Jangan lupa vote...
Pukul setengah dua belas, Kenzi baru pulang dari rumah Rio. Begitulah kalau pria berkumpul, suka lupa waktu.
Tangan kekar Kenzi menarik rem, ketika lampu didepan berubah menjadi merah. Kenzi menyeka wajahnya menggunakan telapak tangan, ketika rasa kantuk menyapa.
"Oi. "
Kenzi menoleh kesamping, memastikan ucapan itu ditujukan untuknya atau tidak. Sontak mata pria itu melebar, melihat Gibran yang tengah membonceng Mawar berada disampingnya. Ternyata ini alasan Gibran pulang lebih cepat dari rumah Rio.
"Dari mana? Baru pulang jam segini. " tanya Kenzi tenang, dan jangan lupakan kening pria itu yang mengkerut.
"Pasar malem. " Kenzi mengangguk kecil, sembari mengalihkan pandangannya kedepan. Rahang Kenzi mengeras, entah kenapa perasaan tidak suka itu kembali menyusup masuk kedalam hatinya. Kenzi menarik gas motornya, lalu menerobos lampu merah, membuat jalanan dipenuhi oleh klason kendaraan.
*
"Bangsat! " umpat Kenzi, sembari menjatuhkan tubuhnya kekasur. Seketika Kenzi mengacak rambutnya frustasi, mengingat kejadian tadi. Kenzi melihat betul, tangan Mawar melingkar sempurna diperut Gibran.
Kenzi berdiri dan mendengus kesal, pria itu berjalan kearah balkon. Entah kenapa hatinya terasa gundah, mengingat Gibran dan Mawar semakin dekat.
"Kenapa harus lo, Gibran? " rahang Kenzi mengeras, pria itu mengeratkan pegangan tangannya pada pembatas balkon, pertanda ia tengah emosi.
Kenzi berdecak kecil, mencoba untuk tidak memikirkan itu semua. Memikirkan itu semua hanya membuat ia menyalahkan dirinya sendiri yang telah mencampakkan Mawar.
Kenzi menghela nafas panjang, sembari mengeluarkan ponsel Kenzi berjalan kebangku yang terletak disudut balkon.
Pria itu tampak menaikkan satu kakinya, lalu mulai fokus terhadap benda pipih itu. Kenzi membasahi bibirnya, dengan perlahan jari-jari kekarnya mulai bergerak diatas layar ponsel.
Kenzi: p
Kenzi: lo udah sampe dirumh?
Mawar: udh, knp?
Kenzi: nggak nanya aja
Kenzi: besok pulang sekolah lo mau kemana rencananya?
Mawar: Gue ke gremed rencana, diajak gibram.
Kenzi menghela nafas panjang, mencoba untuk meradang emosinya. "Gibran lagi, Gibran lagi. "
Kenzi: oo malemnya jalan bareng gue yuk
Kenzi: udh lama nggak hehehe
Mawar: Kemana?
Kenzi: liat besok aja
Kenzi: mau ya
Kenzi: gue maksa nih
Mawar: terserah deh
Kenzi: yeeeeeee
Kenzi: bener ya
Mawar: hmm
Kenzi: keseringan gaul sama gibran jadi ikut2 an gayanya, hhm hmm mulu
Kenzi: tidur gih
Kenzi: good night
Read
Pandangan Kenzi lurus pada satu titik, beberapa detik kemudian pria itu menurunkan kakinya. Ia menyeka wajahnya dengan telapak tangan. "Perasaan itu udah hilang, ya Mawar?"
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
Dla nastolatkówCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
