Jangan lupa vote
Dua bulan kemudian...
Rasanya baru kemarin Kenzi meninggalkan rumah, dan sekarang pria itu kembali lagi ketempat yang nyaman itu, rumah. Banyak kenangan yang diukir oleh Kenzi dan keluarga dikota Padang. Tentu kenangan itu diabadikan dalam bentuk foto, yang kini sudah terpajang indah didinding rumah Kenzi.
Berlibur dikota Padang dan sekitarnya memang mengasyikan. Tapi tentu ada saja yang membuat Kenzi sedih dan merasa gundah disana. Setiap malam ia selalu meneteskan air mata, mengingat gadis cantik yang bernama Mawar. Entah sampai kapan Kenzi dan gadis itu memiliki huhungan yang buruk seperti ini. Yang Kenzi inginkan sekarang hanyalah Mawar bisa memaafkannya, tidak apa Mawar tidak bisa seperti dulu lagi
Bukannya istirahat Kenzi kini malah pergi kerumah Rio, bergabung dengan Gibran dan Otak yang kebetulan berada disana. Sebenarnya Sang Papa melarang Kenzi untuk keluyuran diluar, tapi Kenzi tetap bersikeras untuk keluar, dengan dalih memberikan oleh-oleh untuk sahabatnya.
"Kita tanpa lo, beuh! enak bener! " ujar Otak semangat, mengangkat jempolnya dengan dramatis.
Rio mengangguk, membenarkan. "Kayak gimana, ya? Susah dijelaskan pokoknya. Yang jeles seneng aja, kayak nggak ada yang kurang gitu. " Rio kini tampak membuka bungkus oleh-oleh yang baru.
"O'oh, lagian lo nggak terlalu berpengaruh, Ken. "
Gibran yang tengah mengunyah hanya diam, mendengarkan ocehan dari Rio dan Otak. Gibran meneguk sirup orange yang disediakan Rio. "Kebalikannya, ken. Ngerti 'kan? " ujar pria kalem itu, selesai berucap ia kembali meneguk sirup orange itu.
Kenzi mengerjap-ngerjap, lalu beberapa detik kemudian Kenzi tertawa terbahak.
"Udah yakin gue, Bran. Kalian pasti bosen nggak ada gue 'kan? " ucap Kenzi percaya diri.
Otak mencibir, lalu kembali menjangkau sanjai, dan langsung memasukan kedalam mulutnya. "Bosen nggak, tapi kayak ngerasa ada yang kurang iya. " sembari mengunyah Otak berkata jujur. "Gue bilang gitu biar lo seneng. Anggep aja itu ucapan terima kasih gue buat lo yang udah bawain kita oleh-oleh. " lanjut pria itu, membuat Kenzi mengumpat dan menghantam lambat dengkul Otak.
Kenzi yang tengah memainkan ponsel Gibran kini jadi menyerngit, mengetahui ada notifikasi yang masuk dari Mawar. Ponsel Gibran yang dalam mode diam, membuat pria jangkung itu tidak mengetahui pesan yang masuk.
Mawar: jemput gue ditempat les dong
Mawar:please
Mawar: abang gue lagi dirumah temennya
Kenzi menghela nafas berat, didalam hatinya tersemat niat jahat. "Gue hapus aja ya pesan dari Mawar ini? Trus biar gue yang jemput dia. " lagi-lagi Kenzi menghela nafas berat. Kini ia memandangi Gibran yang tengah menikmati oleh-oleh yang ia bawakan dengan tenang.
Kenzi menggigit bibir bawahnya, lalu ia menekan lama pesan baru yang dikirim'kan Mawar. Tangan pria itu perlahan bergerak, untuk memencet logo sampah. Tapi seketika ia mengumpat, ia mengurungkan niatnya. Kurang ajar sekali ia, terhadap Gibran yang begitu baik kepadanya. Walau mereka menyukai gadis yang sama, tapi Gibran tidak pernah menganggapnya sebagai saingan untuk mendapatkan hati Mawar.
