Jangan lupa vote...
Mawar menghela nafas capek sembari menutup ruangan osis. Sang ketua osis yang tengah berada diluar kota, membuat Mawar mengurus semuanya. Sampai-sampai Mawar tidak masuk kelas seharian ini. Tapi tidak apa, guru-guru yang mengajar pasti mengerti.
Sekolah sudah tampak sepi, karena lonceng pulang sudah berbunyi lima belas menit yang lalu.
Mawar mulai melangkahkan kakinya, sembari mengeluarkan benda pipih dari saku kemeja sekolahnya.
Kenzi: lo dimana?
Kenzi: ketemu gue bentar bisa?
Mawar: nggak, udah mau hujan. Gue harus cepat-cepat pulang
Kenzi: gue tunggu di belakang kelas kita
Kenzi: ada yang mau gue omongin, penting
"Lo mau ngomongin apa? " tanya Mawar dengan ekspresi datar.
Kenzi yang tengah merunduk memandangi ponsel kini mendongak, sembari menyimpan ponsel kedalam saku celana abu-abu yang ia pakai.
Kenzi menghela nafas, menyeka wajah dengan telapak tangan lalu membuang muka kesamping. Kenapa ia jadi tidak tega seperti ini. Tapi mau sampai kapan ia terus-terusan seperti ini.
Kenzi membasahi bibirnya, sebelum berkata. "E Mawar..." Kenzi meringis, bingung ingin berkata apa, disisi lain mulutnya terasa berat untuk mengucapkan kalimat yang ia susun tadi malam.
Mawar berdecak. "Mau ngomong apa? Ini udah mau hujan. "
"Mawar..." Kenzi memegang kedua bahu Mawar, menatap gadis itu dengan lekat. "Gue udah berjuang sejauh ini. Apapun udah gue lakuin, biar gue bisa suka sama lo. Tapi tetap aja hati gue ngenolak lo. Dan sekarang..." Kenzi meneguk ludahnya. "Waktunya gue nyerah, gue capek. "
Mawar meneguk ludahnya, badannya terasa dingin seketika. Mawar menggeleng. "Ken...lo--" belum selesai Mawar menyudahi ucapannya, tapi bulir-bulir air sudah berjatuhan. "Mana janji lo? " lirih Mawar dalam tangisannya.
"Gue nggak bisa maksain diri gue buat cinta sama lo. Itu ngebuat gue menderita, gue harap lo ngerti, ya. "
Mawar menggeleng. "Yang capek nggak lo doang, tapi gue juga..." lirih Mawar menatap mata Kenzi dengan leket.
Kenzi meneguk ludahnya, tangan pria itu terulur untuk menghapus air mata Mawar. "Iya, karena itu gue mau berenti. Buat apa kita capek-capek, sedangakan perasaan itu hanya muncul secara sepihak. "
Mawar menyingkirkan tangan Kenzi dari wajahnya. "Gue udah capek nunggu lo selama ini, dan lo malah seenaknya aja berenti. Lo nggak mikirin perasaan gue? "
Kenzi menghela nafas panjang. "Kalau gue mikirin perasaan lo, perasaan gue gimana? "
"Gue cintanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." lanjut Kenzi, membuat mata Mawar menajam kearahnya.
"Gue udah berusaha buat cinta sama lo, tapi gue malah cintanya sama Melati. Maaf, ya. " Tangan Kenzi kembali terulur menghapus air Mawar.
"Sekarang..." Kenzi menghela nafas berat. "Kita saling ngejauh, ya. Makasi udah berjuang sejauh ini. "
Mawar masih menggeleng, gadis malang itu menghapus air matanya dengan kasar. "Gue cinta sama lo, gue bakal nunggu lo putus sama Melati. "
"Terserah lo, mau tetap nyimpan rasa itu atau nggak. Yang jelas, gue bakal memperjuangkan cinta gue buat Melati. " Kenzi menghela nafas berat, lalu melangkahkan kakinya pergi. Meninggalkan Mawar yang masih terisak sendiri.
Sambil melangkah Kenzi berdebat dengan pikirannya, salahkan ia mematahkan hati seorang gadis yang mencintainya? Tujuan Kenzi hanya satu, yaitu ia ingin berjuang dan bahagia bersama gadis yang ia cintai, yaitu Melati.
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
Novela JuvenilCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
