Duadelapan🔥

87.5K 7.2K 283
                                        

Aku gak tega.
Aka•
°°°

•H A P P Y   R E A D I N G•

Aka berjalan dengan tegap meyusuri koridor sekolah. Berjalan sendirian kali ini, meninggal kan teman-teman nya yang sibuk sebat diwarung mbak Poni.

Aka berjalan dengan kedua tangan yang ia masuk kan ke saku celana seragam nya. Baju seragam yang sudah meleber kemana-mana, pria itu tidak ada terlihat rapi-rapi nya sama sekali. Pria yang terkenal urakan namun mampu membuat kaum hawa menjadi tergila-gila dengan sikap dingin dan ketampanan wajah nya.

"Adelard!" Panggil Bu Desi. Sangat bodoh Aka berjalan melewati kantor kepala sekolah.

"Aka Bu." Bantah Aka, Pria itu tak suka dipanggil dengan sebutan adelard.

"Ibu gak salah kan? Nama kamu jelas- jelas Adelard. Tuh terpampang jelas di badge name kamu, Adelard Keenan Aldari." Ucap Bu Desi menunjuk ke arah dada Aka.

"Iya-iya, ibu gak salah. Terserah ibu deh." Ucap Aka. "Tapi panggilan nama saya Aka ibuu." Lanjut nya gemas.

"Terserah lah, mau nama kamu Aka. Adelard, Ibu gak perduli." Sahut Bu Desi nyolot.

"Lah, kok ibuk yang sewot?. Nama-nama saya kok ibu yang nyolot."

"Apa kamu bilangg?!! Kamu ya, bisa nya melawannn guru terusss. Guru capek sama tingkah laku kamu Adelard." Celoteh Bu Desi.

"Melawan melawan gini, toh tetep juara Bu. Malahan saya paling pinter kimia seangkatan." Ucap Aka sombong mematah kan perkataan Bu Desi.

"Percuma pinter tapi bodoh di akhlak." Celetuk Bu Desi.

"Iri bilang bu." Ucap Aka santai.

"Kamu ya!" Murka Bu Desi yang tak tahan dengan Aka yang selalu menjawab kalau di kasih tau. "Guru itu ngomongin yang baik, bukan yang jelek." 

"Astagaa!" Spontan Bu Desi kaget melihat penampilan Aka yang tak ada rapi-rapinya. "Gak ada rapi-rapinya ya kamu, Masukkin baju nya! Ni lagi rambut, rapiinn!!"

"Bu penampilan itu gak ada hubungan nya sama belajar, dasar nya pinter ya pinter." Jawab Aka.

"RAPIINNN!!" Jerit Bu Desi yang tak tahan. Sontak Aka berjengit, merapikan semua penampilan nya yang urakan.

"Nah, gini kan enak dilihat." Puji Bu Desi melihat Aka yang sudah terlihat sedikit rapi.

"Yaudah bu, byee." Ucap Aka melenggang pergi dari hadapan Bu Desi. Namun, dengan cepat Bu Desi mengahalau jalan Aka.

"Apalagi Bu? kangen?" Ucap Aka pada guru yang masih muda, sekiranya berkepala 3.

"Kamu ya!" Kesal Bu Desi.

"Ampun Bu."

"Tolong ambilin Absensi kelas kamu di gedung Renang, Pak manu lupa bawa nya." Pinta Bu Desi.

"Lah kok ibu nyuruh saya? Yang lupa bawa siapa? Pak manu kan, Yaudah suruh pak Manu aja yang ambil lagi." Sanggah Aka dengan santai nya.

"Bisa-bisa nya ya kamuu!" Gerutu Bu Desi. "Udah sana ambil, jangan ngebantah aja kerjanya!"

"Tapi buuu, saya males. Orang gak saya yang ninggalin tu absen. Suruh ketua kelas aja gih, Si Halim enak-enakan tuh duduk dikelas." Aka tetap kekeh untuk menolak. Ia paling anti disuruh-suruh seperti ini.

"ADELARDDDDD!!!! JANGANNNN NGEBANTAHHHHH!!!!" Teriak Bu Desi menggelegar membuat Aka berjengeit. Kalau sudah begini, mau tak mau ia harus melakukan apa yang disuruh oleh guru fisika nya itu.

Aka paling anti kalau sudah disuruh seperti ini. Dengan berat hati, ia melangkahkan kakinya ke gedung renang, mana tu gedung jauh lagi.

"Anjing lah!" Gerutu Aka, Sepanjang jalan ia terus mengumpat. Kalau ada teman-teman nya pasti mereka yang akan Aka suruh.