"Bran, Mawar ngechat lo," ujar Kenzi sembari menjulurkan tangan, berniat memberikan ponsel kepada Gibran. "Dia minta jemput. "
Sembari mengunyah Gibran memandangi Kenzi, jelas sekali ada kesedihan diwajah pria itu, berbeda sekali dengan tadi. "Lo aja yang jemput. "
Kenzi mengerjap, lalu beberapa detik kemudian pria itu tampak mengulum senyum, dan pandangannya kembali beralih kebenda pipih yang ia pegang.
Gibran: Kenzi aja yang nganter lo gimana?
Mawar: kalau gitu gue sama angkot aja deh
Gibran: iya2 gue jemput nih
Kenzi menghela nafas berat, Mawar benar-benar tidak menginginkan dirinya lagi. "Bran, dia maunya sama lo. " Kenzi melempar pelan ponsel kearah Gibran, membuat Gibran melihatnya dengan sinis sembari berdecak.
"Lo udah ketemu sama Mawar? " tanya Gibran, sembari mengenakan jaket levis miliknya.
Kenzi berdecak kecil. "Gue pas sampe langsung kesini gobs! Gimana caranya gue ketemu sama dia, lagian dia juga nggak bakal mau ketemua sama gue. "
Rio tertawa geli. "Kisah cinta lo miris banget ternyata, Ken. "
Otak mengangguk, menginyakan. "Kasian gue liatnya." ledek pria itu, ikut tertawa geli.
Sedangkan Kenzi mengumpat, jadi membuang muka kesamping. "Selama gue nggak disini Gibran sama Mawar makin deket, ya? " Kenzi berkata seperti itu ketika Gibran sudah keluar dari kamar Rio.
Rio mengangguk. "Disekolah mereka sering berdua. "
"Ngapain disekolah, diluar aja mereka sering berdua. Lagian Mawar kalau mau ngapa-ngapain pasti manggil Gibran. " jelas Otak. "Ke kantin aja dia ngajak Gibran, kadang Gibran juga. Bener 'kan, Yo. " lanjut Otak dibalas anggukan oleh Rio.
"Yang namanya Kenzi Aditya Putra itu udah nggak ada dalam hidup Mawar," ujar Rio, memandangi Kenzi dengan raut wajah mengejek.
"Nah bener tuh. " Otak jadi semangat. "Lo sekarang kayak udah nggak dianggap gitu sama Mawar. Buktinya dia aja nggak nganter lo pas kebandara waktu itu. Selama lo dipadang dia baik-baik aja, nggak ada galau sedikitpun. "
Kenzi meneguk ludahnya mendengar itu. Mawar baik-baik saja tanpa kehadirinnya, sedang'kan ia selama dipadang galau setengah mati karena tidak melihat wajah Mawar.
"Nyesel 'kan lo? Sebelumnya gue udah yakin aja lo bakal gini akhirnya. " lanjut Rio, kembali mencermahi Kenzi. "Makanya jangan labil. Seharusnya lo setia sama Mawar, walau saat itu lo tertariknya sama Melati. "
Kenzi berdecak, pertanda ia tidak setuju. "Gimana caranya gue setia sama Mawar, gue aja saat itu sukanya sama Melati. "
"Tolong lo bedain suka sama cinta. Rasa suka itu layaknya tamu, datang dan pergi. Beda sama cinta. Lo itu cuman suka sama Melati, nggak cinta. Buktinya dengan gampangnya lo bisa lupain dia 'kan? " mendadak Rio menjadi ahli cinta.
"Gu-gue cinta sama Mawar, menurut lo gimana? "
Rio berdecak, sembari menghantam lambat kaki Kenzi. "Mana gue tau, lo rasain sendirilah. "
"Mawar udah sama Gibran, jangan lo ganggu. " celetuk Otak, membuat Kenzi langsung mendelik.
Rio mengangguk. "Mawar kayak udah nyaman gitu sama Gibran."
Kenzi menghela nafas berat, lalu pria itu bangkit dari duduknya. "Bacot kalian berdua. "
"SETAN! " umpat Rio dan Otak bersamaan, sedangkan Kenzi tidak menyahuti lagi. Pria itu tampak menidurkan diri dikasur empuk milik Rio.
Dan kembali menangis secara diam-diam.
Terima kasih banyak buat yang udah baca sampai akhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
Teen FictionCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
