[ TELAH TERBIT | PART MASIH LENGKAP ]
"Tuhan memang satu, kita yang tak sama."
- A. Darian Aksata
"Tolong tanyakan pada Tuhanmu, bolehkah aku yang bukan umat-Nya mencintai hamba-Nya?"
- Jasmine Saras Alkaren
"Aksa dan Saras hanya ditakdirkan untuk b...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ada banyak kebetulan yang terjadi di antara kita. Namun, bukankah kebetulan hanya pengalihan nama dari sebuah takdir?"
— Jasmine Saras Alkaren —
•••
Insiden tepung dua hari lalu itu masih membayang-bayangi Saras, membuatnya pusing untuk memecahkan teori di balik kejadian tersebut. Bukan tanpa alasan Saras berpikir keras untuk memecahkan teorinya, sebab menurut gadis itu, insiden tepung tersebut mengandung unsur yang mencurigakan.
Contohnya saja pada si pelaku, Cherry van der Berg, adik kelasnya yang super rempong dan satu circle dengan Daisy itu seolah-olah dikendalikan oleh seseorang untuk melakukan hal tersebut. Cherry yang terkenal rempong dan feminin abis itu tidak mungkin berbuat jauh, apalagi sampai berani melawannya dan nekat menyiram dirinya dan Aksa setelah mendapat ancaman. Gadis itu seperti dikendalikan oleh seseorang, hanya itu yang Saras tahu. Lalu, bukankah Daisy juga tidak menyukainya? Mengapa gadis itu tidak bergabung dengan Cherry untuk mem-bully-nya dan juga Aksa?
Oh, juga jangan lupakan bahwa kemarin Saras mendengar desas-desus tentang Cherry yang diskors seminggu karena tindakannya itu. Sebenarnya tidak ada yang aneh dari fakta tersebut. Hanya saja ... siapa yang telah melaporkan tindakan Cherry sampai gadis itu mendapat hukuman atas tindakannya? Seperti yang seluruh murid SMA McKenzie tahu, Cherry adalah anak dari salah satu donatur terbesar di SMA McKenzie. Mustahil gadis itu mendapat hukuman jika tidak ada seseorang yang mendesak kesiswaan untuk berlaku adil pada setiap tindak perundungan.
Siapa sebenarnya orang yang telah melaporkan Cherry ke kesiswaan?
"Hadeh, gini amat kalau lagi enggak punya duit. Enggak bisa beli masker rambut," monolog Saras miris di depan meja riasnya. Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin yang sedang mengusap hair vitamin ke rambutnya yang sedikit basah.
Saras biasanya rutin merawat rambutnya dengan masker rambut. Pun, di saat rambutnya masih masih tampak sehat dan kuat, gadis itu tetap merawatnya. Namun, sayang sekali, Saras kini tidak bisa membeli masker rambut karena harus berhemat, padahal saat ini rambutnya sangat membutuhkan perawatan setelah dua hari lalu terkena lemparan tepung.
Wooz ... Wooz ... Wooz ....
Suara dari hairdryer yang Saras gunakan untuk mengeringkan rambutnya itu menggema di sekeliling kamar. Sore ini ia berniat mengisi acara di pesta ulang tahun sepupu Gerald. Ya, Saras sudah mempertimbangkan untuk kembali bernyanyi di depan banyak orang setelah lama vakum dari kegiatan menyenangkan itu. Dan Gerald mengatakan akan menjemputnya lima belas menit lagi karena Saras tidak mau menyetir mobil mewahnya. Yang ada, orang-orang di sana akan mencibirnya pamer kekayaan karena membawa Lamborghini SC20 hanya untuk menghadiri pesta ulang tahun anak kecil.
Kling!
Suara notifikasi chat menyeru nyaring. Saras yang sedang menggambar alis pun melirik sedikit ke layar ponselnya yang menyala.