[ TELAH TERBIT | PART MASIH LENGKAP ]
"Tuhan memang satu, kita yang tak sama."
- A. Darian Aksata
"Tolong tanyakan pada Tuhanmu, bolehkah aku yang bukan umat-Nya mencintai hamba-Nya?"
- Jasmine Saras Alkaren
"Aksa dan Saras hanya ditakdirkan untuk b...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Aku selalu bertanya-tanya dalam hati. Apa aku yang bukan hamba-Nya boleh mencintai umat-Nya? Pertanyaan itu yang selalu ingin aku tanyakan pada Tuhanmu."
- Jasmine Saras Alkaren -
•••
"Abis ini ke mana, nih?" tanya Gerald pada Aksa dan Saras yang sedang beristirahat di pinggir jalan. Mereka kelelahan karena habis mengelilingi tempat bersejarah yang terletak di Jakarta Pusat. Terhitung sudah tiga tempat yang mereka datangi, yaitu Museum Bank, Museum Fatahillah, dan juga Kota Tua. Setelah ini Gerald, Aksa, dan Saras berniat untuk melanjutkan perjalanan ke tempat bersejarah selanjutnya demi mendapat informasi dan dokumentasi untuk mengerjakan tugas kelompok Sejarah Indonesia mereka.
"Monas aja gimana?" usul Saras.
"Ah, jangan. Itu mah terakhir aja biar bisa sekalian seru-seruan abis ngerjain tugas. Gue rencana mau naik sepeda tandem sama Aksa. Ya, enggak, Sa?" Gerald menatap Aksa, meminta diiyakan oleh lelaki itu.
"Iya, aku ingin menyewa sepeda tandem bersama Gerald. Kamu ikutlah nanti, biar aku carikan sepeda yang bisa dinaiki oleh tiga orang. Pasti menyenangkan." Aksa menggerakkan tangannya, membentuk sebuah isyarat yang hanya dimengerti oleh Saras. Akibatnya, Gerald yang tak mengerti pun bertanya apa yang Aksa katakan pada Saras.
"Aksa bilang apa, Ras? Kok lo ngerti, sih?" tanya Gerald heran. Lelaki itu tak tahu bahwa Saras bisa membaca bahasa isyarat.
"Aksa bilang hal yang sama kayak lo, dia bilang mau nyewa sepeda tandem di monas nanti. Lagian gue emang ngerti segala jenis bahasa, mulai dari bahasa isyarat sampe bahasa kalbu, gue ngerti semuanya," jawab Saras random guna membungkam mulut Gerald agar lelaki itu tak bertanya lebih lanjut tentang bahasa yang Aksa gunakan. Saras tidak ingin membuat Aksa merasa kecil karena lelaki itu berkomunikasi dalam bahasa yang berbeda dengan dirinya dan Gerald.
"Oh, ya udah kalau gitu. Yuk, lanjut Masjid Istiqlal aja gimana?" saran Gerald.
"Aku setuju," ucap Aksa.
"Aksa bilang--"
"Aksa bilang setuju! Udah diem aja kenapa, sih? Nanti kalau ada kalimat Aksa yang enggak setuju sama lo pasti gue sampein, kok," ucap Saras sambil merotasikan bola matanya malas. Bukannya tidak ingin men-translate bahasa isyarat Aksa, tetapi Gerald memang terlalu cerewet untuk diladeni. Saras jadi malas untuk memberitahu segalanya pada lelaki itu.
"Ya udah, skuy kalau gitu, mah!" Gerald menjentikkan jarinya, kemudian bergegas menuju Masjid Istiqlal yang berjarak tak jauh dari tempat mereka beristirahat.
"Eh, nanti dulu," ucap Saras, membuat langkah kedua lelaki itu terhenti.