Ini part terakhir. Jadi aku minta komen dan votenya, ya. Please.
Happy Reading
63. Janji yang ditepati(?)
Pagi ini ada yang aneh dari Caroline. Jayden menyadari itu. Bayangkan saja, matahari baru menampilkan sinarnya, gadis itu sudah sibuk dengan ponselnya.
"Kamu jadi admin olshop, ya? Sibuk amat sama handphone. Atau kamu lagi nunggu paket COD yang belum sampe? Apa kamu lagi nunggu chat dari seseorang?" Jayden bertanya.
"Enggak kok. Cuma cek hp aja," sanggah gadis itu. Padahal ia memang menunggu satu pesan dari seseorang.
Jayden mengangguk-anggukan kepalanya. Seolah percaya. "Oh, kalau gitu, ayo berangkat," ajak Jayden sambil menggendong tasnya.
"Kok tumben dia gak chat aku, ya," gumam gadis itu. Sedari tadi pikiran Caroline tertuju pada Regan. Belakangan ini lelaki itu kerap mengiriminya pesan. Tapi pagi ini, tak ada satu pesan yang masuk. Membuat gadis itu bertanya-tanya.
"LIN AYO! KEBURU TELAT." Teriakan Jayden membuat Caroline buru-buru menggendong tasnya. "Iya bentar."
Saat di dalam mobil pun, pandangan mata Caroline tertuju pada rumah minimalis yang terlihat sepi.
"Kayaknya dia udah berangkat."
****
Saat memasuki kelasnya, Caroline tidak menemukan lelaki itu. Kepalanya celingak-celinguk mencari keberadaan Regan. Tapi na'as, ia tak menemukannya di kelas.
"Lin, tumbenan lo sendiri?" tanya Naka.
"Kan aku emang duduk sama Nayla. Terus dia baru dateng bareng kamu," jawab gadis itu membuat Naka berdecak gemas.
"Bukan gitu maksudnya. Biasanya 'kan ada si Regan yang ngintilin lo." Nayla berucap mewakili pacarnya.
"Belum sampe kali. Tadi rumahnya juga sepi." Sepasang kekasih itu hanya menganggukan kepalanya.
Bahkan saat jam dinding menunjukan pukul enam lima puluh, lelaki itu tak kunjung datang. Membuat Caroline mendadak gelisah. Hal itu tak luput dari pandangan Nayla. "Napa lo?"
"Ini udah bel, tapi kok dia belum dateng ya, Nay?" Nayla menghela napas. "Mungkin telat atau ban mobilnya bocor." Nayla berusaha menenangkan Caroline. Diam-diam ia bertanya pada Naka atau Raka di mana lelaki itu, tapi keduanya lun tak tahu Regan ada di mana.
Murid XI IPA1 buru-buru kembali duduk dengan rapi karena tadi mereka duduk secara sembarang. "Ada Bu Ratna woi." Aldo sang ketua kelas mengintrupsi temannya.
Wanita yang Aldo sebutkan tadi memasuki ruangan itu. Matanya menatap anak muridnya. "Anak-anak, salah satu teman kalian mau pindah ...." Ucapan itu memasuki gendang telinga Caroline. Membuat aliran darah dan detak jantungnya seolah berhenti. Ia takut orang yang sedari tadi ditunggunya itu yang akan pindah. "Oleh karena itu, biarkan dia mengucapkan salam perpisahan kepada kita." Dengan gerakan tangan, wanita itu menyuruh siswanya masuk.
Dan saat itu juga, semuanya. Semua dugaan, semua presepsi ataupun hipotesis itu benar.
"Regan." Dengan gagap gadis itu menggumamkan nama lelaki itu seiring dengan tetesan air matanya yang meluruh.
"Hai guys," sapanya canggung. Lelaki dengan kemeja flannel itu melambaikan tangannya.
"Di sini, sebelumnya saya mau berterima kasih ke Bu Ratna. Udah mau menjadi wali kelas saya selama kurang lebih enam bulan ini. Udah mau mengajarkan saya banyak hal. Maaf juga sebelumnya saya sebagai siswa banyak menyusahkan Ibu." Guru itu hanya menggangguk. Tak ayal ia meneteskan air mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Regan & Caroline (LENGKAP)
Teen Fiction[Boleh follow dulu baru membaca. Supaya simbiosis mutualisme] Cover by pinterest Mula-mula, Regan sangat membenci Caroline. Lelaki itu dibutakan oleh cemburu akibat sang bunda yang terlalu menyayangi gadis itu. Tapi, semua itu berubah ketika Caroli...
