Jangan lupa vote...
"Mang, Mawar kayak biasa." setelah berkata seperti itu Mawar langsung mendudukan bokongnya kebangku panjang yang terbuat dari kayu.
"Kak Mawal, Kak Mawal! " Mawar menoleh kesumber suara, mendapati seorang gadis kecil yang tengah melambai-lambaikan tangan. Mawar hendak menghampiri, tapi ia mengurungkan niatnya, mengingat ada sosok berwajah datar disamping gadis kecil itu. Kini Mawar hanya tersenyum, sembari melambaikan tangan juga.
"Kak Mawal sini! " panggil gadis kecil yang duduk dibangku paling ujung itu.
Mawar tersenyum hambar, lalu ia menggeleng pelan, membuat wajah gadis kecil itu berubah menjadi cemberut.
Kenzi dengan malas menurunkan tangan Kira yang melambai-lambai kearah Mawar. "Kira...jangan."
Kira menurunkan bibir bawahnya, pertanda ia tidak suka dengan larangan Kenzi. "Kila mau sama Kak Mawal..." mata gadis kecil itu mulai berkaca-kaca, membuat Kenzi berdecak kesal.
"Jangan nangis, malu diliatin orang. " Kenzi menghapus cepat air mata Kira yang mulai berjatuhan. Pria itu berdecak keras, lalu melihat kearah Mawar sekilas. "Kira mau sama Kak Mawar? " Kira mengangguk, sembari menghapus air matanya.
Kenzi menghela nafas berat, gadis kecil ini jika kemauannya tidak dituruti pasti akan menangis kejang. "Yaudah, coba panggil Kakaknya. "
Masih dengan wajah cemberut, Kira memanggil Mawar dengan gerakan tangannya. "Sini. "
Mawar menghela nafas berat, tidak tega juga rasanya melihat gadis kecil itu menangis. Mawar mencoba untuk tersenyum, lalu berjalan kearah bangku Kira dan Kenzi.
"Kak Mawal disini aja duduknya." gadis kecil itu menepuk-nepuk tempat kosong yang ada disebelahnya.
Mawar tersenyum manis, lalu menangkup pipi gadis kecil itu yang dibasahi oleh air mata. "Kira, ngapain nangis? " tanya Mawar gemes terhadap gadis kecil itu, lalu tangan Mawar mulai menyeka air mata yang ada dipipi Kira.
Kira menurunkan bibirnya, dengan polosnya ia memukul kecil Mawar, membuat Mawar terkejut lalu tertawa kecil. "Kira, kenapa Kakak dipukul? " tanya Mawar seakan tidak habis pikir.
"Kak Mawal dali tadi Kali panggil diem aja, " kesal Kira, membuat Mawar tersenyum sembari mengelus lembut rambut tipis Kira.
"Den Kenzi, tumben sama neng Mawar, biasanya sama neng Melati, " ujar Mang Udin, sembari meletakkan dua mangkok bakso, pesanan Kenzi dan Kira.
Kenzi menipiskan bibir, lalu melihat kearah Mawar sekilas. "Mang Udin pengan tau aja urusan anak muda, " ujar Kenzi, sembari tersenyum jahil.
Disatu sisi Mawar tersenyum kecut, mendengar itu, baru mengetahui ternyata Kenzi sering membawa Melati kesini.
Mawar menggeleng pelan, lalu gadis itu tersenyum kecil kepada Kira. "Kira makannya sendiri atau mau kakak suapin?
"Kila mau disuapin sama Bang Kenzi aja, " ujar gadis kecil itu, sembari mendekatkan mangkok baksonya.
Kenzi yang hendak menyuap baksonya kini terurungkan, pria itu berdecak kecil sembari menurunkan sendok yang hendak masuk kedalam mulutnya. "Kira...jangan manja, udah bisa makan sendiri 'kan? " Marah Kenzi, membuat Kira kembali cemberut.
Mawar meringis pelan, lalu gadis itu membuka mulutnya. "Suapin aja, Ken, ntar dia nangis, " ujar Mawar baik-baik.
Beberapa saat Kenzi memandangi Mawar, lalu ia kembali berdecak. "Lo aja yang nyuapin." setelah berkata seperti itu Kenzi kembali fokus ke makanannya. "Lo marah sama gue? " lanjut Kenzi, membuat Mawar tersentak.
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
Novela JuvenilCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
