Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Yeeun mengerjapkan matanya.
"Sudah bangun kau?"
Yeeun berniat bangkit, tapi ternyata kedua tangan dan kakinya diikat.
"Tenang saja, kami hanya ingin mencicipimu," ujar salah satu dari mereka.
"LEPASKAN!"
"Tidak sebelum kami puas!"
Yeeun mengepalkan tangannya. Sial, andai saja kaki atau tanganya tidak diikat sudah dipastikan dia sudah menendang lelaki di hadapannya ini.
Bukankah tidak adil 3 lelaki melawan 1 gadis, yang benar saja.
"Tapi sebelum itu... mungkin kau ingin bertemu seseorang..."
Yeeun mengerutkan dahinya.
Seseorang datang dengan pakaian formalnya.
"Halo nuna."
Yeeun membelalakkan matanya.
"Kau..."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jeno kau kenapa?" tanya Seungmin.
"Aku mendadak berfirasat buruk," jawba Jeno.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Nuna, saat aku menelponnya dia sedang pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhannya yang darurat dan aku mendadak khawatir..."
"Sudah kau coba telpon dia?"
"20 menit yang lalu..."
"Coba kai telpon lagi..."
Jeno mengangguk.
Dia mencari kontak kakaknya, lalu menelponnya.
"Tidak diangkat..."
Sudah lebih dari 10 kali dan Yeeu masih belum mengangkatnya.
"Harabeoji, sepertinya aku harus pulang. Tidak apa-apa?"
Seungmin mengangguk.
"Perlu aku antar?" tawar Seungmin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Some
Fanfiction[ lee jeno with his life ] "Aktingmu itu bagus sekali Jeno~ya." Jeno tidak berharap dilahirkan dengan membawa kesialan bagi keluarganya. Jeno hanya ingin diterima oleh sang ayah, ia rela melakukan apapun utukk memuaskan keinginan sang ayah. Namun...
