•
•
•
'Mama akan menikah dengan Om Galen'
Berapa banyak kata yang ada dalam kalimat itu? 4? 5? 6? 7? Entahlah Arrabella pusing memikirkan apa yang lima menit lalu ia dengar dari Nara—Mamanya yang tiba-tiba datang ke kamarnya dan dengan wajah berseri mengatakan kalimat yang membuatnya begitu kaget— Arrabella tidak percaya dengan apa yang dikatakan Mamanya. Sejak kapan mereka bersama? Sejak kapan mereka bertemu? Sejak kapan mereka berpacaran? Tunggu, apa mereka berpacaran? Ini memusingkan.
Arrabella Starrie yang sering dipanggil Bella selama 15 tahun hidupnya tidak pernah merasakan bagaimana jadinya jika dirinya memiliki Papa dan juga kedua saudara yang semuanya adalah laki-laki. Bella menghela nafas panjang dan menatap gaun putih yang kini berada di kasurnya, rasa sakit yang berada dikeningnya membuat Bella sadar bahwa ini bukan mimpi karna tadi Bella memang sengaja membenturkan keningnya pada tembok; untuk membuktikan bahwa ini mimpi.
Bella membaringkan tubuhnya yang entah mengapa terasa lelah padahal ia tidak melakukan hal apapun selain bolak-balik di kamarnya, Bella menenggelamkan tubuhnya dengan selimut tebal ketika mendengar ketukan yang diiring dengan suara Nara yang memanggilnya dengan suara lembut. Ia benar-benar merasa tidak sanggup untuk melakukan hal apapun saat ini, perkataan Mamanya membuatnya benar-benar tidak merasa bertenaga— seakan apa yang dikatakan Nara telah menyerap semua energinya.
Bella merasakan usapan yang begitu lembut pada kepalanya dan suara lembut Mamanya. "Sayang, kamu tidur?"
"Mama tau kamu gak tidur. Maaf, mungkin ini buat kamu terkejut, tapi kalau kamu gak setuju kamu bisa bilang sama Mama. Yang terpenting buat Mama adalah kebahagiaan kamu, kamu adalah satu satunya yang terpenting buat Mama. Apa yang jadi kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan Mama juga," Ujar Nara dengan lembut.
Bella menghala nafas dan membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya dan menatap Nara yang kini tersenyum padanya. "Ma. Maaf selama ini aku egois ya? Maaf selama ini aku repotin Mama."
"Enggak sayang, siapa bilang kamu egois dan repotin Mama? Dengerin Mama, Mama melakukan semua ini karna kamu semuanya hanya untuk kamu. Kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan Mama juga. Mama akan batalin jika kamu gak setuju—"
"Apa Mama yakin Om Galen terbaik buat Mama? Mama yakin kalau Om Galen bisa buat Mama bahagia?" Tanya Bella. Bella tau bahwa berat menjadi seorang single parent, Bella hanya ingin Mamanya merasakan juga kebahagiaannya bukan hanya tentang kebahagiaan dirinya saja. Bella tidak ingin merasa egois, Bella benar-benar bersyukur karna memiliki seorang Mama yang begitu hebat membesarkannya sendirian selama ini.
"Mama gak bisa menjawab pasti, tapi Mama yakin bahwa Om Galen bisa menutupi kekurangan Mama," Jawab Nara sambil mengusap surai kecoklatan milik putri satu-satunya.
Bella menghela nafas dan menatap Mamanya yang kini terlihat semakin kurus setiap harinya. Apa hari yang dijalankannya begitu berat selama ini?
"Mama harus bantu aku siap-siap."
Anggukan serta senyum Nara yang terlihat begitu bahagia, membuat Bella merasa bahwa semua ini adalah hal yang bisa ia lakukan untuk sang Mama yang selama ini selalu ada untuknya dan bekerja keras untuk membahagiakannya. Ini yang terbaik untuk Mama yang selama ini berusaha untuk membuat senyum terukir di wajah Bella.
Dentingan dari sendok dan garpu yang beradu dengan piring menjadikan suasana tidak terasa begitu hening. Bella menatap sang Mama yang terus tersenyum sambil menatap pria yang tepat berada didepannya dan begitupun sebaliknya, benar-benar seperti anak remaja yang baru saja jatuh cinta.
