•
•
•
•
•
•
"Lo tau di Paris banyak banget kembang api sampai rasanya telinga gue mau pecah karna suaranya yang terlalu besar. Gue gak mau lagi pergi ke Paris saat tahun baru, kalau bukan karna Ka Brian yang males pulang ke Indo gue gak akan ke Paris!"
Bella tersenyum kecil mendengarkan curhatan Bianca yang menggebu-gebu menceritakan liburan tahun barunya. Bianca memang sangat malas melihat dunia luar— lebih suka bermalas-malasan dikasur seharian tanpa melakukan apapun. Bianca bisa saja hanya melakukan 90% tidur dikasur dan sisanya ia lakukan untuk bergerak makan demi bertahan hidup, benar-benar tipe orang yang tidak ingin lepas dari kasur.
"Ah, gue sampai lupa. Gimana dengan keluarga Wijaya? Mereka gak nuntut untuk banding kan?" tanya Bianca ragu-ragu.
Bella menggelengkan kepalanya menjawab pernyataan Bianca, "Gak, mereka terima keputusan gue. Dan setiap seminggu gue akan bergantian tinggal di keluarga Harrison dan juga Wijaya."
Bianca mengangguk-anggukan kepalanya, Bianca menatap Bella dengan tatapan bersalah. "Gue minta maaf karna setelah sidang langsung pergi gitu aja."
"Gue yang minta maaf karna lo luangin waktu untuk liat sidang padahal baru pulang dari Paris," ucap Bella merasa bersalah.
Bianca tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Udah lah udah lalu juga. Gue laper mau kekantin gak?" tawar Bianca mengalihkan pembicaraan.
Bella melirik jam tangan yang dipakainya, jam masih menunjukan pukul sembilan pagi Bella belum merasa lapar. "Gue masih kenyang, tapi boleh beli minuman."
Bianca dan Bella berjalan kekantin dengan sesekali keduanya mengobrol ringan. Bella meminum jus jambu sambil menatap lapangan yang diisi lalu lalang murid Gemilang, sedangkan Bianca fokus memakan nasi goreng yang dipesannya rupanya Bianca benar-benar lapar.
Bella menatap ponselnya ketika ada suara notifikasi.
Kamu dimana? Aku bawain bekel masakan Mama, tadi pagi Mama minta aku kasih ini ke kamu.
Bella meraih ponselnya dan buru-buru membalas pesan Kenan.
Kantin.
Tidak lama muncul balasan Kenan yang akan menuju kekantin dan meminta Bella untuk menunggunya, Bella hanya membacanya tidak berniat membalasnya. Benar saja, tidak lama Kenan datang dengan peperbag hitam yang terdapat bekal yang dibuat Tasya.
Kenan memberikan kotak bekal berwarna pink kepada Bella beserta sendok dan juga garpu, dan meminta Bella untuk memakan bekalnya. Bella membuka kotak bekal yang dibuatkan Tasya dan tersenyum melihat isinya adalah menu kesukaan Bella— ayam bakar madu dan juga kentang yang direbus dan kacang-kacangan. Sebenarnya Bella tidak lapar, tapi melihat usaha Tasya yang membuatkannya bekal Bella dengan senang memakannya.
Kenan tersenyum melihat Bella yang memakan bekal yang dibuatkan Tasya sejak subuh itu dengan lahap.
Bianca tersenyum melihat interaksi kakak beradik didepannya. Kenapa Brian tidak sebaik Kenan sih? Bianca selalu saja bertengkar meributkan hal-hal kecil oleh saudara kembarnya yang lahir duapuluh menit lebih dulu darinya. Bianca mendengus mengingat Brian yang menyebalkan— Bianca berharap Brian tidak pernah mau kembali ke Indonesia! Bianca muak diganggu terus oleh Brian.
Suara derit kursi yang ditarik mengalihkan perhatian Bella dari bekal yang dimakannya pada sampingnya. Adelio.
Adelio menatap tajam bekal yang ada dihadapan Bella dan Kenan bergantian. "Ngapain lo?" tanya Adelio sarkasme.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY BROTHER [END]
Teen Fiction🍃[ SELESAI BELUM DI REVISI!!!] Arrabella tidak pernah mengharapkan memiliki seorang yang melindunginya dan selalu ada untuknya di saat ia butuhkan, selain Mamanya yang selalu sibuk. 15 tahun hidupnya selalu diwarnai dengan putih diatas kertas...
![MY BROTHER [END]](https://img.wattpad.com/cover/227689712-64-k558832.jpg)