Jangan lupa vote...
Kenzi menggigit bibirnya bawahnya, sembari melihat Mawar dari samping. Suasana diam saat menuju parkiran membuat Kenzi tidak nyaman.
"Mawar. "
"Hhm. "
Kenzi mencibir, sedikit kesal dengan jawaban Mawar yang terlalu singkat dan tidak sesuai dengan ekspektasinya. "Ck. Akibat sering gaul sama Gibran, ketularan kalemnya. "
"Eh, lo didepan gudang waktu itu sama Gibran ngapa-ngapain aja? Pasti Gibran sering modusin lo, ya? " celetuk Kenzi panjang lebar, membuat Mawar berdecak dan menghentikan langkah.
Mawar memandangi Kenzi dengan malas. "Lo kenapa sih jadi nistain Gibran gini? Padahal dia baik banget loh sama lo. " Mawar melipat tangan didada, gadis itu memasang wajah sinis.
Kenzi kembali mencibir, tidak setuju dengan ucapan Mawar barusan. "Baik dari hongkong! "
"Eh, sebenernya gue masih nggak mau bicara sama lo, ya. Untung Gibran ngasih tau aja kalau lo donorin darah lo buat gue. "
"Oh jadi lo mau bicara sama gue cuman karena lo ngerasa berhutang budi sama gue gitu? " raut wajah Kenzi benar-benar berubah menjadi datar, membuat Mawar memikirkan kembali ucapannya yang tadi.
"Gue salah ngomong? " batin gadis itu.
Mawar berdehem, mencoba untuk mengendalikan ekspresinya. "E-enggak, gu-gue ma--"
"Yaudah." potong Kenzi, sukses membuat Mawar bingung dan menekuk dagu kedalam.
Ekspresi Kenzi masih datar, membuat Mawar jadi menggerutui dirinya yang telah berkata seperti tadi. Mawar berlari kecil menyamakan langkahnya dengan Kenzi yang berjalan lebih dulu. "Lo marah? "
"Gue nggak bisa marah sama lo. " bola mata Mawar membesar mendengar itu, lalu ia mengangguk kecil.
"Gibran bilang apalagi sama lo? " tanya pria itu tenang, melihat Mawar sekilas.
"Eung..." Mawar menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal. "Gibran bilang...kalau lo akhir-akhir ini sering nangis. "
"HAH? " kaget Kenzi, pria itu langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar pernyataan dari Mawar barusan. "Dia bilang gitu?! " suara Kenzi meninggi. Kenzi menyeka wajahnya dengan gusar, lalu ia menghela nafas panjang. Didalam hati ia mengumpati Gibran yang berbicara seenaknya, walau itu sesuai dengan realita.
"Kenapa lo marah? Malu lo? Tadi aja lo nangis depen gue. "
Kenzi berdecak keras, tangan pria itu menyentil lambat kening Mawar. "Jangan diperjelas juga kali." gemes pria itu.
"Gue nangis karena gue bener-bener nyesel. " ungkap Kenzi jujur. "Sekarang hati gue bener-bener buat lo, sekarang gue serius, " lanjut Kenzi, sembari kembali melangkahkan kakinya. "Lo percaya 'kan sama gue? "
"Kurang," jawab Mawar polos, membuat Kenzi berdecak dan mengacak gemes rambut gadis itu.
"Eh, pas gue bikin lo nangis gue minta maaf sama lo. Kenapa pas udah bikin gue nangis lo santai aja? " celetuk Kenzi, terdengar kesal.
Mawar mengerjap-ngerjap, beberapa detik kemudian ia tertawa kecil sembari mendorong tubuh pria yang ada disampingnya itu. "Ini lo kebanyakan gaul sama Otak nih," ujar Mawar, masih dengan tawaannya.
Kenzi tersenyum simpul, sudah cukup lama ia tidak melihat Mawar tertawa lepas seperti ini. Terlebih tawaan itu muncul karena dirinya, membuat hatinya menghangat seketika. "Lo tuh kebanyakan gaul sama Gibran! Ngapain-ngapain pasti Gibran. Minta temenin kemana pasti mintanya sama Gibran," ujar Kenzi, mengungkit-ungkit, membuat Mawar mencibir dan menghentikan tawaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
Roman pour AdolescentsCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
