Jangan lupa voteeee
Gibran menuruni anak tangga rumahnya dengan cepat, dan jangan lupakan tangannya yang memeluk jaket. Jaket itu akan dipinjamkannya kepada Mawar, karena entah kenapa Gibran tidak ingin Mawar kedinginan.
"Ini pake, " ujar Gibran sambil mendekatkan jaket itu kepada Mawar.
Mawar sedikit tersentak, gadis itu mengerjap pelan lalu tangannya terulur mengambil jaket itu. "Makasi, ya. " Gibran mengangguk.
"Mama mana, Pa? " tanya Gibran kepada sang Papa.
"Lagi nyuci piring, " jawab sang Papa sambil menggerakan dagunya kearah dapur.
Gibran mengangguk, sebelum berkata. "Yaudah, Gibran nganter Mawar dulu, bilangin sama Mama. "
"Iya, hati-hati. Jangan ngebut. "
Mawar mencoba tersenyun, mendekat ke Papa Gibran berniat menyalami pria itu. "Aku balik dulu, ya Om." Papa Gibran membalas dengan anggukan, lalu mengelus surai hitam Mawar, ketika gadis itu menunduk menyalaminya.
Selama didalam mobil tidak ada yang membuka mulut. Gibran tampak fokus menyetir, sedangkan Mawar tengah berdebat dengan pikirannya, pandangannya sedari tadi hanya kekaca samping. Memikirkan kejadian tadi siang, dimana Kenzi memutuskan untuk berhenti berjuang. Mawar tidak menyangka itu akan terjadi, ia pikir Kenzi akan benar-benar berjuang, mengingat janji manis yang sering Kenzi ucapankan.
Gibran mengetuk-ngetuk kecil jarinya pada stir mobil, sekilas pria itu menoleh kepada Mawar.
"Lo mikiran apa? " tanya Gibran, mengalihkan pandangannya ke jalanan didepan.
Mawar menggeleng. "Eh, Bran, lo mau nggak kita berenti dulu, ditempat bakso mang udin. " ujar Mawar semangat. "Dingin-dingin enak kayaknya makan bakso. "
Gibran seakan berfikir, kening pria itu mengkerut mendengar Mawar menyebutkan nama penjual bakso yang cukup familiar baginya. "Bakso mang Udin? " tanya Gibran semangat. "Gue tau itu. Baksonya emang gila enaknya. "
"Lo juga sering makan bakso disitu? "
Gibran mengangguk semangat. "Kenzi bawa gue kesitu awalnya. " Mawar hanya mengangguk ketika nama Kenzi disebut.
Gibran memberhentikan mobilnya didekat penjual bakso pinggir jalan itu. Ia turun dari mobil, tapi pria itu seketika menyerngit, memandangi mobil putih yang penuh dengan lumpur.
"Ini bukannya mobil Rio? " tanya Gibran kepada Mawar.
Mawar mengatupkan bibirnya sebelum berkata. "Nggak tau, yakali mobil Rio sekotor ini. " Ujar Mawar dibalas anggukan kecil oleh Gibran.
"Lah bener itu mobil Rio. Itu mereka ada disana. " Gibran menunjuk tiga remaja yang tengah tertawa-tawa, entah apa yang mereka bicarakan.
Mawar mengikuti arah tunjuk Gibran, meresa tertembak sendiri melihat Kenzi juga ada disana. Mawar seakan kaku begitu saja.
"Jadi makan nggak? " tanya Gibran lambat, yang dibalas anggukan oleh Mawar.
"Jadi, " jawab Mawar membuat Gibran mengangguk, lalu pria itu mendahului Mawar.
"Wih...Abang Gibran, sama siapa kesininya tuh." Otak menyambut kedatangan Gibran dengan pertanyaan yang ia ucapakan begitu semangat.
"Wah, main gas aja nih, Bran," ujar Rio, memandangi Gibran dengan bangga.
Gibran berdecak, teman-temannya ini terlalu lebai. "Kalian dari mana? Kok masih pakai sekolah? " tanya Gibran sembari menggaruk-garuk pipinya, sedikit bingung dengan para sahabatnya yang masih mengenakan baju sekolah, padahal hari sudah malam.
