[ TELAH TERBIT | PART MASIH LENGKAP ]
"Tuhan memang satu, kita yang tak sama."
- A. Darian Aksata
"Tolong tanyakan pada Tuhanmu, bolehkah aku yang bukan umat-Nya mencintai hamba-Nya?"
- Jasmine Saras Alkaren
"Aksa dan Saras hanya ditakdirkan untuk b...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Perpisahan yang paling menyakitkan adalah berpisah karena kematian. Tak peduli betapa besar rindumu padanya, dia tak akan kembali ke dunia ini."
— Jasmine Saras Alkaren —
•••
Keesokan harinya pemakaman Kalva digelar secara tertutup. Hanya orang-orang terdekat yang hadir untuk mengantarkan lelaki itu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Saras ditemani oleh ketiga sahabatnya yang tak lain adalah Alta, Orion, dan Bara. Kini mereka sedang berdiri di depan mobil Bara yang terparkir rapi di depan area pemakaman. Tatapan Saras yang sendu membuat mereka tak tega dan berinisiatif untuk membawa gadis itu pulang agar tidak merasa sedih lagi. Jika Saras terus-menerus berdiri di sini sambil memandangi makam sang kakak dari kejauhan, bisa-bisa gadis itu akan tenggelam dalam kesedihannya sendiri.
"Ras," panggil Alta pelan. "Pulang, yuk?"
Saras menoleh, lalu bertanya dengan polos. "Pulang? Kak Kalva gimana? Kak Kalva enggak suka ditinggal sendirian. Nanti dia bisa ngamuk."
"Ras ...," lirih Bara yang matanya kini sudah kembali berkaca-kaca. Lelaki pemilik eye smile itu paling tidak bisa menghadapi situasi seperti ini karena hal itu mengingatkannya pada masa lalunya dulu, saat ia merasa bahwa almarhumah sang bunda masih ada di sisinya. "... Kak Kalva udah pergi. Dia udah punya rumahnya sendiri. Tolong ... tolong relain dia pergi, ya?"
"Bar? Lo ngomong apa, sih?" Alih-alih menurut, Saras justru menertawakan Bara karena kalimatnya yang dinilai tak masuk akal. "Kakak gue masih ada. Tuh, dia lagi ngeliatin kita dari sana. Dia ... lagi senyum. Manis banget. Gue bahkan enggak percaya, apa itu benar-benar Kak Kalva? Dia dipenuhi cahaya putih. Dia keliatan ... begitu bersih. Kakak gue ganteng banget, Bar."
"Astagfirullah, Ras!" Alta terkejut mendengarnya, sampai-sampai lelaki itu berbicara dengan intonasi tinggi. "Sadar, Ras! Lo harus sadar kalau--"
"Sstttt, jangan." Orion meletakkan jarinya di depan bibir, mengisyaratkan agar Alta menelan kembali ucapannya. Orion tahu bagaimana perasaan Saras saat ini. Orion sangat tahu. Maka dari itu, Orion tak tega untuk membunuh mood gadis itu dengan kenyataan pahit yang akan membuatnya down seketika.
"Tapi, Yon, dia harus sadar! Kak Kalv--"
"Biarin sebentar," potong Orion, membuat Alta merapatkan bibir seketika. "Biarin dia bahagia sebentar sama memori utuh itu sebelum nanti dia sakit sesakit-sakitnya. Gue enggak mau bikin tempat ini jadi tempat terkutuk dalam memori dia, Ta."
"Ta? Yon? Kalian lagi ngomongin apa, sih?" Tiba-tiba Saras masuk ke tengah pembicaraan Alta dan Orion. Gadis itu menatap polos dua sahabatnya. Apa pun hal yang dibicarakan mereka berdua ... Saras tak paham. Benar-benar tak paham dan ia memang tak ingin paham.