[ lee jeno with his life ]
"Aktingmu itu bagus sekali Jeno~ya."
Jeno tidak berharap dilahirkan dengan membawa kesialan bagi keluarganya. Jeno hanya ingin diterima oleh sang ayah, ia rela melakukan apapun utukk memuaskan keinginan sang ayah. Namun...
Hampir saja Jeno melempar sumpit dan mangkok di tangannya pada Jaemin.
Jaemin tergelak, hobinya memang mengganggu dan menggoda Jeno.
"Cepat habiskan, kita bertanding setelah ini," tantang Jeno.
"Geurae," balas Jaemin.
Keduanya langsung menghabiskan Rapokki yang dipesan.
"Ah aku kenyang," ucap Jaemin dengan mengusap perutnya.
Jeno dan Jaemin pergi ke warnet yang dituju. Tapi sayangnya, mereka kurang beruntung hari ini.
"Kenapa harus tutup di akhir pekan?!"kesal Jaemin.
"Bagaimana kalau kita ke wahana bermain di pusat perbelanjaan?" tawar Jeno.
Jaemin nampak berpikir, setelah itu ia mengangguk.
Sesampainya di pusat perbelanjaan kota. Jeno dan Jaemin menuju lantai 2 letak wahana permainan itu ada.
"Kita tanding basket?"
Jaemin mengangkat kedua alisnya.
"Siapa takut," Jeno pergi menuju kasir untuk mengambil kartu.
"Ayo!"
Jeno dan Jaemin akan bertanding basket siapa yang masuk paling banyak dia akan menang, begitupula sebaliknya. Dan yang kalah, akan mentraktir makanan selama 1 minggu.
Dengan cekatan Jeno dan Jaemin memasukan bola basket itu ke dalam ring kecil. Skor akhir Jeno unggul.
"Tentu saja kau menang dengan tangan kekarmu itu,"ucap Jaemin.