Jangan lupa vote, ya...
Tiga hari telah berlalu, dan ini adalah hari pertama Melati sekolah, setelah kejadian itu. Semuanya terasa berbeda dari sebelumnya, sekarang entah kenapa rasanya begitu aneh untuk Melati. Semua pasang mata meliriknya, entah apa yang mereka pikirkan. Yang jelas Melati merasa risih dan tidak nyaman akan itu.
"Melati! "
Melati menoleh kebelakang, ketika dirinya mendengar teriakan itu. Tampak seorang pria tengah berlari menghampiri dirinya, pria itu memaksakan senyumannya ketika ia sudah berhadapan dengan Melati.
"Kenzi." Melati berguman, membuat Kenzi mengangkat alis.
Beberapa saat Kenzi menatap Melati, raut wajah Melati sangat berbeda dari sebelumnya. Kini wajah gadis itu terlihat pucat, matanya pun juga sembam dan memerah. Bahkan Kenzi dapat melihat dengan jelas bekas air mata di pipi gadis itu. Jelas Melati masih berduka saat ini.
"Lo kesini sama siapa? " tanya Kenzi, ikut melangkahkan kakinya.
"Sama ojek. " Kenzi mengatupkan bibirnya, lalu mengangguk pelan.
"Lo baik-baik aja, kan? " tanya Kenzi, memastikan gadis itu. "Kita ke kantin aja dulu gimana? Muka lo pucet banget. "
Melati menggeleng pelan, gadis itu melihat Kenzi sepenuhnya. "Ken...Gue bisa minta tolong sama lo? "
Kenzi meneguk ludahnya, hatinya tiba-tiba sesak melihat air mata yang menggenang dipelopak mata Melati. Perlahan Kenzi membuka mulutnya, "Mau minta tolong apa? "
Melati menghela nafas berat. "Tolong anterin gue ke makam ibu pulang sekolah nanti. Uang gue nggak cukup buat ongkos kesana, " ujar Melati dengan mata menyendu.
Kenzi memaksakan senyumannya, pria itu memegang bahu Melati. "Tanpa lo minta tolong sama gue, gue udah pasti mau bantuin lo. Kalau ada apa-apa bilang sama gue, ya." Kenzi tersenyum, lalu mengusap lembut pipi gadis itu. "Nanti pulang sekolah kita ke makam ibu lo, ya. "
Melati mengangguk, gadis itu meneteskan air mata. Entah itu air mata bahagia karena ia memiliki teman sebaik Kenzi, atau air mata kesedihan mengingat kebejatan sang ayah. Kebahagian dan kesedihan itu kini seakan terasa bercampur aduk didalam hati Melati.
Kenzi mengusap lembut surai hitam Melati. "Jangan sedih lagi. " perlahan Kenzi membawa Melati kedalam dekapannya.
Dari kejauhan gadis itu melihat Kenzi yang tengah memeluk erat Melati. Rasanya masih sama, sakit. Walau ia tahu Kenzi melakukan itu untuk menenangkan Melati yang masih berduka. Gadis itu menghela nafas berat, sulit sekali rasanya ia untuk mengendalikan diri. Kenzi sudah mengusir dirinya, tapi entah kenapa hatinya masih tetap menginginkan pria itu. Gadis itu menyeka air matanya yang jatuh menggunakan telapak tangan. Setelah itu ia pergi menjauh, karena melihat itu sama saja ia menyiksa dirinya sendiri. Gadis malang itu adalah Mawar.
*
Dan disinilah Melati dan Kenzi sekarang. Ditempat yang dingin dan penuh kesedihan. Ditempat yang menyimpan jutaan kesedihan bagi semua orang.
Sedari tadi Melati menangis tersedu-sedu, dengan tangan melingkar dibatu nisan sang ibu. Sedangkan Kenzi sedari tadi berusaha untuk menahan tangisnya. Kenzi benar-benar merasakan kesakitan yang dialami oleh Melati, membuat pria itu sulit untuk membendung air matanya. Dan lihatlah sekarang, bukannya menenangkan Melati, pria itu malah ikut menangis.
Kenzi menghapus air matanya dengan kasar, ia menghela nafas penjang. Kenzi sedikit mendekat ke Melati, ia mengelus lembut punggung gadis itu, berharap ia sedikit tenang. Dan seakan mengatakan kepada gadis itu bahwa ia tidak sendiri disini. Ada Kenzi disampingnya.
"Ibu...maafin Melati...seharusnya Melati nggak pergi malam itu...seharusnya Melati yang dipukul ayah...bukan ibu...maafin Melati, bu..." Melati terus melirih dalam tangisannya. Sampai sekarang Melati belum bisa menerima kepergian sang ibu. Hanya sang ibu orang baik yang ada disisinya. Dan ia telah pergi dengan cara tidak wajar, membuat Melati benar-benar terpukul. Sungguh berat cobaan yang diberikan tuhan untuk Melati.
Kenzi yang berada disamping Melati menghela nafas berat. "Melati...lo ikhlasin ibu lo pergi, ya. Biar ibu lo bisa tenang, jangan bikin dia sedih. "
Melati menghapus air matanya dengan kasar, ia meneguk ludahnya lalu menghadap seutuhnya kepada Kenzi. "Ken...gue benci sama ayah gue, dia yang bikin ibu pergi. Gue nggak bakal maafin dia. Dia nyakitin gue dari kecil. Ayah gue bukan orang baik, gue benci.... "
Kenzi menatap Melati dengan mata teduh, pria itu menggeleng pelan. "Nggak boleh gitu, biar gimanapun itu ayah lo. Dia adalah pria pilihan ibu lo, jadi jangan benci sama dia, ya." Kenzi mengelus lembut surai hitam Melati.
Melati menggeleng, lalu gadis itu kembali memeluk batu nisan sang ibu. Gadis itu kini tidak melirih lagi, pandangannya hanya lurus kedepan, entah apa yang ia pikirkan.
Tetasan air menyapa kulit Kenzi, membuat ia tersentak, dan langsung berkata. "Melati...kita pulang yuk, udh mau hujan. "
Melati menggeleng pelan. "Gue mau nemenin ibu disini."
Kenzi tersenyum kecil. "Buat apa lo disini nemenin ibu lo? Sedangkan ibu lo setiap hari bersama lo, ibu lo selalu ada disamping lo. " ucapan Kenzi tidak mempan untuk Melati, gadis itu hanya diam sembari memeluk nisan sang ibu.
Mata Kenzi menyipit memandangi betapa menyedihkannya keadaan Melati sekarang, membuat Kenzi berpaling karena tidak sanggup melihatnya.
Air mata kembali menggenang dipelopak mata Kenzi, membuat ia menengadah memandangi langit yang dipenuhi awan hitam. Cobaan Melati terlalu berat, membuat gadis itu benar-benar terpukul, membuat Kenzi tidak tega melihatnya.
"Tuhan...izinkan hamba buat membahagiakan Melati...hamba sungguh menyanginya, hamba nggak sanggup ngeliat dia sedih tuhan...izinkan hamba untuk menjadi secercah cahaya yang bisa menghangatkan hidup Melati..."
Kenzi menghela nafas berat, lalu menarik gadis itu kedalam dekapannya, diiringi dengan jatuhnya butiran-butiran air dari langit.
Maaf jelek.
Terima kasih banyak buat yang udah baca sampai akhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
Novela JuvenilCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
