Jam berapa bacanya? Koreksi typo ya!
****
"Allard Papa mau biacara!"
Allard memutar bola mata malas. Dia dudah sangat lelah, apalagi ini sudah sangat malam. Cowok itu melempar helmnya ke lantai. Menatap pria paruh baya yang duduk disofa sambil menonton televisi.
"Apa?" balas Allard mau tak mau.
"Papa sama Mama kamu mau ketemu sama anak yang kamu rawat. Siapa namanya? Ares?" ujar Papa Allard tanpa diduga.
Hembusan nafas kasar terdengar dari Allard. "Mau ngapain lagi sih? Gak usah," balasnya ketus.
"Mama mau ketemu Seina Lard, kangen sama Ares juga," ujar Mama Aurel yang tiba-tiba datang turun dari tangga.
Allard memicingkan matanya curiga. Mana mungkin. "Seina sibuk."
"Oh ya? Kalau kamu bilang Mama kamu pengin ketemu juga pasti dia bisa."
"Turutin kenapa sih Lard? Sebelum kamu bener-bener harus ngelepasin anak buangan itu," Bagas melirik Allard dan istrinya yang beradu mulut.
Allard memejamkan matanya kesal. "Aurel juga anak buangan, sialan." Umpat Allard lalu pergi ke kamarnya dengan raut kesal. Cowok itu mendengus menatap Mama Aurel yang tampak kaget mendengar ucapanya.
Lagian, mana mungkin Allard mengajak Seina ditengah-tengah masalah yang masih panas. Dan juga, apa sebenarnya niat Mama Aurel sampai segitunya. Mereka tak pernah dekat dengan orang lain kecuali kalangan sosialita istri teman-teman Papanya. Jikalaupun ingin mendekatkan diri dengan orang seperti Seina, pasti akhirnya akan membuat keributan.
*****
"Dia cuma kenalan Mama Sei, temen Mama dulu. Dan kita cuma ngobrol ditaman, Mama nggak tau tentang foto Mama yang ada didompet laki-laki itu, atau ucapan ucapan lain tentang perceraian kedua orangtua Clarisaa. Mama sama sekali nggak tau tentang itu, Mama juga kaget waktu kamu bilang, kalau Clarisaa ngelabrak kamu disekolahan."
Sahirah menatap Seina yang diam bergeming disampingnya. "Maafin Mama, nanti Mama bakal coba bilang sama dia buat lurusin salah paham antara kamu sama Clarisaa. Oke?" Ujar Sahirah sambil mengusap rambut Seina lembut.
Gadis itu mengangguk pelan. Dia kemudian memilih mendengarkan apa yang Mamanya ucapkan malam ini. "Tapi Seina malu, rasanya gak mau sekolah," adu Seina.
"Kamu punya kesempatan beasiswa karena kamu pinter. Kenapa malu? Kamu bilang kalau kita nggak salah gak usah malu kan? Kita lebih baik cari pembenaran buat balas mereka."
"Amma jangan nangis agii," ujar Ares memeluk lutut Seina. Gadis itu terkekeh, mengusap rambut Ares sayang.
Sahirah diam sebentar. "Sei, masalah Ares udah selesai kan?"
"Katanya gitu, Allard bilang pelakunya udah ditangkap. Dan orangtua Ares diketahui udah meninggal."
"Gimana kalau kita ngeadopsi Ares seutuhnya? Dengan surat-surat hak yang pasti? Sekarang kan Mama ada dirumah ini, jadi kalau kamu sama Allard sekolah juga ada Mama," usul Sahirah.
Seina terkekeh. "Aku malah usul kalau Ares diadopsi jadi anak Mama, jadinya dia adik akuu," ujar Seina. "Tapi mau Ares nganggep aku Mamanya ataupun Kakaknya, aku juga gak keberatan."
"Amaa!" ujar Ares tegas yang paham dengan pembicaraan mereka. Balita itu memasang wajah galak tak terima.
"Tapi Mama gak mau tuh, Kakak aja ya?" Goda Seina pada Ares. Gadis itu jauh lebih tenang dibanding sebelumnya yang selalu menangis.
Ares memasang wajah sedih hendak menangis, hanya butuh beberapa detik saat kemudian balita itu berteriak memukul kaki Seina kesal. "Ammanya Alesss!!" teriak Ares marah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Destiny [END]
Roman pour AdolescentsNemu anak? Loh, yang tanggung jawab siapa dong? Putra Allard Aditama. Pangillanya Allard, bukan Putra maupun Tama. Si brandalan yang sialnya sangat tampan. Allard itu seperti bunglon. Kadang cuek, kadang galak, kadang gila, kadang dingin. Tapi yang...
![Our Destiny [END]](https://img.wattpad.com/cover/242199910-64-k191579.jpg)