Jangan lupa vote...
"Ck, macet. " udah macet, hujan lagi, manusia mana yang tidak kesal jika berada dalam situasi ini, terlebih ada seorang gadis yang duduk dijok belakang, tentu gadis itu kedinginan.
Gibran menghela nafas panjang, memandangi jalanan yang dipenuhi oleh kendaraan yang berangsur-angsur bergerak. Gibran kembali berdecak, sembari melepaskan sebelah tangannya dari stang motor. Ia menggaruk-garuk rahanganya, dengan pandangan kejalan kecil yang terbuat dari semen.
"Kita lewat jalan pintas aja gimana? Tapi agak jauh." pria itu sedikit menoleh kebelakang, meminta persetujuan.
Mawar mengangguk, sembari menyeka wajahnya yang dibasahi oleh air hujan. "YAUDAH NGGAK APA-APA." teriak Mawar tepat pada telinga Gibran.
Gibran berdecak, sambil mengusap-ngusap telinganya yang berdenging. "Nggak gitu juga kali teriaknya, " kesal Gibran dibalas tawaan kecil oleh Mawar. "Kalau lo kedinginan peluk aja gue. " Gibran tersenyum sembari memicingkan matanya sebentar, tidak percaya ia bisa mengatakan kalimat itu.
Matahari mulai menampakkan dirinya, walau rintik-rintik kecil masih turun kebumi. Hujan tidak hanya bisa membuat kita demam, tapi ia juga bisa membuat keindahan yang tidak ada taranya. Lihatlah sekarang, langit begitu indah menampakkan lengkungan warna-warni, membuat siapapun yang melihatnya berdecak kagum.
"Wah...keren banget! " Mawar terkagum-kagum melihat pelangi yang begitu jelas didepan matanya. Tidak itu saja, ketika Mawar menoleh kekanan, ia akan melihat gunung yang begitu jelas dan indah. Dan jangan lupakan sawah hijau yang membentang disekitar jalanan, benar-benar membuat mata sejuk. Udara sejuk karena habis hujan membuat Mawar seakan-akan tengah berada diperdesaan.
Tidak Mawar saja yang menikmati, tapi Gibran juga. Gibran sedikit memelankan laju motornya, sesekali pria itu mendongak melihat pelangi.
"Bran, brenti dulu, yuk. " ujar gadis itu sedikit merengek. "Sayang banget kalau dilewatin ini mah. "
"Lo nggak kedinginan?" Mawar langsung menggeleng cepat, membuat Gibran mau tak mau menghentikan motornya.
Mereka berdua tampak duduk menyamping diatas motor, dengan pandangan kearah pelangi.
"Keren banget, Bran. " Gibran hanya tersenyum, melihat Mawar sekilas lalu kembali memandangi pelangi.
"Mawar, coba lo liat kebelakang. " Mawar langsung menoleh kebelakang, gadis itu menganga kecil seakan terkesima begitu saja, melihat gunung yang membentang dengan jelas.
"Pelangi itu indah, tapi keindahan itu hanya bersifat sementara. Lo mau tau, apa yang indah tapi bersifat abadi? "
Mawar langsung menoleh, melihat Gibran dengan senyuman. "Apa?"
"Cinta. Cinta sejati. Jika seseorang mengaku mencintai, tapi ketika ditinggal rasa cinta itu hilang, pertanda ia tidak benar-benar mencintai."
Mawar tidak menjawab, ia hanya tersenyum memandangi Gibran. Perlahan tangan gadis itu terangkat, menepuk-nepuk kepala Gibran.
Gibran yang mendapat perlakuan seperti itu dari Mawar hanya bisa tersenyum, lalu dengan lembut ia menyingkirkan tangan Mawar. "Ntar gue bisa bodoh, lo tepuk-tepuk gitu kepala gue." Mawar tertawa terbahak-bahak, lalu mendorong kesal tubuh Gibran, membuat pria itu langsung turun dari motor.
Desirin angin menyapa kulit Mawar, membuat gadis itu langsung bergidik kedinginan sembari merapatkan jaket yang ia pakai. "Dingin. " ujar gadis itu, sembari meringis pelan.
"Yaudah balik, yuk. Ntar masuk angin lagi. " Mawar manganguk, lalu turun dari motor.
"Eh, btw lo tau tempat ini dari siapa?" tanya gadis itu, sembari menerima helm dari Gibran.
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
Ficção AdolescenteCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
