O1 | GADIS TANGGUH

8K 1K 277
                                        

"Aku tak pernah merasa begitu berharga

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Aku tak pernah merasa begitu berharga. Namun, ketika kamu datang ke dalam hidupku, aku menarik kata-kata itu."

- A. Darian Aksata -

•••

"Woi! Tangan kosong kalo berani!"

Sekumpulan pemuda itu menoleh pada gadis yang baru saja berteriak nyaring di belakang mereka. Tanpa rasa takut, gadis yang mengenakan bandana merah di lengan kirinya itu melangkah dengan pasti, mendekati lima pemuda yang kini memasang ekspresi mengerikan.

Tepat ketika kakinya berpijak pada aspal yang hanya berjarak sejengkal dari si ketua geng berandalan, gadis itu mengangkat kepalanya lantas mendecih seolah meremehkan sang lawan.

"Lo pada belajar beladiri cuma buat ngerendahin orang lain? Enggak ngerasa rugi? Lima lawan satu, dan kalian pikir tindakan ini hebat? Hei, wake up, Man! Kalo gitu, apa bedanya kalian sama banci di Prapatan, hah?" cibir sang gadis dengan tangan yang dilipat di depan dada dan celah kaki yang sedikit terbuka.

Tak terima, si ketua geng berandalan itu melepaskan korbannya hingga lelaki culun berkacamata itu jatuh ke aspal. "Maksud lo apa, hm? Frontal aja, ya. Gue lelaki sejati. Gue nggak mukul perempuan. Jadi, sebelum gue bertindak lebih, mending lo cabut dari sekarang!" usir si ketua geng. Dagunya bergerak, mengisyaratkan agar gadis itu lekas pergi meninggalkan mereka. Namun, yang dilakukan sang gadis selanjutnya justru membuat ia murka.

"Cuih!" Gadis itu meludah ke samping. Wajahnya tampak begitu tengil dengan seringai yang mengundang emosi sang lawan. "Lo pikir perempuan nggak bisa ngelawan? Perempuan cuma kaum lemah yang nggak pantas menuntut keadilan? Ini buat mulut kotor lo!" Tanpa basa-basi, gadis itu melayangkan tendangan tepat di pusat tubuh si lelaki hingga membuatnya membungkuk kesakitan.

"Bangsat!" erang lelaki itu tertahan.

"Aduh, telor si bos masih aman, nggak, ya?"

"Ngilu gue, Bro!"

"Masa depan bos auto lenyap!"

"Anjir, masih bisa coli nggak itu?"

Sialan. Alih-alih membantu, empat anak buah itu malah sibuk mengomentari keadaan alat vital ketua mereka yang baru saja ditendang oleh sang gadis. Semuanya tampak ngeri melihat lelaki itu membungkuk dengan wajah meringis kesakitan.

"Bangun!" seru sang gadis.

Bukan. Titah dari gadis itu bukanlah untuk si ketua geng, melainkan si culun berkacamata yang masih saja membatu di posisinya.

"Lo nggak tuli, 'kan? Gue bilang bangun, ya bangun!" titah gadis itu, tak terbantahkan.

Tak ingin memperumit masalah, akhirnya lelaki berkacamata itu berdiri. Mata bening itu menatap bingung pada gadis yang tengah menatapnya penuh emosi. Ia tak merasa kenal dengan gadis yang baru saja menolongnya dari para berandalan ini. Tak ada yang pernah memedulikan nasib buruknya yang selalu ditindas oleh penguasa sekolah. Namun, sepertinya hari ini Tuhan mengutus malaikat penolong untuknya.

[✔] AKSARASSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang