Jangan lupa vote...
Hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang selama dua bulan, Kenzi dihadiahi oleh pengumuman guru rapat, membuat pria itu bersorak heboh bersama para sahabatnya. Tapi beberapa saat kemudian pria itu langsung ciut, mengingat tidak ada Mawar dikelas. Entah gadis itu belum datang, atau bagaimana, yang jelas Mawar tidak pernah berangkat sekolah se-siang ini.
Kenzi tampak duduk didepan pintu, bersama tiga sahabatnya. Kenzi menunggu Mawar, sedangkan ketiga sahabatnya itu entahlah, kenzi tidak tahu.
Setelah dua bulan tidak bertemu, membuat Kenzi benar-benar merindukan Mawar. Keinginan untuk bertemu semakin menggebu-gebu dihati Kenzi. Disatu sisi, Kenzi bersyukur hari ini guru rapat, ia bisa berbicara dengan Mawar dengan basa-basi memberikan oleh-oleh. Tapi rencana pria itu buyar begitu saja, ketika ia dihadapkan oleh realita.
"Mawar nggak sekolah, Bran? " tanya Kenzi, kepada Gibran yang bersandar dipembatas balkon koridor.
"Kenapa nanya gue? " pria jangkung itu malah balik bertanya, ia kini tampak menyilangkan kaki.
Kenzi berdecak sebal. "Lo 'kan lebih tau tentang dia."
Otak mengangguk setuju. "O'oh, sering berduaan. Sampai-sampai gue sama Rio sering ditinggal. "
"Iya. Mentang-mentang bareng Mawar ketemu dikantin diem aja. " Rio jadi mengungkit kejadian beberapa hari yang lalu.
"Lo sering makan dikantin bareng Mawar, Bran? " Kenzi menyimpan ponsel kedalam saku celana abu-abu yang ia kenakan, dengan pandangan masih ke Gibran, menunggu pria itu menjawab.
Alis Gibran terangkat. "Iya, lo cemburu? "
"Enggak. " setelah itu Kenzi langsung mengatupkan bibirnya, ia membuang muka.
"Lo jangan mancing-mancing dong, Bran. " kata Rio, merangkul akrab bahu Kenzi, ia tahu Kenzi cemburu.
"Iya, gue dukung lo sama Mawar, tapi Kenzi jangan lo pancing-pancing gitu." Otak juga ikut berkata.
Berada diposisi Rio dan Otak tidak lah mudah. Disatu sisi mereka harus mendukung kedekatan Gibran dan Mawar, disisi lain mereka juga harus menenangkan Kenzi yang terluka karena kedekatan Gibran dan Mawar. Bukannya mereka pilih kasih terhadap Kenzi, tapi Mawar kini tampaknya senang dengan Gibran, membuat mereka mau tak mau mendukung Gibran. Dan jika, Mawar memilih Kenzi tentu mereka akan mendukung juga. Tapi yang jelas, mereka tidak ingin persahabatan mereka hancur gara-gara ini.
Sulit memang berada disituasi seperti ini.
"Lo beneran suka sama Mawar? " pertanyaan itu dilontarkan oleh Gibran, membuat ketiga sahabatnya sontak menoleh kepada Kenzi.
Kenzi menggigit bibirnya. "Gu-gue, gue nggak suka liat lo deket sama Mawar. " Kenzi menghela nafas berat. "Tapi gue bisa apa? Gue 'kan udah nyia-nyiain dia, gue udah bodoh sebelumnya. Jadi gue nggak bisa marah liat lo deket sama dia. Gue dukung kok lo deket sama Mawar, lo nggak brengsek kayak gue, jadi lo lebih pantes. Gue percaya sama lo. "
"Kalau gue jadian sama dia gimana? " tanya Gibran, sembari mengangkat alisnya.
"Lo mau nembak dia? " tanya Rio.
"Iya, gimana, Ken? " Gibran mengangkat dagunya, seakan bertanya kepada Kenzi.
Kenzi kini tertawa hambar, walau rasa sakit kini menyapa hatinya. "Ya nggak apa-apa."
Gibran menipiskan bibirnya, pria itu membalikan badan jadi membelakangi para sahabatnya. Gibran menumpukan tangannya dipembatas balkon, matanya kian menyipit, melihat gadis yang menyandang tas bewarna merah jambu itu berada dibawah, tepatnya dilapangan upacara, Gibran melihatnya dengan jelas.
Tanpa berkata apapun, Gibran langsung melangkah pergi, meninggalkan tiga sahabatnya itu.
**
Masalah keluarga, siapa yang tidak pernah mengalami itu. Bahkan Kenzi yang kini keluarganya terbilang harmonis pun pernah mengalami permasalahan keluarga yang cukup rumit, membuat Kenzi benar-benar terpukul. Sebenarnya Kenzi memiliki tempat untuk bercerita, tapi Kenzi memilih untuk memendam sendiri, karena menurutnya masalah keluarga bukan untuk diceritakan. Pada saat itu, Kenzi memilih untuk menenangkan pikiran digudang dengan merokok. Dan kini, Kenzi akan mencoba hal itu lagi, guna menenangkan pikirannya. Tapi kini sedikit berbeda, dulu masalah keluarga sedangkan kini masalah hati, yang sudah tidak sanggup ia rasakan kesakitannya.
Kenzi menghentikan langkahnya saat jaraknya dengan gudang tinggal beberapa langkah lagi. Tangan Kenzi meremas kuat sebungkus rokok yang baru ia beli tadi, ia tersenyum miring. "Congrats, Bran. Lo berhasil dapetin Mawar."
Mata Kenzi berkaca-kaca, melihat dari kejauhan Gibran yang tengah memeluk Mawar. Mawar terlihat tersenyum bahagia, kini tangan gadis itu tampak menjangkau wajah Gibran, sukses membuat air mata Kenzi berjatuhan.
Kenzi langsung menunduk, mengizinkan air matanya jatuh menyentuh tanah. Beberapa saat kemudian ia mendongak, dan langsung membuang muka, karena tatapannya dengan Gibran bertemu.
Kenzi memperlihatkan senyumannya kepada dua orang yang tengah berbahagia itu. Setelah itu Kenzi membalikan badannya, sembari melempar sebungkus rokok yang sudah tidak berbentuk lagi.
😘😘😘
Kenzi: lo dimana?
Gibran: rumah rio
Gibran: ada otak
Gibran: merka nyruh lo kesini
"Lo udah jadian sama Mawar, Bran? " baru sampai dikamar Rio, Kenzi langsung melontarkan pertanyaan itu kepada Gibran.
"Lo udah ngungkapin perasaan lo? " Otak yang tengah tidur tengkurap diranjang Rio, kini jadi langsung duduk bersila.
"Udah. " jawab pria itu singkat, membuat mata Rio dan Otak melebar, sedangkan Kenzi memilih untuk membuang muka.
"Diterima? " setelah diam cukup lama Kenzi kembali bertanya.
"Menurut lo? " jawab pria itu dengan alis yang terangkat.
"Mawar beneran suka sama lo? " tanya Kenzi, lagi.
"Tanya sama dianya." jawab Gibran, sukses membuat Kenzi kesal.
"Gue nggak mau tau, Bran. Pokoknya sekarang lo harus traktir gue." Otak jadi semangat, pria itu tampak sudah berdiri dan menjangkau jaket miliknya.
Kenzi menghela nafas berat. "Lo jaga Mawar, ya? Bikin dia bahagia. Gue yakin lo adalah orang yang tepat buat dia." Wajah Kenzi kini tampak sangat datar, dan ia terlihat tengah menahan rasa sakit pada hatinya. Namun beberapa saat kemudian, ia tersenyum. Sahabat macam apa dirinya, disaat Gibran bahagia ia malah sedih seperti ini.
"Gue mau juga pj, Bran." Kenzi ikut menagih, walau setengah mati ia tengah menahan cairan bening itu keluar.
"Yaudah, ayok. Bakso mang Udin, ya." jawan Gibran tenang, ia bangkit dari duduknya.
"YE!! " Otak bersorak heboh, layakya anak kecil yang kemauanya dituruti.
Disisi lain, Rio yang tengah memakai'kan jaket pada badannya tersenyum miring, menyaksikan begitu bodohnya seorang Kenzi menyembunyikan kesedihannya. Kenzi memang tersenyum, seakan ikut behagia, tapi tiga sahabatnya itu tentu tahu apa yang dirasakan Kenzi sekarang. Kenzi tidak bisa bersembuyi didalam topengnya itu.
Maaf jelek.
Terima kasih banyak buat yang udah baca sampai akhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
Teen FictionCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
