Yang kangen?
Koreksi kalau ada typo yaa!
*****
"HEH LINTANG BANGSAT!!"
Andra mengaduh sakit saat kakinya ditendang Lintang sekuat tenaga. Sedangkan Lintang malah tertawa membawa bola basket ditanganya.
"Siniin," ujar Allard. Lintang melempar bola basket kearah Allard yang langsung ditangkap cowok itu sigap.
Allard tampak mengejek Andra dengan gerakan bibirnya. Cowok itu mendrible bola sebelum melemparkanya ke ring. Hanya satu lemparan langsung masuk membuat Allard tersenyum bangga.
Lapangan basket tampak sepi, hanya ada mereka bertiga. Allard, Andra, dan Lintang. Sedangkan kelas mereka tampak ramai karena jam kos. Rio, Naresh, dan Erlan sedang pergi ke kantin. Erlan bahkan tak tampak seperti ketua Osis yang patuh peraturan sekolah. Bukanya menertibkan kelas, laki-laki itu malah asik jajan.
"NARESH BAYAR KAS!!"
"OGAH!!"
Naresh tampak ngacir lari dengan makanan ringan penuh ditanganya. Erlan tampak santai merogoh saku membayar kasnya. Cowok itu membuang kaleng minuman yang sudah habis.
Rain, bendahara kelas menatap Naresh sengit yang sekarang sudah bergabung dengan Allard. Dengan buku kas kelas ditanganya, gadis itu berjalan ke lapangan basket.
"Allard bayar," ujar Rain menagih.
"Gak punya duit," balas Allard santai. Cowok itu masih bermain dengan bola basket.
"Bayarin Lard! Sok sokan gak punya duit, dompet lo tebel banget itu," ujar Rio mencibir.
Semuanya langsung nyengir saat Erlan bergerak mendekati Rain membayarkan kas mereka. Rain mengangguk menerima uang sambil meneliti satu satu.
"Clarisaa kemana ya?" tanya gadis itu.
"Gak berangkat kayaknya," ujar Lintang mengingat kursi Clarisaa kosong tadi.
"Loh kenapa?"
"Ya gak tau lah. Emang gue emaknya," sewot Lintang langsung merebut bola dari tangan Allard saat laki-laki itu hanya diam.
Allard diam tak merespon, Clarisaa kenapa? Memang tadi malam Clarisaa mengirimkan pesan singkat padanya. Tapi Allard tak membalas sama sekali, menurutnya gadis itu hanya akan merengek ini itu padanya.
"SEI!!"
Cowok itu menoleh pada Andra yang memanggil nama Seina. Mengernyit heran kemudian paham saat melihat Seina membawa tumpukan buku berjalan dibelakang guru.
"ANDRA KAMU NGAPAIN DISITU?! MASUK!!"
"ERLAN JUGA!! KAMU ITU KETUA OSIS KAN?!!"
Seina tertawa mengejek pada mereka yang dimarahi oleh guru. Gadis itu menatap Allard yang hanya memakai celana seragam, bajunya sudah hilang berganti dengan kaos hitam yang melekat.
"Ayo Sei, taruh buku diruangan saya."
Seina berjalan saat Pak Guru didepanya juga berjalan. "Jangan jadiin contoh, orang mau lulus bukanya makin baik malah makin gila mereka!" dumelnya pada anak-anak tadi.
Allard berlari mengikuti Seina membuat gadis itu sadar dan menoleh kebelakang. "Ngapain?" tanya Seina melihat Allard yang jalan dengan gaya songongnya.
Allard menaikkan satu alisnya. Langkahnya berhenti sampai di ruang guru.
"Ngapain kamu Allard?!" Semprot Pak Brama saat menoleh kebelakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Destiny [END]
Teen FictionNemu anak? Loh, yang tanggung jawab siapa dong? Putra Allard Aditama. Pangillanya Allard, bukan Putra maupun Tama. Si brandalan yang sialnya sangat tampan. Allard itu seperti bunglon. Kadang cuek, kadang galak, kadang gila, kadang dingin. Tapi yang...
![Our Destiny [END]](https://img.wattpad.com/cover/242199910-64-k191579.jpg)