(37)Perasaan tidak suka

276 19 2
                                        

Jangan lupa vote...

Kenzi memandang ngeri kantin yang berada dibelakang sekolah, Kenzi sangat jarang makan dikantin ini. Karena kantin ini dipenuhi asap rokok, membuat makanan yang kita nikmati jadi tidak enak. Dan satu lagi, kantin ini dipenuhi oleh murid-murid bandel sekolah yang tidak sepergaulan dengan Kenzi. Sebenarnya Kenzi begitu malas untuk kesini, tapi barang yang ia butuhkan hanya dijual dikantin ini.

Kenzi meringis, sembari menggaruk-garuk tekuknya yang tidak gatal, pria itu tampak kebingungan. "Hmm..."

"Aden mau beli apa? " tanya orang kantin--Mak jinni juga ikut bingung, melihat Kenzi yang sedari tadi berdiri namun tidak berkata.

Kenzi berdecak kecil, sebelah mata pria itu menyipit. "Hmm...obat pereda nyeri perut saat haid yang mana, Mak? " tanya Kenzi hati-hati.

"Lah, lo mens bro? " celetuk seorang cowok dengan suara keras--Rido namanya, membuat pemuda-pemuda yang tengah merokok itu menoleh kepada Kenzi.

Albert si biang bad boy sekolah tampak mengangguk-angguk. "Bucin," ejek pria itu. "Masak mau diperbudak cewek. "

"Yoi. Demi cinta lo mau ngejatuhin harga diri lo sendiri. Kalau gue sih enggak, " celetuk Pino, sembari memandangi Kenzi dengan malas.

Kenzi berdecak keras, tidak terlalu ambil pusing soal omongan mereka. "Emang beli ginian bisa ngejatuhin harga diri gue? Nggak 'kan? " usai berkata seperti itu Kenzi langsung beranjak pergi, dengan membawa kantong plastik bewarna hitam.

Kenzi melakukan ini semua demi Mawar. Gadis itu kini tengah berada di uks karena perutnya sakit akibat haid. Mawar tadi terlihat pucat dan kesakitan, membuat hati Kenzi bergerak untuk membeli obat perada nyeri perut akibat haid.

Kenzi mengumpat keras, ketika ada sosok yang merebut kantong plastik hitam yang ia pegang. Otak lah pelaku dibalik semuanya.

"Bagi gue dong. " Rio mengira yang ada didalam kantong hitam itu adalah makanan.

Kenzi berdecak, lalu merebut kantong itu dari tangan Otak. "ini buat Mawar." dengan santainya Kenzi mengeluarkan botol yang bertuliskan Kiranti.

Otak mendekatkam wajahnya, melihat botol itu dengan detail. "Lah, tadi si Gibran juga beli si kiranti."

"O' oh, buat Mawar juga katanya, " ujar Rio yang kini ikut memandangi botol itu.

Satu detik kemudian Otak dan Rio saling pandang, lalu mereka melihat Kenzi dengan ekspresi yang memprihatinkan. "Lo udah diduluin Gibran, " kata Rio lambat, sembari menepuk-nepuk bahu Kenzi.

Otak juga ikut menepuk-nepuk bahu Kenzi. "Sabar ya, mungkin ini karma."

Kenzi mengumpat keras, menghadiahi kedua sahabatnya itu dengan jitakan keras dikepala masing-masing. Setelah itu Kenzi langsung menerobos mereka berdua. Kenzi masih belum percaya, Gibran sianak kalem itu berani membeli kiranti dikantin Mak Jini. Secarakan kantin itu, kantin yang paling seram untuk anak-anak kalem seperti Gibran.

Kenzi memelankan langkah sembari merapikan rambut, ketika jaraknya dengan pintu uks tinggal beberapa langkah lagi.

Tapi seketika Kenzi menghentikan langkah, melihat dari luar Mawar tengah berbincang dengan Gibran. Benar kata Otak dan Rio, Gibran lebih dulu membelikan obat perada nyeri haid untuk Mawar, nyatanya Mawar kini terlihat lebih baik. Bahkan ia tampak tertawa kecil, ketika Gibran berucap.

Rahang Kenzi mengeras, ingin rasanya ia melemparkan kantong plastik yang berisikan kiranti itu kearah Gibran dan Mawar. Tapi Kenzi memilih membalikan badan, ketika tidak sengaja Gibran menangkap kebaradaannya.

🐭🐭

Otak dan Rio meninggalkan Kenzi yang dipanggil oleh wali kelas, sedangkan Gibran sedari tadi entah kemana, membuat Kenzi melewati koridor yang sepi seorang diri. Didalam hati Kenzi menyumpahi satu persatu sahabatnya itu, terlebih Gibran, mentang-mentang tengah dekat dengan Mawar, seenaknya saja ia keluyuran, melupakan tiga sahabatnya yang ngenes.

Kenzi memasukan tangan kedalam saku, langkah demi langkah membuat matanya menyipit, memandangi seorang gadis yang tengah berdiri dari kejauhan. Perlahan Kenzi melebarkan langkahnya, berusaha secapat mungkin untuk mendekati gadis itu.

"Mawar, " ujar Kenzi, langsung membuat Mawar menoleh. "Lo belum pulang? " lanjut Kenzi, bertanya.

Mawar mengatupkan bibirnya, merasa bingung sendiri Kenzi yang tiba-tiba seakan berubah seperti dulu lagi. "Hmm gue--"

"Bareng gue aja, " potong Kenzi. Tidak, tidak, Mawar tidak boleh baper. Kenzi sudah pernah mematahkan hatinya, jangan sampai itu terjadi untuk kedua kalinya. Tugas Mawar adalah move on terhadap Kenzi, bukan malah terbuai dengan sikap Kenzi yang tiba-tiba manis, seperti dulu.

Mawar membasahi bibirnya. "Eung...gue sama Gibran, dia nyuruh gue nunggu. "

Kenzi melemaskan bahunya mendengar itu, terbesit rasa kecewa pada hatinya. Tapi Kenzi berusaha untuk biasa saja, ia berusaha untuk tersenyum. "Eung...perut lo masih sakit? Ini gue mau ngasih ini..." Kenzi membuka resleting tasnya, tapi bersamaan dengan itu sosok Gibran muncul dari belakang Mawar.

"Mawar, jadi pulang bareng 'kan? " tanya Gibran dibalas anggukan oleh Mawar. "Gue duluan ya, Ken, " lanjut pria itu, sembari menggapai tangan Mawar.

Kenzi mengumpat keras, rahangnya tiba-tiba mengeras. Secara kasar ia mengeluarkan kantong plastik yang bewarna hitam itu dari tasnya, sebenarnya Kenzi ingin memberikan itu kepada Mawar, tapi tidak jadi karena kedatangan Gibran.

"Bangsat! " Kenzi melempar kantong plastik itu, dan tepat masuk kedalam tong sampah. Kenzi tersenyum miris, lalu memandangi punggung Gibran dan Mawar. Entah kenapa ada perasaan tidak suka yang muncul dihati Kenzi, melihat Gibran terlalu dekat dengan Mawar.


Maaf banget kalau jelek.

Dan terima kasih banyak buat yang udah baca sampai akhir.

KENZI (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang