Jangan lupa vote...
Malam ini Kenzi tengah menyiapkan keberangkatannya ke Padang. Kata sang Papa, dua bulan lebih lamanya mereka berada disana. Disatu sisi Kenzi senang, bisa sekalian berlibur disana. Disisi lain, Kenzi juga sedih, karena tidak bisa melihat Mawar. Dua bulan memang waktu yang singkat, namun karena menahan rindu, waktu dua bulan itu pasti terasa lama. Terlebih kini hubungannya dengan Mawar semakin memburuk, tentu membuat Kenzi memikirkan itu disana, dan membuatnya tidak nyaman.
Tok! Tok!
"Ma ada tamu! " teriak Kenzi dengan pandangan masih keponsel yang ada ditangannya.
"Abang aja yang bukain! " teriak Mama Kenzi, sukses membuat Kenzi berdecak keras lalu dengan malas Kenzi bangkit dari duduknya, berjalan kearah pintu utama.
Tampak sosok Gibran dan Mawar dari balik pintu, membuat Kenzi menegakkan tubuhnya. "Mawar, " ujar pria itu diiringi dengan senyuman, dan jangan lupakan mata pria itu yang berbinar.
"Hhm. " mendengar deheman dari Gibran, membuat Kenzi langsung menoleh kepria jangkung itu.
"Lo tadi minta bakso mang Udin 'kan?"
Kenzi menerima kantong plastik bewarna putih yang diberikan Gibran dengan senyuman yang merekah. "Makasi ya, lo emang sahabat gue. " ujar Kenzi semangat, diakhiri dengan tawaan geli.
Jadi tadi mereka tengah berkumpul dirumah Rio. Seperti biasa, Mawar menelpon Gibran, minta temenin makan bakso mang Udin. Mendengar itu, sontak Otak dan Rio bersorak heboh. Sedangkan Kenzi hanya diam, membuat Rio dan Otak menertawainya. Agar terlihat biasa saja, Kenzi basa-basi kapada Gibran, minta dibelikan bakso mang Udin.
Kenzi meringis, lalu membasahi bibirnya. "Eung...lo mau langsung pulang, Bran? Masuk dulu. " agar bisa melihat Mawar lebih lama, karena itu Kenzi menyuru Gibran untuk mampir terlebih dahulu.
Gibran seakan berfikir, lalu menoleh ke sosok gadis yang ada disampingnya. "Gue langsung pulang aja deh, ini udah malem banget. "
"Eh Mawar, eung...lo udah tau kalau besok gue mau ke padang? Lo ikut, ya, nganterin gue kebandara besok," ujar Kenzi penuh harap.
Wajah Mawar terlihat datar saja, senyuman kecil saja tidak bisa terukir diwajah cantik gadis itu. "Buat apa gue nganterin orang kayak lo. Buat apa gue ngabisin waktu gue, buat orang yang nggak peduli sama gue, buat orang yang udah nyakitin gue. "
Mulut Kenzi langsung tertutup rapat mendengar itu, pria itu mengangguk lambat, sembari memaksakan senyumannya.
Sedangkan Gibran memandangi Kenzi dengan wajah datarnya. Tampak kini Kenzi tengah membuang muka. Gibran sangat yakin kalau Kenzi kini tengah menahan tangis, membuat Gibran ingin beranjak, karena Gibran tahu Kenzi tidak akan mau orang melihatnya menangis. "Gue balik dulu, ya. Besok gue sama yang lainnya bakal nganter lo. " Kenzi hanya membalas dengan anggukan kecil, lalu pria yang tampak sendu itu langsung masuk kedalam rumah.
🐰🐰
Jam terbang Kenzi berbeda dengan kedua orang tuanya, Mama sama Papa dapat jam terbang pukul tiga dini hari, sedangkan Kenzi dan Kira pukul setengah sebelas.
Rio, Otak, Gibran, bahkan Melati, ikut mengantarkan Kenzi menuju bandara, tapi tidak dengan Mawar. Ketidak hadiran Mawar membuat wajah Kenzi menyendu sedari tadi. Matanya tidak terfokus kepada para sahabat yang ada didepannya, melainkan sibuk mengitari setiap sudut bandara, berharap matanya menangkap sosok Mawar.
"Bran, Mawar nggak dateng? " tanya pria itu, sembari menggaruk-garuk lehernya yang tidak gatal.
"Mungkin Mawar sekolah kali. " celetuk Otak, membuat Rio yang ada disampinnya langsung menjitak kepala pria itu, pasalnya ini hari minggu.
"Eung..." Gibran ingin berkata, tapi seakan tidak enak, takut Kenzi sedih. "Mawar katanya sibuk. " bohong Gibran.
Tadi Gibran menjemput Mawar, mengajak gadis itu untuk mengantarkan Kenzi. Tapi gadis itu langsung menoleh mentah-mentah, mengatakan ia tidak akan berurusan dengan Kenzi lagi.
Kenzi berdecak kecil, sembari melihat jam tangan hitam yang melingkar dipergelangan tangannya. "Yaudah. Kalian mau oleh-oleh apa?" tanya pria itu, sembari mengangkat dagunya.
"Gue terserah aja, yang penting banyak dan mahal. " jawab Otak, membuat Kenzi mengumpat kecil.
Pemberitahuan menggunakan bahasa inggris itu terdengar, membuat Kenzi menegakkan tubuhnya. Pria itu memandang malas wajah Otak. "Jangan kangen sama gue. " Kenzi ke Padang memang bukan untuk selamanya, tapi ia sangat berat meninggalkan para sahabat laknatnya ini. Tentu waktu yang ia habiskan dipadang nanti terasa berbeda, tanpa kehadiran tiga sahabatnya ini.
"Yaudah, nggak usah peluk-peluk kali." ujar Otak, seraya memeluk Kenzi, membuat Rio mengumpat keras, sedangkan Gibran dan Melati tertawa kecil.
"Lo selamanya aja disana. " lanjut pria tengil itu, ia mendorong tubuh Kenzi untuk menjauh, sedikit jijik rasanya berpelukan sesama batang.
"Bang Feldi Kila pamit dulu, ya. Kila bakal balik kok," ujar gadis itu dengan polosnya.
"Kira, nama dia Otak, bukan Ferdi." Otak menjitak kepala Rio yang telah memberikan ajaran sesat kepada gadis kecil itu.
"Kok namanya Otak? Emang bang feldi nggak punya otak? " semua orang selain Otak tertawa terbahak-bahak. Bahkan Gibran yang pendiam pun, kini suara tawanya terdengar dengan jelas.
Otak berjongkok, manyamakan tinggi badannya dengan Kira. "Kira, bilangin sama bang Kenzi, pulangnya harus cepat, bila perlu besok harus pulang. "
Kenzi yang tengah berbicara dengan Gibran, menoleh kearah Otak, lalu pria itu tersenyum simpul. Otak memang begitu.
"Melati, makasi udah ngaterin gue. " setelah berkata itu Kenzi tidak lupa memeluk Melati. Tentu pelukan itu rasanya jauh berbeda dengan dulu.
Kenzi membimbing Kira, dan satu tangannya lagi mulai mendorong koper, dan berjalan menjauh dari para sahabatnya itu.
Hati Kenzi terasa gundah, memikirkan Mawar yang tidak datang, sebenci itu Mawar kepadanya. Kenzi membalikkan badannya, berharap ia melihat sosok Mawar, tapi yang ia lihat hanyalah para sahabatnya yang tengah melambai-lambaikan tangan.
🐑🐑🐑
Disatu sisi, didalam mobil, Mawar menangis sembari mengacak rambutnya dengan frustasi. "Kenapa lo suruh gue buat ikut nganterin lo? Sedangkan Melati ada disana. Udah gue bilang Ken, jangan mainin perasaan gue. " gadis itu melirih dalam tangisannya. Bayangan Kenzi yang tengah memeluk Melati, kembali terlintas di otak Mawar, membuat hatinya serasa remuk.
Terima kasih banyak buat yang udah baca sampai akhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
Teen FictionCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
