****
Yang nunggu mana nih?!
Publish ulang, td ada yg salahhh
****
Seìna memegang tangan Allard erat sambil menggigit bibir bawahnya gelisah. Dia tak fokus dengan ramainya kondisi pasar saat ini. Sedangkan Allard sibuk mencari keberadaan Bu Desi.
"Bu!" panggil Allard pada wanita yang sedang sibuk bertanya pada seseorang.
Bu Desi langsung menoleh kearah Allard dengan kilat. Bersamaan Seina yang langsung maju kehadapan Bu Desi.
"ARES MANA?!" teriak Seina langsung membuat mereka jadi pusat perhatian.
Allard menghela nafas pelan. Menarik tangan Seina agar bersabar, cowok itu tersenyum tipis pada orang-orang yang menatap Seina sinis.
"Maaf Pak, Buk. Ada yang lihat adik saya gak? Kaya gini, dia hilang," ujar Allard menjelaskan sambil menunjukkan foto Ares. Sontak mereka menjadi terkejut dan heboh berbicara.
"Lihat gak ya Pak, Buk?" tanya Allard berusaha bersama dengan kebisingan yang terjadi.
"Gak lihat."
"Tadi cuma inget dia sama Ibuk ini."
"Saya fokus ke pelanggan."
"Kita bantu Cari."
"Nanti kalau ketemu saya kabarin bapak."
Seina mengepalkan tanganya khawatir, gadis itu menatap Bu Desi dengan tanda tanya. "Ibu sama Mama kan? Mama mana? Siapa tau Ares sama Mama?!" tanya Seina langsung.
Bu Desi langsung teringat sesuatu. "Iya! Mama kamu lagi beli es krim buat Ares. Dari tadii.." ujar Bu Desi.
Seina lansung menarik tangan Allard untuk lari menuju arah yang diberikan Bu Desi. Sedangkan wanita itu sendiri masih mencari disekitaran sana bersamaborang-orang pasar.
"MAMA!" teriak Seina.
Allard mengernyit melihat Mama Seina yang tampak gugup setelah berbalik menatap gadis itu. Cowok itu sempat menangkap raut mukanya sebelum wajah wanita paruh baya itu menjadi senyum manis.
"Kamu kok disini? Oh iya, Ares mana? Nih Es krimnya." Sahirah mengangkat kresek hitam pada Seina.
"Mama nggak sama Ares?" tanya Seina. Gadis itu menatap sekeliling luar toko. "Ma! Mama nggak sama Ares?!" Seina terus-terusan bertanya yang malah membuat Mama Seina bingung.
"Ares beneran nggak sama Mama?" Wajah panik Seina kambuh kembali. Melihat Sahirah yang menggeleng membuat gadis itu langsung menatap Allard dengan wajah ingin menangis.
Allard menatap intens sekeliling, sebelum beralih lagi kearah Mama Seina. Cowok itu merangkul Seina untuk menyingkir dari keramaian.
"Tenang oke? Mungkin masih disekitar sini."
"Gimana nggak panik Allard?! Ares masih kecil! Masih kecil! Lo pikir Ares hafal jalan pulang?!" Sentak Seina.
Allard panik? Tentu. Dari diamnya Allard tadi diotaknya hanya memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi. Allard hanya tak mau menunjukkan secara terang-terangan. Jika Seina sudah sangat ribut dengan isakan kecil seperti ini, gimana kalau Allard juga bertingkah seperti Seina? Pasti yang ada hanya akan bertengkar tak tau waktu.
"Sei, tenang. Kita cari bareng-bareng," ujar Mama Seina membuat gadis itu mengangguk. Setelahnya Mama Seina mulai bertanya pada orang-orang sekitar dengan menunjukkan foto Ares.
Allard tersenyum tipis menatap Seina yang tetisak kecil. "Udah, cari bareng ayo. Pasti ketemu. Cengeng banget sih," kekeh Allard mengusap mata Seina.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Destiny [END]
TienerfictieNemu anak? Loh, yang tanggung jawab siapa dong? Putra Allard Aditama. Pangillanya Allard, bukan Putra maupun Tama. Si brandalan yang sialnya sangat tampan. Allard itu seperti bunglon. Kadang cuek, kadang galak, kadang gila, kadang dingin. Tapi yang...
![Our Destiny [END]](https://img.wattpad.com/cover/242199910-64-k191579.jpg)