[ TELAH TERBIT | PART MASIH LENGKAP ]
"Tuhan memang satu, kita yang tak sama."
- A. Darian Aksata
"Tolong tanyakan pada Tuhanmu, bolehkah aku yang bukan umat-Nya mencintai hamba-Nya?"
- Jasmine Saras Alkaren
"Aksa dan Saras hanya ditakdirkan untuk b...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Banyak pasang mata yang menatapnya karena ia tidak sempurna. Namun, aku menatapnya karena ia berharga. Who cares? I love my man!"
- Jasmine Saras Alkaren -
•••
"Aku suka kamu."
Saras menutup wajahnya dengan bantal begitu bayangan wajah Aksa melintas di pikirannya. Entah apa maksud tulisan lelaki itu tadi siang, Saras tidak tahu pasti karena ia segera mengalihkan topik pembicaraan dengan menarik buku yang ada di dalam tas Aksa secara random. Kebetulan saat itu ritsleting tas Aksa memang terbuka karena lelaki itu baru saja mengeluarkan beberapa baut motor yang disimpannya di dalam tas.
"Buku kamus bahasa isyarat?" Saras membolak-balikan buku yang saat ini tengah ia genggam. Jadi, buku yang tadi tak sengaja ia ambil dari tas Aksa adalah kamus bahasa isyarat?
Sebenarnya bukan mengambil, sih, karena tadi Saras sempat meminta izin pada Aksa untuk meminjam buku tersebut meski dengan wajah yang memerah karena menahan malu.
"Oh ... jadi gini, ya, rasanya jadi Aksa?" Saras membaca buku itu dengan saksama sambil sesekali mempraktikkan gerakan tangan yang ada di buku tersebut.
"Beberapa gerakan untuk mengucapkan kata yang umum digunakan enggak begitu sulit ternyata. Hmm ... apa gue coba belajar bahasa isyarat aja kali, ya? Kalau gue bisa baca atau bahkan berbicara dalam bahasa isyarat, komunikasi gue sama Aksa 'kan bisa lebih mudah lagi!" Entah angin apa yang membawa Saras hingga gadis itu serius ingin belajar bahasa isyarat. Saras hanya merasa bahwa ia harus mempelajari bahasa itu karena jika dirinya bisa berbahasa isyarat, komunikasinya dengan Aksa akan berjalan lancar tanpa hambatan.
Aksa adalah satu-satunya teman yang tidak begitu dekat dengan Saras, tetapi lelaki itu bisa memahami Saras lebih-lebih dari empat sahabatnya di MOXIE. Aksa memandang Saras dari sisi yang berbeda. Jika kebanyakan murid McKenzie takut dengannya karena ia terkenal sebagai ketua geng paling berpengaruh di sekolah, Aksa adalah pengecualian. Lelaki berkacamata itu bahkan tidak takut pada Saras saat kali pertama mereka bertemu, padahal saat itu Saras beberapa kali membentaknya disertai dengan umpatan kasar.
"Gue pengen bisa mengerti lo, Ssa," ucap Saras sungguh-sungguh. Tanpa gadis itu tahu, dirinya telah jatuh dalam pesona seorang Darian Aksata yang dikenal dengan ketidaksempurnaannya. Lelaki itu cacat, tidak bisa bicara, dia adalah seorang tunawicara. But who cares? Saras nyaman berada di dekat Aksa.
Tok! Tok! Tok!
"Ras! Buka pintunya, gue mau masuk!"
Suara ketukan pintu dan suara Kalva yang cukup keras membuat Saras menghentikan kegiatan membacanya. Gadis itu terlebih dulu mengecek penampilannya sebelum membukakan pintu untuk Kalva. Oke, ia mengenakan kaos polos berwarna peach dengan legging hitam. Untuk alasan yang tak jelas, Saras tidak ingin lagi mengenakan pakaian terbuka di depan sang kakak. Tindakan Kalva terakhir kali membuat Saras sadar bahwa lelaki itu sudah tidak lagi menganggapnya sebagai seorang adik. Dan Saras takut Kalva akan melakukan sesuatu yang tidak pantas padanya karena kini lelaki itu melihatnya dengan pandangan yang berbeda.