kearah Gibran yang tengah fokus makan. "Lo dari mana kunyuk?" entah kenapa Kenzi jadi kepo.
"Lo itu sebenernya nggak pengen tau Gibran dari mana, lo itu cuman kepo kemana Gibran ngebawa Mawar tadi 'kan? " ujar Rio jadi panjang lebar.
"Lo dari mana emang? Kenapa masih pake baju sekolah? " Gibran malah balik bertanya kepada Kenzi.
"Gue tadi nemenin Melati kerja. " beberapa saat kemudian Kenzi jadi tersenyum, lalu menegakkan tubuhnya. "Kalau gue nembak Melati gimana? " lanjut pria itu jadi semangat. "Kasih ide tempat yang romantis dong. "
Gibran menipiskan bibirnya, lalu diam-diam pria itu melirik Mawar. Mawar tampak menghentikan makannya, gadis itu terpaku dengan pandangan lurus kedepan. "Bisa nggak sih bahas ini nanti aja, " ujar Gibran, membuat Kenzi berdecak kesal.
Rio mengangguk setuju, karena mengingat ada Mawar disini. Sedangakan Otak, pria itu malah tampak semangat. "Tembak aja, gue dukung! Tapi jangan lupa pj nya. " ujar Otak, sembari menampungkan tangannya, dan jangan lupakan alis pria itu yang turun naik, membuat Kenzi mengumpat kecil.
"Kalau masalah pj tenang aja. Satu sekolah bakal gue traktir, kalau gue udah jadian sama Melati, " ujar Kenzi santai, tanpa memikirkan ucapannya yang membuat hati Mawar terluka.
Mawar hanya bisa tersenyum samar. Kalimat yang diucapankan Kenzi berusan juga pernah Kenzi ucapkan beberapa minggu yang lalu. Ketika Cery meminta pj jika ia sudah jadian dengan Mawar. "Tenang aja, Cer. Satu sekolah bakal gue traktir, kalau gue udah jadian sama Mawar, " ujar Kenzi dengan bangganya, waktu itu.
"Mawar, gue nggak apa-apa 'kan jadian sama Melati? L--lo udah nggak suka lagi 'kan sama gue? " tanya Kenzi, membuat Mawar tersentak.
Mawar berusaha untuk sebiasa mungkin, jangan sampai air matanya keluar. Mawar tersenyum hambar, lalu membuka mulut untuk berkata. Tapi suara Gibran lebih dahulu terdengar.
"Ngapain lo nanya sama Mawar? " Gibran menganggap pertanyaan Kenzi barusan hanya mengundang rasa sedih untuk Mawar.
Kenzi berdecak kecil, lalu menggaruk-garuk lehernya yang tidak gatal. "Ya...gue cuman mau mastiin aja. "
Mawar tersenyum hambar. "Lo kalau suka sama Melati, jadian aja. Nggak apa-apa. " suara itu terdengar begitu bergetar. "Gue u--" Mawar tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena air matanya keluar. Membuat Mawar langsung berdiri, lalu pergi menjauh.
Gibran mengumpati Kenzi. "Udah gue bilang, jangan bahas ini dulu," ujar Gibran dengan mata yang menajam kearah Kenzi. Setelah berkata seperti itu Gibran pergi menyusul Mawar.
Maaf banget kalau jelek.
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
Fiksi RemajaCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
