12 | PEMBAWA SIAL

2.3K 471 72
                                        

"Aku bangga memiliki sahabat seperti kalian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Aku bangga memiliki sahabat seperti kalian. Kalian adalah rumah terhangat yang memberikan aku kenyamanan tiap kali aku pulang."

— Jasmine Saras Alkaren

•••

Lelaki berkacamata itu berlari menyusuri koridor RS Bhayangkara setelah staf di meja resepsionis memberitahu bahwa korban kecelakaan atas nama Tn. Darma Rafeeza sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.

Aksa mengusap peluh yang menghiasi dahinya. Napasnya terengah-engah karena baru saja berlari dari rumah pohon ke rumah sakit. Ia terpaksa berlari karena motornya dipinjam oleh Saras. Sebenarnya Saras sempat menolak, tetapi Aksa bersikeras untuk mengamankan gadis itu dengan memintanya mengungsi sementara ke rumah salah satu anggota MOXIE. Aksa tahu, saat ini hanya MOXIE yang bisa ia percaya untuk menjaga Saras dari tindakan gila Kalva.

Tadi Aksa juga sempat mengobati luka di beberapa bagian tubuh Saras. Gadis cantik itu menderita luka lebam di bagian pergelangan tangan dan sikunya. Sementara kedua pipinya sedikit memar akibat tamparan Kalva. Oh, satu lagi. Sudut bibir Saras sobek karena Kalva memukulnya dengan kekuatan penuh. Saras yang malang. Syukurlah di rumah pohon itu Aksa menyediakan kotak P3K, jadi ia bisa bertindak cepat untuk mengobati luka Saras. Jangan bertanya mengapa Aksa memiliki kotak P3K di rumah pohonnya, karena lelaki itu selalu berlari ke rumah pohon untuk mengobati luka yang didapatnya dari siksaan Tiara dan Daisy.

Ayah ....

Langkah Aksa terhenti di depan sebuah ruangan VIP Camelia II. Dari kaca bulat di pintu ruang rawat itu Aksa mengintip Tiara dan Daisy yang terlihat sedih menatap Darma yang terbaring lemah di atas brankar. Tubuh ayahnya itu dipasangi alat penopang hidup dengan mesin EKG yang berbunyi pelan. Satu yang Aksa tahu, kondisi ayah tirinya sangat lemah saat ini.

Meskipun tahu bahwa dirinya akan dimaki oleh ibu dan saudara tirinya, Aksa tetap nekat membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan. Langkahnya pelan, amat pelan hingga suara derap kakinya tidak membuat Tiara dan Daisy menyadari bahwa ia telah hadir di sini.

"Seharusnya Mas Darma enggak perlu lakuin hal bodoh itu. Seharusnya Mas Darma masih dalam keadaan baik-baik aja sama aku, sama Daisy, kalau Mas enggak keras kepala untuk meringankan beban anak cacat itu!" Tiara menangis sesenggukan sambil menggenggam tangan Darma yang dipasang infus. Kepalanya ia tundukkan untuk menyembunyikan raut sendu yang tercetak jelas di wajahnya.

Mendengar ucapan Tiara, tubuh Aksa menegang. Langkahnya terhenti, padahal hanya tinggal dua kotak lantai lagi ia akan sampai di tengah-tengah mereka. Rasa sakit dan bingung segera menyergapnya. Aksa sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan sang bunda, tetapi jauh di dasar hatinya, ia memiliki firasat buruk tentang itu.

[✔] AKSARASSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang