Perasaan gue ga penting, yang penting itu kebahagiaan lo.
-Zico-
_____________________________________
"Pelan-pelan Fa, ntar jatuh lo." Ucap Zico pada Syahfa yang beru saja keluar dari mobilnya. Zico sedikit tak yakin dengan Syahfa, gadis itu terlihat tersendat-sendat menggerakkan tongkat kruk andalan nya.
"Iya-iya, Sans aja Zico. Gue bisa kok, jangan khawatir gitu." Balas Syahfa.
"Hm." Sahut Zico yang berdiri tepat disamping Syahfa. Berjaga-jaga agar Syahfa tak jatuh.
Mata Syahfa dapat melihat Aka yang berada tak jauh dari mereka berdiri. Tampak nya Aka baru saja usai memarkirkan motor sport miliknya. Mereka berpas-pasan dan dapat dilihat Aka yang sedang memandang kearah Syahfa.
Aka hanya memberikan senyuman kecilnya pada Syahfa. Dapat dilihat senyuman yang mengandung luka disana. Tanpa basa-basi, Aka langsung beranjak dari sana. Meninggalkan tempat parkiran yang luas ini.
Aka begitu karena ia sedang menepati janjinya kepada Syahfa. Menerima resiko yang diberikan oleh Syahfa. Menjauh, melupakan, dan bersikap seolah-olah tak kenal dengan Syahfa. Walaupun itu perlahan dapat membunuh dirinya.
Zico yang berdiri tepat disamping Syahfa itupun tersadar dengan keadaan. Zico melirik kearah Syahfa yang tampak sedang memandang Aka yang kian menjauh.
"Mau sampai kapan pura-pura gak ada rasa, Fa?" Ucap Zico memecahkan keheningan antara mereka berdua.
"Hah?" Sahut Syahfa yang tiba-tiba tersentak dengan ucapan Zico barusan. "M-maksud lo?" Ulang Syahfa gelagapan.
"Mulut lo emang bisa bohong, tapi mata lo gak bisa. Kelihatan banget kalau rasa cinta lo ke dia masih besar." Ujar Zico yang dapat merasakan.
"Apaan sih! Gue gak suka sama dia!" Kilah Syahfa.
Zico menarik seulas senyum kecil nya. "Its oke kalau lo mau buat Aka merasakan sedikit apa yang lo rasain dulu. Kalau emang lo masih cinta sama dia sebaiknya lo akhirin semua ini. Takutnya lo bakalan nyesel nantinya fa." Nasihat Zico.
"Gak ada yang nyesel Zico." Sahut Syahfa.
"Soal perasaan gue lo gak perlu fikirin fa. Gue tau lo selama ini ngejaga perasaan gue kan? Tapi lo gak perlu bersikap kaya gitu, Kebahagiaan lo itu adanya di Aka, bukan gue. Lagi pun lo cuman gue anggap sebagai sahabat, gak lebih sedikit pun." Tutur Zico.
"Gue juga tau lo ngelepasin Aka karna atas dasar keterpaksaan kan? Cuman karna mau mentingin perasaan gue." lanjut Zico.
Syahfa meneguk saliva nya, kenapa pria disamping nya ini tau segala hal tentang dirinya. Syahfa merasa tidak enak dengan Zico. "E-enggak siapa b-bilang." Ujar Syahfa terbata.
"Udahlah fa, perasaan gue itu gak penting. Yang penting itu kebahagiaan lo fa. Pentingin diri lo sendiri, bukan orang lain." Jawab Zico.
"Lo bisa nya cuman ngomong, tanpa lo sadari Lo juga gak mentingin kebahagiaan lo. Gue tau rasa cinta lo ke gue itu belum pudar, lo cuman pura-pura kan kalau gak suka sama gue? Dan gue tau alasan lo nolak kita untuk pacaran." Balas Syahfa.
"Gue emang udah gak ada rasa sama lo fa, lo itu sahabat gue. Gak lebih sedikit pun." Tekan Zico berbohong.
"Gue juga ikhlas kok Aka pergi dari kehidupan gue. Dan gue ngerasa kalau gue itu gak pantes buat jadi milik dia. Gue gak sebanding kan sama dia." Ucap Syahfa mengingat kalimat yang pernah diucapkan oleh Aka dahulu.
"Itu dulu fa, sekarang ya sekarang. Jangan pernah ngelihat masa lalu kalau masa depan lo udah terlihat. Lo pantes banget sama Aka." Ucap Zico menyakinkan Syahfa, tak perduli seberapa terluka hati nya. "Soal ikhlas, Ikhlas lo itu bohong. Yang benar bukan ikhlas, melainkan terpaksa." Lanjut Zico.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKASYA
Teen Fiction🔴 END | SUDAH TERBIT PART MASIH LENGKAP > BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM BACA "Cih, cewek murahan!" "Udah tau Aka gak suka, masih aja dikejar-kejar!" "Gak ada harga dirinya!" "Jadi cewek tu punya harga dirinya kek!" "Urat malu nya udah putus kali." Berba...