Langkah Aka terhenti tepat di gedung yang cukup luas. Berdiri tepat didepan pintu gedung itu. Aka langsung membuka nya. Namun, pintu itu terkunci. Aka mencoba membuka dengan pintu itu, akan tetapi juga tidak mau terbuka.

Tak sengaja mata Aka menemukan kunci pintu itu pada sebalik tong sampah. Tangan nya terulur mengambil kunci itu. Mencoba membuka nya dan alhasil pintu itu pun terbuka lebar.

Aka melangkah kan kakinya masuk kedalam ruangan yang terasa sejuk ini. Tanpa berlama-lama, Aka langsung menuju ke ruangan yang biasanya pak Manu tempati. Ia mencari-cari buku absensi kelas mereka.

Aka mendapati buku itu dan bergegas keluar dari sana. Ia berjalan Melewati beberapa kolam renang. Matanya tertuju pada salah satu kolam renang, seketika Aka mengerut kan dahinya, menatap dari kejauhan, matanya mampu menangkup air kolam renang yang berbuih dan bergerak-gerak.

"Apaan tuh." Gumam Aka, Ia ingin berjalan kesana. Namun, langkah nya seakan-akan tertahan. Aka menghentikan langkah nya saat ingin menuju kesana. Membalik kan badan nya berjalan kembali menuju pintu utama gedung. Ingin Cepat-cepat keluar dari dalam sana.

Aka meraih kedua pintu besar itu ingin menutup dan mengunci nya kembali. Akan tetapi, hatinya masih berat untuk melihat sesuatu yang terjadi pada kolam renang tadi. Tak biasanya kolam renang itu seperti tadi.

"Apa jangan-jangan ada yang tenggelam?!" Gumam Aka, dengan kasar Aka kembali membuka pintu. Berlari dengan langkah lebarnya menuju kolam renang.

Aka melirik ke kolam renang yang paling dalam. Mata nya membulat, tak percaya dengan sesuatu yang ia lihat sekarang.

"SYAHFA?!" Teriak Aka. Spontan Aka melemparkan buku yang sedari tadi ia genggam. Melepaskan kedua sepatunya, dengan cepat terjun ke kolam renang yang paling dalam.

Aka berenang menghampiri Syahfa yang sudah berada didasar kolam. Perempuan itu terlihat begitu lunglai dan tak berdaya. Dengan sigap Aka menarik pinggang Syahfa ke dalam dekapan nya. Membawa gadis itu untuk naik ke permukaan. Sungguh terasa tak berdaya Syahfa sekarang.

Aka membaringkan tubuh syahfa di pinggir kolam. Terlihat begitu lemah Syahfa kali ini, Dengan sekujur wajah yang pucat. Terlebih dengan bibir dan wajah nya yang seperti tak dialiri darah, benar-benar sangat pucat.

"Fa, Syahfa!" Aka menepuk-nepuk pipi syahfa, berusaha menyadarkan nya. Aka terus memanggil Syahfa. Memeriksa denyut nadi dan nafasnya. Denyut nadinya terasa lemah, Begitu juga dengan nafas Syahfa yang sangat lambat, tak normal.

"Fa,bangun fa! Jangan bercanda plis." Ucap Aka yang duduk disamping Syahfa. Aka terus menepuk nepuk pipi Syahfa, berusaha menyadarkan nya.

"Fa, ini bukan saat nya lo untuk caper ke gue. Jangan bercanda!" Tekan Aka.

Aka memeriksa detak jantung Syahfa. Aka terkejut, detak jantung Syahfa kian melambat. Bahkan seperti berhenti berdetak.

"Fa, jangan mati fa!"

Mau tak mau, Aka bergegas memberi nafas buatan pada Syahfa. Menaikkan leher Syahfa dan menutup hidung nya. Dengan cepat Aka menempelkan mulut nya pada mulut Syahfa, Meniupkan nafasnya kuat.

Percobaan pertama nihil, tak ada hasil. Malahan jantung Syahfa semakin melemah. Nafasnya kian tak terasa.

Aka mencoba terus, dengan percobaan ke tiga kalinya. Alhasil Syahfa tersedak, memuntah kan banyak air dari dalam tubuh nya. Namun, Syahfa masih setengah sadar. Syahfa tak juga kunjung membuka matanya. Aka kembali memeriksa detak jantung Syahfa. Akan tetapi, jantung Syahfa tetap melemah.

Tak ada pilihan lain, Aka menggendong Syahfa membawanya keluar dari sana dalam keadaan tubuh yang basah. Aka akan membawanya kerumah sakit sekarang.

-----------------------------------------------------------------

THANKYOU FOR READING ❤️
See you next part...

Jangan lupa vote dan komen hehe
Biar makin semangat up nya

Bye..

AKASYACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang