[ TELAH TERBIT | PART MASIH LENGKAP ]
"Tuhan memang satu, kita yang tak sama."
- A. Darian Aksata
"Tolong tanyakan pada Tuhanmu, bolehkah aku yang bukan umat-Nya mencintai hamba-Nya?"
- Jasmine Saras Alkaren
"Aksa dan Saras hanya ditakdirkan untuk b...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kamu selalu muncul saat aku membutuhkan pertolongan. Bolehkah aku menganggap hal itu bukan sekadar kebetulan?"
- A. DarianAksata -
•••
Azan magrib berkumandang di komplek perumahan Tirta Andara. Seruan itu berasal dari sebuah masjid yang posisinya tak jauh dari kediaman keluarga Darma. Mendengar itu, Aksa yang tengah mengerjakan tugas langsung menghentikan aktivitasnya dan bergegas mengambil air wudu untuk menunaikan salat magrib.
Terdengar langkah kaki yang terkesan terburu-buru mendekati kamar Aksa saat lelaki itu baru saja menggelar sajadahnya. Tak lama kemudian, ketukan pintu yang membabi buta terdengar jelas bersamaan dengan teriakan Tiara yang memanggil nama Aksa dengan nada marah.
"Aksa! Aksa! Buka pintunya!"
Karena tak ingin membuat bundanya semakin marah, Aksa pun membuka pintu kamarnya. Namun, tak diduga-duga, Tiara langsung mendorong tubuhnya hingga Aksa jatuh tersungkur di lantai kamar yang keras. Sikunya memerah akibat serangan Tiara yang tiba-tiba.
"K--kenapa, Bunda?" tanya Aksa melalui isyarat. Tangannya sampai bergetar karena terkejut dengan amarah Tiara yang meledak secara tiba-tiba.
"Kamu dan segala tindakanmu itu benar-benar membuat saya muak!" maki Tiara, wajahnya memerah dengan mata yang melotot marah. "Untuk apa kamu bertengkar dengan kakak kelas di hari pertamamu sekolah, hah?!"
Sekarang Aksa mengerti. Ternyata bundanya sedang membahas masalah tadi pagi saat ia membuat Kalva marah setelah tidak sengaja menumpahkan teh hangat ke almamater milik lelaki itu. "Bunda, ini tidak seperti yang Bunda dengar. Aku tidak--" Belum sempat Aksa menjelaskan, Tiara sudah menyela ucapannya.
"Kamu pikir saya akan percaya? Ingat, Aksa, kamu ini pembawa sial! Di mana pun kamu berada, pasti selalu terjadi masalah!" bentak Tiara tepat di depan wajah Aksa. Wanita itu menuding wajah sang anak seolah-olah dia adalah pelaku kejahatan yang tak termaafkan. "Kamu ini selalu membuat saya malu! Setiap hari semua orang membicarakan tentang kamu! Dan sekarang, dengan seenaknya kamu membuat masalah di sekolah baru?! Memangnya, saya kurang baik apa sama kamu?! Mengapa kamu selalu menyusahkan saya, Aksa?!"
Bagai tertusuk belati, perasaan Aksa berdarah-darah begitu mendengar keluh kesah sang bunda tentang dirinya. Tiara bilang Aksa adalah pembawa sial. Tiara bilang Aksa selalu membuatnya malu. Tiara bilang Aksa selalu menyusahkannya. Tiga kalimat itu sudah sering Aksa dengar dari mulut sang bunda. Namun, tak pernah sekalipun ia mendengar Tiara mengatakan bahwa Aksa adalah darah dagingnya. Miris, bagaimana bisa seorang ibu hanya mengatakan hal-hal buruk pada darah dagingnya sendiri.