[ TELAH TERBIT | PART MASIH LENGKAP ]
"Tuhan memang satu, kita yang tak sama."
- A. Darian Aksata
"Tolong tanyakan pada Tuhanmu, bolehkah aku yang bukan umat-Nya mencintai hamba-Nya?"
- Jasmine Saras Alkaren
"Aksa dan Saras hanya ditakdirkan untuk b...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Setiap insan yang merasa kesal berhak untuk marah. Setiap insan yang merasa sedih berhak untuk menangis. Jangan menyiksa dan membohongi diri sendiri dengan berpura-pura tegar di saat kondisi hati tak mampu untuk melakukan hal itu."
— A. DarianAksata —
•••
BUGH!
Tubuh Leo tersungkur ketika secara tiba-tiba Kalva memberinya bogem mentah di pipi. Lelaki yang mengenakan seragam dengan kesan bad itu menatap Leo dengan tatapan marah. Wajahnya memerah penuh emosi. Entah kapan emosi itu akan meledak, Leo tidak tahu. Tetapi tindakan Kalva selanjutnya membuat Leo sadar bahwa emosi lelaki itu benar-benar sudah meledak.
"Bangun, Bangsat!" bentak Kalva. Ia tak segan-segan menarik kerah seragam Leo hingga lelaki itu berdiri lemah di depannya.
Tak ingin membuang-buang waktu, Kalva segera menghujani Leo dengan pukulan maut di bagian perut si lelaki. Pukulan itu jelas membuat Leo membungkukkan tubuhnya sambil meringis kesakitan. "Jangan main-main sama gue, Anjing! Lo enggak tau apa yang lo lakuin!" bentak Kalva tepat di depan wajah Leo.
Mendengar ucapan Kalva, Leo lantas memperlihatkan smirk-nya. Lelaki itu tersenyum miring dengan wajah licik. "Jadi, lo udah tau?" tanyanya tengil.
Sial. Tampaknya Leo benar-benar ingin Kalva mengantarkannya ke neraka detik ini juga. Maka, dengan segala tenaga yang ada, Kalva bergerak untuk membenturkan kepala Leo ke lantai rooftop. Ya, mereka berdua memang sedang berada di rooftop saat ini karena Kalva meminta Leo untuk berbicara empat mata.
"Kenali lawan lo sebelum bertindak, Kalv!" ucap Leo, meledek Kalva yang tidak berhasil membenturkan kepalanya ke lantai rooftop karena ia berhasil mengelak tepat waktu.
"Gue emang perlu mengenal lo lebih jauh lagi supaya enggak ketipu." Kalva menatap Leo tajam, lalu meludah ke samping. "Cih! Cowok baik-baik yang gue kenal sebagai sahabat adik gue ternyata enggak lebih dari sekadar pengkhianat!"
"Terserah! Terserah lo mau nyebut gue pengkhianat atau sebutan lain yang lebih buruk. Gue enggak peduli. Lagian gue ngelakuin hal itu bukan semata-mata untuk berkhianat. Lo pasti tau 'kan apa yang gue mau?" Leo menaikkan sebelah alisnya dengan wajah tengil.
"Bikin adik gue jauh dari si bisu dan berharap balikan sama dia dengan senjata video itu? Seriously, Dude? Itu sama aja lo berkhianat, Anjing! Lo pake video masa lalu adik gue sebagai senjata lo aja itu udah jadi bukti kalau lo berkhianat!" tegas Kalva.
"Who cares? Buktinya gue berhasil, 'kan? Perlahan-lahan jarak antara Saras dan si bisu mulai terbentang lebar. Tinggal lo aja maunya gimana. Mau video itu tersebar ke publik atau enggak. Semua pilihan ada di tangan lo." Leo memutar-mutar ponselnya dengan ekspresi mengejek. Membuat Kalva tak tahan untuk menyerang lelaki itu. Namun, sialnya Leo selalu berhasil mengelak darinya.