(27)Melati yang malang

214 20 0
                                        

Jangan lupa vote...

Dengan mata yang memicing kuat, Melati menutup kupingnya rapat-rapat. Walau begitu suara lemparan piring dari ruangan tengah dapat terdengar dengan jelas. Membuat hatinya terasa ikut hancur bersamaan dengan piring itu.

Dengan tangisan Melati berdiri, lalu ia membuka pintu kamarnya. Hati Melati semakin sesak, ketika sang Ayah hendak melempar gelas kearah sang ibu. "UDAH! " teriak Melati diakhiri dengan isak tangis. "Udah...aku mohon...udah..." Melati jadi melirih, melihat kedua orang tuanya secara bergantian.

Beginilah kehidupan Melati. Hidup miskin dirumah kecil. Rumah yang didalamnya begitu banyak menyimpan peristiwa-peristiwa menyedihkan bagi penghuninya. Rumah yang setiap hari selalu berisik. Teriakan histeris, teriakan amarah, suara piring dan gelas pecah menjadi satu didalam rumah ini. Membuat seorang anak gadis yang berada didalam rumah ini begitu tertekan dan mengeluarkan air mata setiap harinya.

Pria paruh baya itu menetap istrinya dengan nafas terengah-engah. "DASAR ISTRI TIDAK BERGUNA! MINTA BELIIN ROKOK AJA NGGAK BISA! " hardiknya, ke wanita paruh baya yang tengah menangis terisak.

Melati meneguk ludahnya, ia menghapus air matanya dengan kasar, lalu berusaha menatap tajam pria paruh baya itu. "AYAH YANG NGGAK GUNA! AYAH NGGAK BERTANGGUNG JAWAB! SEHARUSNYA MENCARI UANG ITU ADALAH TANGGUNG JAWAB AYAH, BUKAN IBU!" untuk pertama kalinya Melati bersuara dengan keras kepada sang ayah.

Ayah Melati atau lebih tepatnya Anton menatap tajam kearah Melati. "TAU APA KAMU? KAMU ITU NYUSAHIN AJA KERJAANNYA. BISANYA CUMAN MINTA UANG! "

"KALAU NGGAK BISA TANGGUNG JAWAB, YAUDAH NGGAK USAH AJA PUNYA ANAK! GUE NGGAK PERNAH MINTA DILAHIRIN KE DUNIA INI! "

PLAK!

Tamparan keras menyapa pipi Melati. Membuat pipi gadis itu memanas dan perlahan rasa perih hebat datang. Membuat gadis itu tidak kuasa menahan tangisnya. "Gue nggak pernah minta dilahirin, " Melati jadi melirih, dengan tangan memegangi pipi yang memerah.

"MELATI AWAS!" teriak Sang ibu, membuat Melati langsung berlari keluar rumah. Sembari berlari Melati menghadap kebelakang, tampak sang ayah mengejarnya dengan tangan memegangi balok kayu.

Melati berlari kencang tanpa sandal, melewati jalanan bebatuan yang dipenuni lumpur. Kakinya terasa sakit, karena dilukai oleh bebatuan yang runjing, ditambah lagi lumpur yang masuk dan menyapa luka gadis itu, membuat rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Tapi rasa sakit pada kaki Melati tidaklah lebih besar dibandingkan dengan rasa sakit pada hatinya.

Kata orang, ayah adalah cinta pertama anak perempuannya. Tapi kata Melati, ayah adalah musuh utama dirinya. Sang ayah justru pembawa kesakitan untuk Melati dan sang Ibu. Sang ayah adalah penyebab utama keluarnya air mata Melati dan sang Ibu. Bahkan secercah kebahagian tidak pernah diberikan sang ayah untuk Melati dan sang ibu. Yang diberikan pria itu hanyalah teriakan dan makian, yang begitu menyakiti hati Melati dan sang Ibu.

Melati sangat terluka tapi sang ibu lebih terluka lagi.

Melati memelankan langkahnya, ketika mengetahui sang ayah sudah tidak mengejarnya lagi. Nafas Melati terengah-engah, membuat gadis itu berhenti sejenak dengan sedikit membungkuk memegangi lutut.

Dengan langkah gontai Melati mendekat ke tempat duduk pinggir jalan. Tempat duduk itu terbuat dari semen. Melati mendudukan bokongnya, tempat duduk itu terasa dingin, cocok untuk Melati yang tidak pernah merasakan kehangatan.

Melati mengurut-ngurut kakinya yang terasa begitu sakit, ada beberapa luka juga yang terlihat disana. Air mata masih setia jatuh di pipi gadis itu. Rasanya begitu sakit, membuat Melati benar-benar tidak bisa membendung air matanya sampai sekarang.

Melati adalah gadis yang malang. Hidup seakan tidak adil kepadanya. Setiap hari ia mendapat kekerasan, berbeda dengan gadis diluar sana yang selalu disayang oleh sang ayah. Jangankan kebahagian, senyuman tulus dari sang Ayah saja belum pernah Melati dapatkan. Dengan keadaan hidup yang begitu menyedihkan, membuat Melati terkadang menyalahkan tuhan. Tapi Melati selalu memperingati dirinya, bahwa suatu saat kebahagian akan datang untuk dirinya. Karena semuanya akan indah pada waktunya. 

Setelah ujian ini selesai Melati pasti akan diberikan kebahagian oleh tuhan, karena tuhan tidak pernah pilih kasih. Setelah memberikan ujian yang hebat tuhan tidak akan pernah lupa memberikan kebahagian yang hebat pula.

Seseorang menepuk bahu Melati, membuat Melati memekik dan menutup wajahnya. "Ayah ampun..." lirih Melati, tangisannya kini kembali pecah.

"Melati." perlahan Melati membuka matanya, lalu menoleh kesumber suara berat itu. 

"Lo kenapa?" ujar Kenzi terdengar begitu khawatir. Kenzi melihat Melati,  mata pria itu membesar ketika matanya menangkap kaki Melati yang dipenuhi lumpur. "Melati lo kenapa? " ulang Kenzi dengan ekspresi lebih khawatir.

Melati menunduk, dan menangis. Berusaha menjelaskan semuanya membuat air matanya kembali keluar, membuat dirinya merasakan kesakitan kagi. Melati menggeleng. "Gue nggak bisa jelasin...nanti, nanti hati gue makin sakit. " Melati meneguk ludahnya, memandangi Kenzi dengan air mata terus mengalir di pipinya. "Gue benci ayah gue, Ken...kenapa keluarga nggak pernah bahagia...? Kenapa ayah gue kasar...kenapa ayah gue jahat sama ibu gue...kenapa gue nggak pernah ngerasain kasih sayang dari seorang ayah..." Melati meunduk, dan menangis, dengan tangan meremas dadanya. Rasanya sakit, sangat sakit. Melati tidak sanggup lagi menahan senua rasa sakit ini. Melati ingin bahagia, Melati sudah bosan mengeluarkan air matanya terus-terusan.

Kenzi menatap Melati dengan tatapan teduh, berharap gadis itu tenang. Tangan Kenzi terangkat, mengelus lembut surai hitam gadis itu. "Ada gue. " perlahan Kenzi menarik Melati kedalam pelukannya. "Lo nggak sendiri, masih ada gue. " Kenzi mengusap-ngusap punggung Melati, berharap gadis itu tenang dalam pelukannya.

Melati menumpahkan semua rasa sakit yang ia rasakan dalam bentuk air mata, membuat baju yang dikenakan Kenzi jadi basah. "Kenapa gue nggak pernah bahagia...? Kenapa harus gue yang ngerasain rasa sakit ini...?"

Kenzi tidak bisa menjawab, ia hanya bisa mendekap erat tubuh Melati. Berharap dengan dekapan itu Melati bisa tenang.

"Kenapa rumah gue selalu ribut...kenapa, Ken? Jawab gue, gue mohon..." Melati terus melirih, dan kini gadis itu memukul-mukul dada bidang Kenzi.

Kenzi mengeratkan dekapannya. "Gue nggak bisa jawab...tapi waktu bakal ngasih jawabannya. Lo hanya perlu sabar, suatu saat kebahagian akan buat lo. Percaya sama gue. Dan lo harus sadar kalau sekarang lo nggak sendiri, ada gue. Gue bakal nemenin lo buat melewati ujian ini. "

Melati melerai pelukannya, mata gadis itu memandangi Kenzi yang tengah tersenyum kecil. "Ken..."

Kenzi tersenyum, lalu menghapus air mata gadis itu yang berjatuhan. "Lo nggak sendiri. Ada gue. " ujar Kenzi, tangan Kenzi beralih mengusap lembut pipi Melati. "Gue sayang sama lo. Gue bakal ada disisi lo, gue janji. "

Melati meneguk ludahnya, merasa tertegun karena omongan Kenzi. Ternyata Kenzi orangnya sebaik ini. Bahkan Kenzi lebih menenangkan dri sang ayah. "Gue beruntung kenal sama lo, Kenzi. "

     

Maaf jelek.

Dan makasi banyak buat yg udah baca sampai akhir.

   

KENZI (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang