•
•
•
Ikutilah apa kata hatimu. Bukankah menjadi diri sendiri itu lebih menyenangkan? Dibandingkan harus memakai topeng hanya untuk terlihat lebih baik?
•
•
•
Minggu depan sudah ujian semester ganjil dan karna itu pula Bella disibukan dengan banyaknya tugas dan ulangan harian yang diberikan oleh guru, selain untuk menambah nilai itu juga bisa menjadi acuan kisi-kisi yang akan berikan. Bella merenggangkan ototnya yang terasa kaku dan menatap jam yang ada di handphonenya. 23.35 malam itu artinya tanpa sadar Bella sudah lebih dari tiga jam mengerjakan tugas, pantas saja tubuhnya terasa sangat kaku karna m duduk terlalu lama.
Bella merapihkan kembali buku-buku yang berserakan diatas meja belajarnya lalu berjalan kearah kamar mandi. Bella rasa jari-jari tangan kanannya sudah cukup merah karna terus menulis dan merangkum materi yang menurutnya penting dan Bella membutuhkan air dingin untuk merendam jari-jari tangannya, itu yang pernah diajarkan Nara ketika ia mengeluhkan sakit jari-jarinya karna terlalu lama menulis.
Bella menatap sekilas ponsel yang Ia ditaruh disisi westafel yang menampilkan notifikasi pesan yang sudah menumpuk, siapa lagi kalau bukan Dina yang terus mengiriminya pesan bahkan tadi beberapa kali Bella sempat menolak panggilan Dina karna sedang sibuk belajar. Bella memang seseorang yang tidak ingin diganggu jika sedang serius mengerjakan tugas, terlebih lagi minggu depan sudah masuk waktu ujian dan Bella kini sibuk dengan beberapa materi yang harus dirangkum nya.
Bella mengeringkan tangannya dengan handuk kecil berwarna coklat yang ada di lemari dekat westafel lalu kembali menaruhnya. Dering ponsel mengalihkan perhatian Bella dari cermin yang menampilkan pantulan dirinya.
"Gimana? Bisa kan?" Pertanyaan Dina yang pertama kali menyapa saat Bella memakan tombol hijau.
"Diizinin sih, tapi—"
"Tapi apa?! Jangan bilang Lo yang gak bisa? Bella jawab!"
Bella menjauhkan sedikit ponsel dari telinganya yang berdengung karna teriakan Dina, padahal dirinya belum menyelesaikan ucapannya. Bella menghela nafas mencoba untuk menetralkan emosi karna teriakan Dina, Bella tidak ingin berteriak ditengah malam dan membangunkan seluruh keluarga yang sedang tertidur.
Bella merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan berbisik pelan menjawab pertanyaan Dina, "Bisa gak usah teriak gak? Gue bisa pergi, tapi gak bisa terlalu pagi, karna ada tugas kelompok yang harus di kerjain sebelum pergi."
Dina berdecak kesal dengan sifat Bella yang selalu menomor satukan pelajaran, "Oke. Jam 1."
Bella mengiyakan ucapan Dina dan setelah itu mematikan sambungan telephon. Bella menatap jam yang ditampilkan ponsel lalu menaruh ponsel diatas nakas samping tempat tidur dan berjalan keluar kamar.
Bella bukan tipe seseorang yang memperdulikan baik tidaknya untuk wanita makan dimalam hari, tentu saja karna mereka takut gendut sedangkan Bella rasa itu tidak perlu ia lakukan, bukan karna tidak takut gendut akan tetapi Bella tidak ingin menyiksa dirinya karna lapar dan karna takut gendut. Untuk apa menyiksa diri sendiri hanya karna ingin dipandang oleh orang lain? Bukankah itu terlalu munafik?
Bella memasukan mie pada air yang sudah mendidih dan kembali duduk di pantry sambil menunggu mie matang. Harum wangi khas dari mie yang dimasak membuat perut Bella semakin bergejolak ingin diisi, Bella memakan dengan perlahan mie yang masih panas sambil memainkan ponsel yang berada ditangan kirinya.
"Kalau makan ya makan aja gak usah sambil main handphone!" Ucap Delvin sambil meraih ponsel ditangan kiri Bella.
Delvin menaruh ponsel yang diambilnya dimeja pantry lalu ikut duduk di sebelah Bella yang kembali meneruskan makannya, tidak protes karna ia tau Delvin memang benar.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY BROTHER [END]
Ficção Adolescente🍃[ SELESAI BELUM DI REVISI!!!] Arrabella tidak pernah mengharapkan memiliki seorang yang melindunginya dan selalu ada untuknya di saat ia butuhkan, selain Mamanya yang selalu sibuk. 15 tahun hidupnya selalu diwarnai dengan putih diatas kertas...
![MY BROTHER [END]](https://img.wattpad.com/cover/227689712-64-k558832.jpg)