"Kita tadi nemenin Kenzi nganter Melati pulang. Pake mobil gue, jalan rumahnya becek banget. Lo liat tuh mobil gue. " Rio jadi berciloteh, mengarahkan dagunya ke mobil putihnya yang terlihat begitu kotor.
Awalnya Kenzi berniat dirinya sendiri yang mengantar Melati pulang dengan motornya. Tapi ditengah jalan hujan turun, membuat mereka berhenti dirumah Rio. Hampir dua jam Kenzi menunggu hujan reda, tapi sialnya hujan tidak bisa diajak kerja sama. Hujan terus turun, membuat dirinya mengantar Melati menggunakan mobil Rio, dan Kenzi mengajak dua sahabatnya itu untuk ikut.
"Kalian dari mana? " kali ini Kenzi yang bertanya, ekspresi pria itu tampak datar.
Sekilas Gibran menoleh ke Mawar yang ada disampingnya. "Dari rumah gue." ucapan Gibran barusan membuat Otak dan Rio bersorak heboh, tapi tidak dengan Kenzi, pria itu kini tampak memainkan ponsel.
"Lo mau duduk disini? " tanya Gibran pada Mawar, Mawar membalas dengan anggukan.
Gibran membalikkan badannya, melihat ke mang Udin yang tengah menyiapkan pesanan. "Mang, satu porsi ya, pedes. "
"Siap den ganteng! " ujar Mang Udin semangat, walau dirinya tidak menoleh kearah Gibran.
"O satu lagi, hmm..." mata Gibran menyipit, lalu ia menoleh kepada Mawar, seakan bertanya.
"Nggak pedes, sama nggak pake seledri. " Kenzi menyahuti, membuat Gibran menoleh kearahnya, dan jangan lupakan Rio dan Otak yang bersorak heboh.
"Tahan Bos!! " ujar Otak menepuk-nepuk dada Kenzi.
"Lo apasih Ken, belum cukup sehari, udah nyesel aja," ujar Rio membuat Kenzi mengumpat lalu pria itu kembali fokus ke ponselnya.
Tidak lama kemudian pesanan Gibran dan Mawar datang, membuat mereka langsung menyantapnya. Berbeda dengan Kenzi, Rio, dan Otak, pesanan mereka lebih dulu datang, membuat bakso mereka tinggal separuh.
"Lo kalau mau sama Mawar, gas aja Bran. Gue dukung sumpah, " ujar Otak sambil menguyah bakso yang ada didalam mulutnya.
Gibran berdecak, menepis tangan Otak yang menepuk-nepuk bahunya. "Lo apasih," kesal Gibran.
"Eh, jaket itu gue perasaan kenal deh." Rio mengulum senyum, memandangi jaket yang dikenakan Mawar.
"O...Itu 'kan jaket kesayangan Gibran, yang nggak boleh kita pinjem," Ujar Otak, mengangguk-angguk sembari tersenyum menggoda Gibran.
"O iya. Tapi ke Mawar kenapa dipinjemin, ya? " sahut Rio kembali, dengan nada bicara yang ia lebai-lebai'kan.
Gibran berdecak keras. "Kalian bisa diem nggak sih?!"
"Panas nggak, Ken? " tanya Rio sembari mengipas-ngipasi Kenzi menggunakan telapak tangannya.
Kenzi mengumpat, menyingkirkan tangan Rio dengan kasar. "Gue udah punya Melati, " ujar Kenzi tegas, membuat Mawar menghentikan kunyahannya. Anak panah terasa tertusuk tepat pada hati Mawar, membuat hati terasa sakit dan perih. Tapi Mawar mencoba untuk tenang, ia kembali melanjutkan makannya.
"Cepat banget habis, ya? " Gibran terkekeh, melihat Mawar yang sudah menghabiskan samangkuk baksonya. "Emang makan dirumah tadi nggak kenyang? "
Mawar tidak bersuara, gadis itu hanya mengeluarkan cengiran khasnya.
"O...Jadi Mawar makan dirumah lo tadi? " sahut Otak, dengan nada bicara yang sengaja ia lebai-lebaikan.
Gibran hanya menghela nafas, capek dengan teman-temannya yang terus menyahuti.
Maap jelek. Dan terima kasih banyak buat teman-teman yang udah ngebaca sampai akhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
Teen FictionCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
