Jangan lupa vote...
Hari demi hari terus berlalu, waktu tidak henti bergerak membuat kenangan. Kenangan indah maupun kenangan sedih, yang terkadang menyisihkan luka pada hati kita.
Baru saja Mawar memasuki kelas, tapi Cery langsung menghamburkan tubuhnya, memeluk sahabatnya yamg baru keluar dari rumah sakit itu. "Aaa gue kangen." manja gadis itu, sembari membawa Mawar kebangku. "Lo kenapa nggak ngabarin kalau lo mulai sekolah hari ini? "
Mawar tertawa kecil, ia libur hanya lima hari, dan Cery lebainya melebihi seakan ia libur satu tahun saja.
"Lo nggak apa-apa 'kan? Tulang lo nggak ada yang retak 'kan? " tanya gadis itu menangkup pipi Mawar.
Mawar kembali tertawa kecil, menyingkirkan tangan Cery dari wajahnya. "Gue nggak apa-apa, gila! "
Disatu sisi seorang pria yang bersandar ditembok itu tidak henti memandangi Mawar. Gadis itu tampak cantik dengan rambut diikat ekor kuda, walau lehernya menampakkan bekas luka karena kecelakaan waktu itu.
Bibir Kenzi tertarik, memandangi Mawar yang tertawa lepas bersama yang lainnya. "Mawar cantik ya, Yo. " gumam pria itu, dan jangan lupakan matanya yang tidak henti berpaling.
Rio mendelik, jijik dengan Kenzi yang senyum-senyum sendiri sembari memandangi Mawar. "Tapi sayang, hatinya bukan buat lo lagi. "
Sontak Kenzi mendelik mendengar itu, karena tidak terima dengan ucapan Rio Kenzi langsung memukuli pria itu. "Mulut lo. "
"Lo serius suka sama Mawar, Ken? " tanya Otak, sembari menguyah bakwan yang ia bawa dari rumah.
Kenzi menggaruk-garuk tekuknya yang tidak gatal, bingung ingin menjawab apa. "Nggak tau gue. "
"Trus lo yang katanya cinta sama Melati itu gimana? " tanya Rio sembari menerima suapan bakwan dari Otak, membuat Gibran yang ada disampingnya menganga kecil, heran dengan mereka.
Kenzi menggaruk kepalanya frustasi. "Bisa nggak sih, nggak bicara tentang perasaan dulu. Gue mau liat Mawar, dia cantik banget hari ini. " omel pria itu, perlahan matanya kembali tertuju kegadis cantik itu, membuat wajah Kenzi kembali mengukir senyuman.
"MAWAR MASIH MAU NGGAK SAMA KENZI? " Teriak Otak, membuat Kenzi langsung berdiri dan memukuli kepala pria itu.
"Jangan mau Mawar...sama Gibran aja. " sahut Cery ikut berteriak kecil, kini gadis itu terlihat tengah bersiap-siap berjoget tik-tok bersama Rendi.
Entah kenapa darah Kenzi naik seketika. "Mawar itu punya gue, ya." ujar Kenzi, menunjuk Cery yang tengah menjulurkan lidahnya.
Mawar yang tadinya sibuk membalik-balik buku, kini langsung menoleh kearah Kenzi dengan mata tajam. "Lo pikir gue baper sama ucapan lo itu. " ujar gadis dingin, memandangi Kenzi dengan datar.
Kenzi langsung mengatupkan bibirnya, raut wajahnya berubah tiga ratus delepan puluh derajat. Perlahan ia kembali duduk ke bangkunya, dengan mata yang menyendu.
Kenzi sendiri juga bingung, kenapa hatinya bisa sakit mendengar kalimat dari Mawar barusan.
Otak mengusap-ngusap bahu Kenzi. "Andai kau tahu Mawar, ditubuh mu itu ada darah Kenzi mengalir, " ujar pria itu lambat sembari memandangi Mawar, dan jangan lupakan tangannya yang masih mengusap-ngusap bahu Kenzi.
Rio tertawa terbahak-bahak dengan tangan memegangi perutnya yang terasa sakit. Tidak Rio saja, Gibran pun juga ikut tertawa, tapi tidak sekencang Rio.
Mata Kenzi mengikuti kemana arah gerak Mawar, seketika alis pria itu terangkat ketika melihat Mawar berjalan keluar, sontak ia berdiri dari duduknya. "Bran, lo gue duluin, ya. " pria itu tersenyum jahil sambil mengeluarkan kemeja sekolahnya dari celena.
Otak mengangguk-angguk. "Tapi Mawar nggak suka sama cowok yang bajunya nggak rapi. "
"Cot. " Kenzi langsung melangkahkan kaki, tidak lupa pria itu menepuk-nepuk bahu Gibran yang tampak tenang.
Kenzi membasahi bibirnya terlebih dahulu, ia merapikan rambut menggunakan jari-jari tangannya, sampai kepada bibirnya bergerak, menyebut nama Mawar.
Mawar menoleh dengan kening mengkerut. "Ada apa?"
Kenzi mencoba untuk tersenyum, walau hatinya terasa teriris menyaksikan wajah datar Mawar yang ditujukan untuknya. "Hmm lo udah benar-benar sembuh? "
Mawar mengatupkan bibirnya, sebelum benar-benar berkata. "Buat apa lo nanya gitu? "
"Karena gue khawatir sama lo."
"Khawatir? " Mawar tersenyum miring. "Batang idung lo aja nggak pernah gue liat dirumah sakit. Itu yang dinama'kan khawatir? "
"Gimana caranya lo liat batang idung gue, setiap gue dateng lo ngebo mulu. "
"Pas gue sadar, temen-temen jauh gue aja dateng. Sedang'kan lo? "
"Gue lagi istirahat dirumah. Kepala gue pusing, karena habis donorin darah buat lo. Sebenarnya saat itu gue mau liat keadaan lo, tapi nggak dibolehin sama nyokap keluar. " Lagi-lagi Kenzi hanya bisa berucap didalam hati.
Kenzi menghela nafas berat. "Lo udah makan? Kantin yuk, gue temenin. "
Mawar mengumpati Kenzi didalam hati. Tidak mau naik darah karena Kenzi, membuat Mawar langsung berjalan mendahului pria itu.
Mawar memicingkan matanya sesaat, merasakan pergelangan tangannya ditahan oleh Kenzi. "Lo pikir gue bisa luluh dengan omong kosong lo itu. Inget, gue bukan Mawar yang dulu. "
Cekalan tangan Kenzi pada pergelangan tangan Mawar melonggar, pandangan pria lurus kesamping. "Melati. " gumam pria itu, tidak menunggu lama kaki pria itu langsung melangkah, meninggalkan Mawar.
Mawar tersenyum kecut, sembari melipat tangannya didada. "Buat apa lo minta gue balik kayak dulu lagi, sedangkan perasaan lo itu masih untuk Melati."
Mata Mawar berkaca-kaca, melihat Kenzi berjalan mendekat kearah Melati, meninggalkan dirinya seorang diri. Kenzi tidak berubah, ia selalu melupakan Mawar, ketika dirinya melihat sosok Melati.
"Melati lo ngapain? "
Melati tampak terkejut melihat sosok Kenzi, namun beberapa saat kemudian ia tersenyum. "Gue mau balikin buku yang gue pinjem. "
Alis Kenzi terangkat. "Baru dibalikin? Kena denda dong. " Melati menciutkan bibirnya, lalu mengangguk pelan.
"Eh btw lo balik kesini kapan? Kemarin? "
"Lusa, gue seminggu disini, setelah itu balik lagi. " ujar gadis itu sembari mengeluarkan cengiran khasnya, membuat Kenzi membalas dengan anggukan.
"Eh, gue balik dulu, ya? Udah ada yang nunggu. " ujar Kenzi, sembari tertawa geli.
"Siapa? Mawar? Cieee..." Melati menggoda Kenzi, membuat Kenzi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Sebenarnya Melati sudah sedari tadi melihat Kenzi manarik-narik Mawar. Tidak ada rasa apapun selain rasa senang pada hati Melati. Senang karena Kenzi kini terlihat serius. Serta senang karena Kenzi tampak sudah memantapkan hatinya untuk Mawar yang selama ini berjuang.
Tidak ada Mawar ditempat tadi, membuat Kenzi langsung berjalan kekantin. Ia berhenti tepat dipintu kantin, mata tajam pria itu mengitari penjuru kantin. Dan kini matanya terfokus, terhadap dua remaja yang tengah berbincang.
Lagi-lagi Kenzi menyesali kecerobohannya. walau perasaannya untuk Melati sudah tidak ada lagi, tapi tetap saja Kenzi menggerutui dirinya yang memilih menghampiri Melati dan meninggalkan Mawar.
Tangan Kenzi terkepal, ketika melihat Gibran mengusap lembut pipi Mawar, membuat Mawar tersipu malu. Mawar suka sama Gibran? Pikiran konyol itu masuk kedalam Otak Kenzi, membuat pria itu mengumpat lambat. Tidak mau berlama-lama dalam kesakitan, membuat Kenzi langsung melangkahkan kakinya untuk menjauh.
Maaf jelek.
Terima kasih banyak buat yang udah baca sampai akhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
Teen FictionCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
