5

1.2K 361 536
                                        

05. Regan Kejam Juga Baik

Pagi ini, 11 IPA1 sedang melaksanaka pelajaran olahraga. Beruntung matahari pagi ini bisa bersahabat dengan mereka. Jika tidak, bisa dipastikan perkumpulan gadis-gadis pecinta skincare akan memberontak pada Pak Gino, guru olahraga mereka.

Pak Gino langsung meniupkan pluitnya, tandanya seluruh murid harus berbaris dilapangan.

"Regan, tolong ambilkan lima bola basket diruang olahraga," suruh Pak Gino pada Regan yang dibalas decakan lelaki itu.

"Ayo Lin, temenin gue," ajak Regan pada Olin yang sedang berbincang dengan Nayla, teman sebangkunya.

"Hei Regan! Saya nyuruh kamu sendiri, bukan berdua," teriak Pak Gino yang tak dihiraukan oleh Regan.

"Yaelah Pak, kan bola tuh ada lima, tangan Regan ada dua, tiga lagi gimana tuh Pak bawa bolanya?" ucap Mario yang dibalas dengusan malas oleh Pak Gino.

***

Kini keduanya memasuki ruangan yang dipenuhi peralatan olahraga dan juga debu. Beberapa kali Olin menggosokkan hidungnya akibat debu yang beterbangan.

"Regan, bolanya dimana?" tanya Olin.

"Mana gue tahu," balas lelaki itu. Ia terus mencari bola yang diinginkan guru menyebalkan itu.

"Gue ragu, ini kayaknya lebih ke gudang deh bukan ruang olahraga. Bola basket segede itu aja gak keliatan, apalagi nanti kalau disuruh nyari bola bekel." Regan menggerutu. Ia terus menelusuri ruangan tersebut.

Akhirnya setelah mengelilingi ruangan yang gelap nan sempit ini, Regan menemukan bola basket tersebut, "Ya iyalah gak ketemu orang di taro dipojok," kata Regan, "Lin lo ambilin bolanya tiga, gue dua," lanjutnya.

Olin langsung menuruti perintah Regan. Tapi, saat ia hendak mengambil bola tersebut, ia melihat seekor kecoa berjalan diatas bola tersebut, membuat Olin langsung berteriak.

"AAA," teriak Olin bersembunyi dibalik punggung tegap Regan.

Regan yang merasa dipeluk dari belakang pun kaget, "kenapa lo?" tanya Regan sambil membalikkan badannya, guna menatap Olin yang gemetar.

"I-itu a-da kecoa," balas Olin terbata-bata. Dengan pelan, ia mengambil kecoa itu dan mengangkat bagian antena kecoa itu. "Ini?" tanya Regan memastikan.

Olin hanya menggangguk dengan terpatah-patah, keringat dingin sebesar biji jagung membasahi wajah cantiknya, wajahnya tiba-tiba pias saat melihat Regan mengangkat kecoa itu.

"Regan, tolong buang kecoanya," kata Olin pelan. Tapi, bukannya membuang, Regan malah mendekatkan kecoa tersebut pada wajah Olin, yang membuat Olin mundur.

"Masa gini doang takut," ejek Regan terus memajukan kecoa itu, dan Olin terus mundur hingga tak sadar punggungnya menabrak rak yang berisikan bola kasti, membuat bola tersebut mengenai kepalanya.

"Aduh," Olin mengaduh, kepalanya terasa sakit. Bayangkan ada tiga bola yang jatuh mengenai kepalanya yang mungil secara beruntun, ya meskipun rak tersebut tidak terlalu tinggi, tapi bagi Olin yang kecil, itu cukup tinggi sehingga membuat kepalabya secara berputar.

Regan yang melihat itu langsung membuang binatang itu ke sembarang arah, "Lo gak apa-apa?" tanya Regan yang dibalas anggukan oleh Olin.

Regan langsung memberikan dua bola berwarna jingga kepada Olin, "Nih, bawa," suruh Regan pada Olin.

Olin mengernyit heran, "kok cuma dua? Bukannya tiga" tanyanya memastikan tapi Regan tidak menjawab, ia malah pergi meninggalkan Olin yang terdiam diruangan tersebut.

***

Kini seluruh murid 11 IPA1 tengah duduk lesehan di kelasnya, ini diakibatkan pelajaran olahraga yang tak tanggung-tanggung lelahnya.


"Gila si karung Gino kagak tanggung-tanggung kalau kasih pelajaran," ucap Regan.

"Yeu, ini juga gara-gara elo juga kali," balas Mario ketus.

Regan menyatukan kedua alisnya, "Kok gue?" tanyanya heran.

"Ya kalau lo gak lama di ruang olahraga, mungkin kita gak bakal kayak gini,"balas Rafa.

Tiba-tiba Regan mengingat insiden di ruang olahraga, matanya berkeliling, mencari gadis yang tadi terkena jatuhan bola kasti, tapi naas gadis tersebut tidak terlihat.

Regan langsung mengalihkan pandangannya pada Naka yang tengah membuka kaos seragam olahraganya, membuat otot perutnya terlihat.

"Nak, boneka lo mana?" tanya Regan.

Naka langsung menoleh pada Regan yang tengah celingak-celinguk, "UKS, nganterin babu lo tuh, kagak tahu kenapa," gerutunya.

Tanpa babibu lagi, Regan langsung melangkahkan kakinya menuju UKS. Ia melihat Olin sedang tertidur dibrankar UKS.

Regan mendekati brankar yang ditiduri oleh Olin. Tiba-tiba rasa bersalah muncul di relung hati Regan. Seharusnya, Regan tidak memperlakukan Olin seperti tadi.

Saat sibuk dengan pemikirannya, suara Olin mengagetkan Regan, "Regan, kok disini? Regan butuh apa?" tanya Olin beruntun. Lihatkan betapa baiknya gadis ini? Disaat sakit pun ia memikirkan orang lain.

"Ah, engga, gue kesini cuma mau minta maaf," balas Regan

Kening Olin mengkerut, ia binggung, "Regan minta maaf buat apa?" tanyanya lagi

"Gara-gara gue lo masuk UKS."

"Ah, engga kok, emang tadi panas matahari aja, jadinya kepala aku agak pusing," ucap Olin sambil tersenyum manis. Membuat rasa bersalah dihati Regan kian membesar.

"Ini, gue bawain makanan buat lo, dimakan ya," kata Regan sambil menunjukkan kantong plastik yang ia bawa dari kantin sebelum kesini.

Dengan pelan, Regan membuka syrofoam yang didalamnya berisikan bubur ayam.

"Buka mulutnya," titah Regan sambi menyodorkan sesendok bubur dihadapan mulut Olin.

"Engh, tapi yang sakit kepala aku, bukan tangan aku," kata Olin polos.

"Gapapa, kali ini gue yang bantuin elo," balas Regan lembut membuat Olin tersenyum. Bolehkah kali ini ia meminta Regan bersikap baik pada dirinya untuk selamanya?

TBC

Gimana nih part bagian 5? Regan baik juga kan? Tenang gais, ada kalanya orang itu baik dan juga jahat. Xixixi

Jangan lupa vote, komen, dan share.

Semangat puasanya!

Regan & Caroline (LENGKAP)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang