56 | HEROIK KALVA

1.5K 288 180
                                        

"No one can touch my girl!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"No one can touch my girl!"

Kalva Andrean Dinata —

•••

"EMMMMM! EMMMMM!" Saras tak menyerah untuk terus berteriak meski kini mulutnya sudah dilakban oleh Leo. Gadis itu juga memberontak ketika Leo merangkak naik ke atas tubuhnya dengan cara menendang-nendang tubuh lelaki itu.

"Hei, nakal ya kakinya." Leo terkekeh, kemudian bergerak menarik kedua kaki Saras untuk ia tindih. Kini, Saras kehilangan senjata untuk mendorong lelaki itu pergi darinya. "Udah, jangan teriak-teriak terus. Nanti suaranya habis. Belum juga desah, masa suara kamu udah habis, sih, Sayang?"

Ingin muntah.

Ya, Saras merasa ingin muntah ketika Leo melontarkan kalimat menjijikkan itu di depannya. Ingin rasanya Saras menendang alat vital Leo, tetapi saat ini ia tidak bisa melakukan apa-apa karena lelaki itu juga mulai mengikat tangannya dengan dasi.

"Gimana? Kamu udah siap, Sayang?" tanya Leo dengan smirk-nya.

Sial. Lelaki itu sudah berani meletakkan tangannya di atas dada Saras, kemudian mulai menanggalkan kancing seragamnya satu per satu. Ya Tuhan. Rasanya Saras ingin menangis ketika melihat Leo berkuasa di atas ketidakberdayaan dirinya. Saras benar-benar tidak ingin Leo menjadi yang pertama. Sampai kapan pun, Saras tidak akan sudi menyerahkan kesuciannya kepada seorang pembunuh seperti Leo!

Aksa! Datang, Ssa! Gadis Aksa dalam bahaya! Batin Saras.

"Hei, kok nangis? Ya ampun, kamu udah enggak sabar mau main sama aku, ya? Kasian. Sampe nangis gini." Leo menghapus jejak air mata Saras dengan ibu jarinya. Lelaki itu berakting seolah-olah ia peduli pada penderitaan Saras saat ini, padahal yang terjadi sebenarnya adalah kebalikannya. Leo adalah sumber penderitaan Saras yang sesungguhnya.

Le, tolong lepasin gue. Lo enggak bisa kayak gini, Le. Tolong sadar! Leo yang gue kenal bukan Leo yang psiko kayak gini. Please, Le. Lepasin gue sekarang. Batin Saras penuh harap. Meski Leo sudah berulang kali menghapus air matanya, tetapi Saras tetap saja terus menjatuhkan butiran bening itu dari mata cantiknya karena hanya menangislah yang bisa gadis itu lakukan saat ini.

"Udah, ah, jangan nangis lagi. Nanti aku enggak mulai-mulai nih permainannya. Kamu udah enggak sabar mau main, 'kan? Makanya diem, ya? Jangan nangis lagi. Ssstttt." Leo meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan Saras agar tidak menangis lagi.

Mendengar ucapan Leo barusan, Saras jadi berpikir. Apakah ia harus terus menangis agar lelaki itu tidak memulai permainan menjijikkan ini?

"Udah, ya? Aku mulai sekarang, ya?" Leo yang sudah kehilangan akal sehatnya tak peduli lagi pada air mata Saras. Jika memang gadis itu tak bisa menghentikan tangisnya, biar Leo memulai permainan mereka dengan air mata. Ide bagus, bukan? Permainan mereka akan terasa lebih dramatis jika Saras menangis seperti ini.

[✔] AKSARASSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang