Baca jam berapa?
*****
"Ah, Tan. Saya bawa Ares satu malam ini ya?"
Sahirah terlihat panik. Gebrakan keras terdengar dari pintu kamar Seina saat gadis itu masuk ke dalam. Allard meliriknya sebantar, kemudian menggendong Ares berniat untuk pergi bersamanya.
"ALLARD! SEINA KENAPA INI?" tanya Sahirah tampak panik. Bagaimana tidak, putrinya tiba-tiba pulang dengan tubuh lemas diantar Allard, apalagi dengan wajahnya yang sangat kentara bahwa baru saja menangis.
Allard berdehem. "Tan, sebaiknya seleaiin masalah tante sama mantan suaminya itu. Daripada Seina lagi yang jadi korban hubungan kalian." Nada bicara Allard jadi sinis, dia marah. Ditambah mendengar unek-unek Seina tentang hidupnya dulu.
"Ares saya bawa," ujar Allard langsung mengajak Ares pergi menggunakan motornya. Balita itu juga seolah tau situasi Seina, sejak Allard mengantarkan Seina pulang Ares sama sekali tak bersikap heboh. Melainkan langsung memeluk kaki Allard, Seina juga tak sekalipun menyapa Ares. Allard cukup mengerti perasaan Seina yang masih sangat terguncang.
Sahirah ditempatnya terdiam. Berusaha mencerna perkataan Allard. Wanita itu menunduk sambil mengepalkan tanganya erat. Jika benar Rico yang membuat Seina seperti itu, artinya mereka bertemu. Sahirah tak menyangkal perkataan Allard bahwa hubungan mereka berdua yang masih sangat runyam lagi-lagi menyakiti perasaan Seina.
****
"Sedih?"
Allard tersenyum lalu mengangguk. Cowok itu mengelus kepala Ares yang bersandar ditubuhnya. "Iya, makanya besok jangan buat Mama marah. Oke?" ujar Allard berusaha memberi pengertian pada Ares.
Ares mengangguk dengan patuh. Balita itu melingkarkan tanganya untuk memeluk tubuh Allard. Baru kali ini Ares akan tinggal di apartemen Allard tanpa hadirnya Seina.
"Kemarin ketemu sama polisinya gimana?" Allard mengingat bahwa Ares mendapat panggilan dari polisi kemarin. Karena Allard dan Seina sibuk kemarin, maka Ares diantar oleh Mama Seina.
"Ales ditanya-tanya. Tapi Ales ndak inget apa-apa. Ales ingetnya cuma pas sama Appa!!" ujar Ares kembali riang menceritakan apa yang dilakukanya di kantor polisi kemarin.
Allard terkekeh. Ada bagusnya Ares tak mengingat masa-masa dia ditahan di rumah penculikan. Apalagi Ares bertahan disana lumayan lama. Setelah penyelidikan polisi dilakukan, orangtua Ares ditemukan sudah meninggal lama. Bocah itu juga hanya sendiri saat kasus penculikan dimulai, sehingga tak ada laporan apapun tentang kehilangan anak sampai Allard melaporkan kejadian ini ke kantor polisi. Kerabat, teman dekat, juga tak ada wujudnya. Tak ada yang tersisa dari kenalan Ares.
Seperti rencana, jika Seina dan dia mengambil hak asuh Ares lewat keluarga mereka, itu lebih mudah. Apalagi saat pelaku sudah ditemukan nanti. Tapi mungkin Ares tak bisa menjadi keluarga resmi karena tak tercantum dalam kartu keluarga. Satu solusinya jika Allard dan Seina bertanggung jawab adalah mereka berdua menikah, dan secara resmi mengadopsi Ares sebagai anak mereka.
Allard telah mengatakan ini pada Seina beberapa kali.
"Ya itu tergantung hubungan kita nanti." Allard menggeleng pelan mengingat bagaimana jawaban Seina tentang hal ini. Ya memang benar, tapi karena itu juga Allard jadi takut kalau mereka akan berpisah kedepanya.
"Kalau ditanya polisi, jujur aja tentang dulu maupun sekarang. Siapa tau nanti penjahatnya ketemu."
"TAPIIII!!" Ares berteriak kencang. Balita itu mendekatkan wajahnya ke telinga Allard. Berbisik pelan hendak menyampaikan sesuatu.
Bibir Allard membentuk senyum tipis serta bangga saat Ares mengatakan apa yang diinginkanya.
*****
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Destiny [END]
Novela JuvenilNemu anak? Loh, yang tanggung jawab siapa dong? Putra Allard Aditama. Pangillanya Allard, bukan Putra maupun Tama. Si brandalan yang sialnya sangat tampan. Allard itu seperti bunglon. Kadang cuek, kadang galak, kadang gila, kadang dingin. Tapi yang...
![Our Destiny [END]](https://img.wattpad.com/cover/242199910-64-k191579.jpg)