definisi kehilangan dulu baru bisa menghargai.
republ,-
Pukul 01.45
Aka kembali ke rumah sakit tempat Syahfa di tangani. Dengan kondisi tubuh yang cukup sakit-sakit. Lebaman dan goresan luka terdapat di wajah Aka, tangan nya juga habis tergores-gores. Tapi dia tak perduli akan diri nya itu, yang terpenting adalah Syahfa saat ini. Syahfa seseorang yang terpenting dihidup nya sekarang.
Aka berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang terlihat begitu sepi. Tentu saja, sekarang sudah larut malam, dapat dikatakan sudah dini hari. Aka berjalan menuju ruangan IGD yang terdapat di ujung sana. Mata Aka dapat melihat sebuah pria berjas putih yang baru saja keluar dari ruangan IGD. Dengan cepat Aka berlari dengan langkah lebar nya menghampiri dokter itu.
"Dok, gimana keadaan Syahfa?" Ucap Aka penuh perhatian, sangat khawatir dengan kondisi Syahfa sekarang. Dan ia harap dokter ini akan memberikan pernyataan baik tentang Syahfa nanti nya.
"Kondisi pasien sangat memburuk, jantung nya melemah. Pasien mengalami luka yang sangat parah diotak nya, mengalami pembekuan darah pada otak. sel-sel yang terdapat di kepala pasien juga mengalami kerusakan yang cukup parah. tengkorak bagian belakang kepala nya mengalami keretakan. Semua itu seperti nya dikarenakan benturan yang sangat hebat di kepala."
"Kedua kaki pasien mengalami patah tulang, dan tangan kanan nya terkilir. Pasien banyak sekali mengeluarkan darah dari kepala nya. Darah bagian kepala itu sangat rentan dan sekarang pasien harus banyak membutuhkan pendonoran darah. Tercatat, pasien membutuhkan sebanyak 8 kantong darah. Sementara di rumah sakit kami hanya tersisa 5 kantong yang golongan nya sama dengan pasien."
"Jadi kami harap anda mencari pendonor lain. Demi keselamatan pasien, akan kami tunggu sampai besok pagi. Semakin cepat, semakin memungkin kan pasien akan selamat. Jika telat sedikit pun, pasien akan tidak tertolong. Dan kami akan melakukan operasi setelah itu." Tutur Dokter itu panjang lebar.
"Ambil darah saya dok! ambil sebanyak-banyak nya, demi keselamatan dia!" Titah Aka.
"Golongan darah mas nya apa?" Tanya suster yang berdiri tepat disamping dokter itu.
"B sus." jawab Aka, ia berharap sekali semoga golongan darah nya sama dengan syahfa.
"Wah, golongan darah pasien A." Sahut suster itu dengan nada yang sedikit kecewa.
Spontan pundak Aka menurun, badan nya melemas. ekspresi nya berubah seketika menjadi sendu. "Lakukan yang terbaik susss, sayaa mohonnn! Selamatkan Syahfaaa.."
"Soal biaya dan administrasi nya akan saya tanggung berapa pun itu biaya nya."
"Lakukan operasi sekarang saja dok.." Mohon Aka dengan air mata yang menetes sedari tadi.
"Tenang mas, pihak kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien." Jawab suster.
Aka mengalihkan tatapan nya melirik ke arah dokter yang masih berada disana.
"Operasii sekarang dokkk! Segeraaa, jangan ditunda-tunda!" Titah Aka. Ia tak mau sedikit pun waktu terlewat untuk Syahfa.
"Tidak bisa, pasien akan dioperasi setelah mendapat pendonoran darah."
"Baik kami permisi." Pamit nya langsung pergi meninggalkan Aka begitu saja.
Aka mengacak rambut nya frustasi, mengusap kasar wajah nya yang tak karuan. Aka menduduk kan dirinya pada kursi tunggu rumah sakit. Menutup wajah nya menggunakan telapak tangan, Aka kembali menangis. Tangisan nya cukup terisak kali ini. Entah lah, ia merasakan sesuatu yang sesak didada nya. Ia tak akan bisa memaaf kan diri nya sendiri jika terjadi sesuatu yang tak diingin nanti nya pada Syahfa.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKASYA
Genç Kurgu🔴 END | SUDAH TERBIT PART MASIH LENGKAP > BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM BACA "Cih, cewek murahan!" "Udah tau Aka gak suka, masih aja dikejar-kejar!" "Gak ada harga dirinya!" "Jadi cewek tu punya harga dirinya kek!" "Urat malu nya udah putus kali." Berba...
