Jangan lupa vote...
Motor sport hitam pekat yang dikendarai oleh seorang pria yang mengenakan baju rumah tampak memasuki area sekolah. Sebenarnya itu adalah hal yang terlarang, tapi ia bisa melakukan itu karena ini sudah jam pulang. Sosok pengendara motor sport hitam itu adalah Kenzi.
Hari ini Kenzi tidak masuk sekolah, dengan alasan tidak enak badan. Namun, dirumah membuatnya gelisah, hatinya seakan berteriak ingin melihat wajah Mawar. Walau ini sudah jam pulang, tapi Kenzi yakin Mawar pasti masih berada disekolah. Melihat Mawar dari kejauhan saja tidak apa untuk Kenzi saat ini, mengingat kini Mawar sudah milik Gibran sepenuhnya.
Lewat kaca spion motor, Kenzi merapikan rambutnya, setelah merasa ganteng ia langsung turun dari motornya.
Mata Kenzi memicing sesaat, ia menghela nafas panjang. Mata Kenzi kini menatap lurus gadis yang tengah berjalan dengan tenang. Deberan jantung Kenzi semakin kencang, ketika jaraknya dengan gadis itu kian dekat. Tapi sayang, gadis itu melaluinya begitu saja, menoleh pun tidak. Namun, Kenzi langsung membalikan badannya, dan dengan cepat menarik tangan gadis itu. Tatapan mereka bertemu, dan terkunci beberapa detik, sampai gadis itu berpaling.
Kenzi menyadari, ketika tatapannya bertemu dengan gadis itu, dadanya seakan berhenti berdetak, dunia seakan berhenti berputar. Ia seakan membeku, dan perlahan desiran hangat menyapa hatinya. Membuatnya merasa nyaman dan ingin terus-terusan menatap mata gadis itu. Tapi lagi-lagi Kenzi dihantam oleh realita, gadis yang ada disampingnya ini tak lain adalah kekasih sahabatnya sendiri.
Kenzi mengerjap beberapa kali, sampai senyuman manis terukir diwajahnya. "U-udah lama kita nggak ketemu. " kalimat pertama yang diucapkan Kenzi, setelah dua bulan lamanya ia tidak berjumpa dengan gadis itu.
Gadis itu atau yang lebih tepatnya Mawar tergagap, ia seakan bingung ingin menjawab apa. "E--iya. "
Kenzi masih tersenyum, memandangi wajah gadis cantik yang ada didepannya itu. Salahkan ia menyentuh milik sahabatnya sendiri? Kenzi meneguk ludahnya, ia seakan tidak bisa menahan diri. Kini tangannya terangkat, menyelipkan rambut Mawar kebelakang telinganya.
"HM." Suara deheman yang cukup keras itu tertangkap oleh telinga Kenzi, membuatnya tersentak dan langsung menjauhkan tangannya.
Kenzi menoleh kesumber suara, dan ia mendapati Gibran yang kini tengah berada dibelakangnya. "L-lo. "
"Lo kenapa nggak masuk tadi? " tanya Gibran tampak tenang, seperti biasanya.
Kenzi berdehem singkat, mencoba untuk mengendalikan diri yang terlihat salah tingkah. "Eung...gue nggak enak badan. "
Alis Gibran terangkat, lalu ia tersenyum miring. "Yang nggak enak badan lo apa hati lo? Itu mata kenapa merah gitu? "
Kenzi berdecak, memukul kecil Gibran yang kini ada disampingnya.
"Lo semalam nangis? " Gibran tertawa kecil, sembari menjauhkan diri dari Kenzi yang kembali hendak memukulnya. "Nangisin siapa? " Gibran semakin menjadi-jadi.
"Otak sama Rio mana? " tanya Kenzi, mencoba untuk kembali tenang, mengingat ada seorang gadis didepannya.
"Udah pulang dari tadi." jawab Gibran, lalu ia melihat Kenzi dari atas sampai bawah. "Lo ngapain kesekolah pake baju gini? "
Kenzi memandangi Gibran dengan mata menyipit, sedikit kesal dengan Gibran yang tiba-tiba menjengkelkan. "Gue nggak suka ya Bran lo jadi banyak bicara gini. "
Gibran tidak menyahuti Kenzi, mata pria jangkung itu kini tertuju terhadap Mawar. "Jadi pulang bareng? " tanya Gibran langsung dibalas anggukan oleh Mawar, membuat wajah Kenzi langsung berubah menjadi masam.
"Eh, Mawar sama gue aja. " perlu mengumpulkan keberanian dulu untuk Kenzi mengatakan kalimat itu.
Gibran mendelik. "Ngapain sama lo? "
Kenzi berdecak. "Sama gue aja pulangnya, Mawar. Gibran banyak modusnya, " ujar Kenzi, persetan dengan Gibran yang berstatus sebagai pacar gadis itu.
Mawar menggigit bibirnya, melihat Gibran dan Kenzi secara bergantian. "Eung...gue udah janji sama Gibran."
Kenzi menurunkan bahunya, lalu menghela nafas berat. "Mawar sama gue aja. " Kenzi melihat Gibran penuh harap. "Gue mohon sama lo, sekali ini aja. Gue janji bakal jaga dia, gue nggak bakal bikin dia nangis lagi. "
"Kalau lo bikin Mawar nangis lagi gimana? "
"Habisin gue."
Gibran tertawa kecil, sembari geleng-geleng kepala. "Yaudah, kalau Mawar nya mau gue sih nggak masalah. "
Usai berhadapan dengan Gibran, Kenzi sekarang harus berhadapan dengan Mawar yang mampu membuat jantungnya ingin copot. Ternyata berbicara dengan orang yang benar-benar kita cintai tidak semudah itu. "P-pulang bareng gue, yuk, sekali ini aja. Setelah itu gue bakal ngejauh dari lo. Gue janji. " mata Kenzi menyendu, perlahan ia menunduk, rasanya ia tidak sanggup menjalankan janjinya untuk esok hari. Kenzi tidak bisa jauh dari Mawar.
Mawar menoleh ke Gibran, Gibran tampak tersenyum kecil sambari mengangguk. "Yaudah, ayuk. "
Perlahan senyuman terukir dibibir Kenzi, mendengar suara lembut yang menenangkan itu. "Be-bener? " lalu ia menoleh ke Gibran. "Boleh, Bran? " walau tampak kaget, senyuman itu masih terlihat jelas diwajah Kenzi.
Gibran tersenyum kecil, sembari menggeleng beberapa kali. "Kan Mawar udah mau."
Kenzi tertawa kecil, ia menepuk-nepuk bahu Gibran. "Makasi banyak, ya. " ujar pria itu, membuat Gibran menyerngit, ini terlalu berlebihan menurut Gibran.
"Gue balik dulu."
Kenzi berpaling dari punggung Gibran ke Mawar yang ada disampingnya. Entah kenapa kali ini rasanya berbeda. Jantungnya berdebar kencang, tapi ada perasaan nyaman berada disamping gadis itu. Walau mereka saling diam , seperti saat ini.
Kenzi berdehem, membuat Mawar menoleh kearahnya. "Eung...udah lama kita nggak bicara, jadi canggung gini. " Kenzi tertawa pelan diakhir ucapannya. "Lo udah makan? Kita kekantin dulu gimana? "
Sekilas Mawar melihat kesekitar, lalu pandangannya kembali ke pria yang ada Didepannya itu. Kenzi terlihat sangat tampan, dengan rambut hitam pekat miliknya, membuat Mawar ingin berlama-lama melihatnya. Tapi Mawar lebih mengedepankan gengsinya, membuatnya langsung berpaling dari wajah Kenzi. "Gue nggak laper. "
Kenzi tampak tersenyum memandangi wajah Mawar, membuat Mawar sedikit tidak nyaman. "Ngapain lo liatin gue terus? "
Kenzi menggeleng. "Lo cantik, makanya gue liatin lo terus. "
"Semua wanita cantik. "
Dengan senyuman yang masih terukir dibibir, Kenzi mengangguk. "Iya, lo bener, tapi gue seneng liat wajah lo. "
Kenzi menghela nafas berat, ia menyandarkan punggungnya kedinding. "Waktu gue bareng lo cuman hari ini doang, besok gue 'kan udah janji buat ngejauh dari lo. Jadi...hari kita pergi main yuk. " Kenzi tersenyum, tapi senyuman yang menyimpan berjuta kesakitan. "Maaf buat semuanya. " Kenzi melirih, hati tiba-tiba terasa teriris, perlahan ia menunduk dan setengah mati menahan cairan bening itu keluar.
Mawar meneguk ludahnya, lalu perlahan ia berkata. "Lo nggak perlu ngejauh dari gue. "
Kenzi menoleh, bersamaan dengan jatuhnya cairan bening itu, membuatnya kembali melihat keramik dibawah. "Gue cengeng banget. " Kenzi tertawa kecil sambil menghapus air matanya. "Gue bodoh banget dulu. " Kenzi tersenyum miring. "Udah nyia-nyiain lo. Udah kurang ajar sama lo, gue brengsek, beda sama Gibran. Lo pantes sama Gibran, gue jamin dia nggak bakal nyakitin lo, dia nggak sama kayak gue. Langgeng sama Gibran, ya. " Kenzi membuang muka. Hatinya terasa begitu sakit, membuat air matanya kembali jatuh.
Kenzi meneguk ludahnya, sambil menghapus air matanya dengan cepat. "Ternyata patah hati itu gini rasanya. Sakit banget. " Kenzi tertawa pada akhir ucapannya.
"Ken, kenapa lo doain gue langgeng sama Gibran? Gue nggak jadi sama dia. "
Maap jelek.
Terima kasih banyak buat yang udah baca sampai akhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
Teen FictionCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
