[ TELAH TERBIT | PART MASIH LENGKAP ]
"Tuhan memang satu, kita yang tak sama."
- A. Darian Aksata
"Tolong tanyakan pada Tuhanmu, bolehkah aku yang bukan umat-Nya mencintai hamba-Nya?"
- Jasmine Saras Alkaren
"Aksa dan Saras hanya ditakdirkan untuk b...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Belajar dulu menghargai perasaan orang lain kalau mau perasaan lo dihargai."
— Gallardo Gerald Devano —
•••
BRUK!!!
Saras dan Leo terkejut dengan suara benda jatuh yang tiba-tiba terdengar. Keduanya kompak memisahkan diri. Tatapan mereka terfokus pada sebuah pemandangan di luar sana yang menampilkan sosok lelaki berkacamata yang sedang kesulitan mendirikan motornya yang jatuh ke aspal.
"Aksa!" Saras yang pertama kali sadar bahwa lelaki itu adalah Aksa. Ia segera mendorong Leo untuk membuka aksesnya, lalu berlari menuju lantai bawah.
"Jadi, dia udah dateng? Baguslah," gumam Leo dengan smirk yang mengembang di bibirnya. Lelaki itu kemudian mengikuti jejak Saras yang berlari ke lantai bawah.
Sementara di luar sana ....
"Sa! Ya Allah!"
Aksa menoleh ke sumber suara. Siapa yang baru saja memanggilnya? Perasaan sejak tadi ia hanya berdiri sendiri di sini. Tidak ada orang lain karena suasana perumahan ini sangatlah sepi.
Gerald? Aksa terbengong-bengong ketika sosok lelaki berjaket cokelat itu berlari mendekatinya.
Gerald? Apa yang dilakukannya di sini? Perumahan ini jelas bukan tempat tinggalnya. Lagipula, jarak antara perumahan ini dan perumahan Gerald cukup jauh bila ditempuh dengan kendaraan roda empat. Namun, apa yang Aksa lihat saat ini? Lelaki itu mengendarai motor?
"Sa, sini biar gue bantu." Tanpa menunggu konfirmasi dari Aksa, Gerald segera membantu sahabatnya itu untuk mendirikan motornya yang jatuh ke aspal. Entah apa yang Aksa lakukan pada vespa tua itu, tetapi terdapat beberapa lecet di sisi motor yang terjatuh menyentuh aspal.
"Nah, udah nih," ucap Gerald yang kemudian menyangga motor Aksa dengan standarnya. "Btw, motor lo kenapa, Sa? Kok bisa jatoh kayak tadi?"
"Terima kasih sudah membantuku, Gerald. Tadi aku tidak sengaja menyenggol motorku hingga terjatuh ke aspal." Aksa menggerakkan tangannya, berusaha menjelaskan pada Gerald mengapa motornya bisa terjatuh. Namun, sesaat kemudian lelaki itu teringat akan sesuatu dan langsung menuliskan maksudnya di memo ponsel.
"Oh gitu." Gerald mengangguk-angguk mengerti setelah membaca tulisan di memo ponsel Aksa. "Lah, terus lo ngapain di sini? Ini rumah siapa?"
Tatapan Aksa beralih pada rumah megah di depan mereka. Siapa pun dapat melihat bahwa tatapan mata lelaki itu sendu ketika berusaha menganalisis siapa pemilik rumah tersebut.
"Rumah siapa, Sa?" tanya Gerald untuk kali kedua, seakan mendesak Aksa untuk menjawab pertanyaannya itu. Namun, belum sempat Aksa menjawab pertanyaan Gerald, dua orang berbeda gender tiba-tiba muncul dari balik pintu rumah megah tersebut dengan tergesa-gesa.