Bella menghela nafas dan menyudahi makannya membuat seluruh perhatian tertuju padanya terlebih dengan ucapan tiba-tibanya, "Bella mau tanya sama Om Galen."
Bella kembali berbicara sebelum Galen menjawab perkataannya. "Apa Om seriusa sama Mama? Apa Om janji gak akan buat Mama menangis? Apa Om bisa buat Mama bahagia? Apa Om sayang sama Mama? Kalau Om gak bisa semua itu sebaiknya gak usah dekatin Mama!"
"Bella," Panggilan lembut dari sang Mama tidak dihiraukan Bella karna saat ini dirinya harus memastikan sendiri. Bagaimanapun Bella tidak ingin Nara terluka nantinya.
"Om gak bisa memastikan semuanya yang kamu tanyakan. Tapi Om bisa pastikan bahwa Om akan berusaha buat Mama kamu mendapatkan apa yang kamu tanyakan," Jawab Galen tegas dan tatapan yang benar-benar begitu hangat kepadanya.
Bella tertegun mendengarnya. Dirinya tidak tahu harus berbicara apalagi, apa semua ini benar yang terbaik? Bella menghela nafas dan menggukan kepalanya memberikan kotak hitam pada Galen yang menatapnya dengan bingung.
"Hadiah pernikahan buat kalian," ujar Bella dengan pelan.
Bella melihat senyum kedua paruh baya yang memancarkan kebahagiaan. Bella tahu bahwa ia sudah memutuskan bahwa ini adalah yang terbaik untuk Mamanya, dirinya ingin Mamanya bahagia dalam hidupnya. Bella pamit untuk kembali ke kamar meninggalkan ruang makan dengan mata yang berkaca.
Bella mematap sekeliling kamarnya yang penuh dengan banyaknya figur foto dari dirinya bersama sang Mama yang memenuhi dinding, tatapan Bella tertuju pada satu-satunya figur foto yang hanya ada dua orang didalamnya, dirinya bersama sang Papa yang menggendongnya dengan senyum bahagia. Bella tau sudah berapa lama sang Mama merindukan seseorang yang membuatnya tersenyum bahagia, Bella juga tau sudah berapa lama Mamanya menangis sendiri ditengah gelapnya malam karna merindukan pria yang menjadi pujaan hatinya. Bella mengusap air mata yang tanpa sadar membasahi pipinya yang sayangnya tidak dapat ia hentikan meskipun ia sudah berusaha untuk menghentikannya, ini menyulitkan.
Pintu kamar yang dibuka dengan perlahan dan juga ketukan sepatu membuat Bella terburu-buru menghentikan tangisnya meskipun begitu menyulitkan.
"Om gak akan pernah bisa menggantikan Daniel sebagai Papa buat kamu. Tapi Om akan berusaha untuk mengisi kekosongan Papa yang kamu rasakan, jadi bisa kasih Om kesempatan?" Ucap Galen dengan lembut sambil mengusap air mata Bella dan memeluknya dengan hangat.
Bella selalu penasaran bagaimana rasanya berada dipelukan hangat seorang Papa, dan kini ia tahu bahwa pelukan dari seorang Papa benar-benar terasa begitu hangat dan seakan melindunginya. Bella tidak tahu kapan terakhir dirinya merasakan pelukan yang seakan siap untuk melindunginya dan menjadi garis terdepan untuk dirinya. Bella memejamkan matanya dan ikut memeluk Galen yang kini tersenyum, Bella menerimanya dengan baik.
•••••••••
|||TO BE CONTUNUE|||
•••••••••
Bagaimana sejauh ini? Terkadang semua orang itu gak sadar bahwa selama ini dia egois, sama halnya dengan Bella yang tanpa sadar bahwa ia egois karna menganggap bahwa semuanya baik-baik saja, padahal tanpa ia tahu menjadi 'single parent' itu susah.
See You Next Chapter
💜💜💜
KAMU SEDANG MEMBACA
MY BROTHER [END]
Roman pour Adolescents🍃[ SELESAI BELUM DI REVISI!!!] Arrabella tidak pernah mengharapkan memiliki seorang yang melindunginya dan selalu ada untuknya di saat ia butuhkan, selain Mamanya yang selalu sibuk. 15 tahun hidupnya selalu diwarnai dengan putih diatas kertas...
![MY BROTHER [END]](https://img.wattpad.com/cover/227689712-64-k558832.jpg)