•
•
•
Semua butuh waktu, menghargai sebuah proses adalah hal yang terbaik yang bisa kita lakukan.
•
•
•
"Minta maaf," ucap Delvin dan hanya dibalas dengusan kasar Adelio sebelum berlalu.
Delvin memejamkan matanya mencoba menahan emosi Ia tidak ingin diacara seperti ini membuatnya dan Adelio menjadi pusat perhatian hanya karna bertengkar. Delvin membuka jaket dan menyelimuti Bella yang terkulai lemas dengan bahu yang basah, Delvin mengangkat Bella bridal style meminta Ody dan Gilang untuk mencari Adelio yang entah pergi kemana. Untuk sekarang Bella yang menjadi fokus utamanya.
Delvin membuka pintu UKS dengan ia tendang tidak perduli jika nanti pintu tersebut rusak dan orang tuanya dipanggil karna merusak properti sekolah.
"Ini—"
"Dia pingsan dan bajunya basah, saya akan mengambil bajunya di mobil dan tolong bantu jagain, Bella," ucap Delvin memotong ucapan dokter yang berjaga-jaga.
Delvin berlari kearah parkiran dengan terburu-buru tidak peduli jika kaus hitam yang dipakainya basah karna menggendong Bella dan mencetak bagaimana bentuk perutnya, saat ini yang terpenting adalah Bella. Delvin mengatur nafasnya yang memburu sebelum masuk dan kembali keluar setelah menyerahkan baju kering untuk Bella.
Delvin berdiri menatap pintu coklat yang tertutup rapat dengan cemas, lebih tepatnya mencemaskan adik perempuan yang pingsan. Delvin membalikkan tubuhnya dan menatap Kenan yang juga menatap pintu UKS namun dengan tatapan yang berbeda.
"Soal yang tadi—"
"Gue gak tau apa yang terjadi sama Bella, tapi gue lihat ada air mengenang didepan pintu toilet setelah gue dobrak ternyata Bella disana," ucap Kenan memotong perkataan Delvin.
"Makasih," ucap Delvin, tersenyum tipis. Rasanya ia tidak bisa berkata lagi ketika melihat Kenan.
Baru kemarin rasanya mereka; Adelio dan Kenan berantem diruang Osis dan sekarang keduanya kembali berantem di depan toilet. Delvin tahu Adelio salah akan tetapi Delvin juga tahu bahwa Adelio sangat cemas dengan Bella yang pingsan dan mengira itu perbuatan Kenan.
"Bella masih pingsan, Dua syok dan juga kedinginan," ucap Marinka— Doker yang menangani UKS. Dokter muda tersebut mengalihkan perhatiannya pada Kenan. "Hari inj berkelahi dengan siapa lagi Kenan?" tanyanya dengan heran.
Kenan mengabaikan pertanyaan Marinka yang memang sudah sering mengobatinya, dan berlalu masuk kedalam. Tanpa bertanya dimana letak alkohol dan kapas kedua benda tersebut sudah berada ditangannya, dirinya memang sering berada disini untuk mengobati luka diwajahnya.
"Saya harus pergi sekarang, dan sekitar limabelas menit lagi akan ada Dokter lain yang menggantikan. Delvin tolong jagain Bella setelah itu berikan dia obat yang sudah Saya siapkan di samping air putih," ucapnya dan berlalu setelah menepuk bahu Delvin dua kali.
Delvin menarik dibangku untuk duduk didekat Bella yang masih pingsan. Pandangan Delvin tertuju pada Kenan yang menatap cermin dengan serius untuk mengobati luka yang didapatnya barusan.
"Perlu bantuan?" tanya Delvin melihat kenan yang kesulitan mengoleskan alkohol.
Kenan membalikkan tubuhnya menatap Delvin dengan alis terangkat, Kenan berkata dengan nada bercanda, "Lo harus ganti rugi, karna bagaimanapun ini perbuatan adik Lo."
"Gue akan ganti rugi, tapi Lo keluar dari sini!" Suara Adelio mengalihkan perhatian keduanya pada kedatangan pria yang memakai kaus putih dan jaket hijau army yang menggantung di bahu kirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY BROTHER [END]
Novela Juvenil🍃[ SELESAI BELUM DI REVISI!!!] Arrabella tidak pernah mengharapkan memiliki seorang yang melindunginya dan selalu ada untuknya di saat ia butuhkan, selain Mamanya yang selalu sibuk. 15 tahun hidupnya selalu diwarnai dengan putih diatas kertas...
![MY BROTHER [END]](https://img.wattpad.com/cover/227689712-64-k558832.jpg)