Akhirnya update
Kalau ada tanda baca yang salah & typo, dikoreksi yaa!
****
"Harusnya tadi dipasar aja Lard," gumam Seina mengeluh.
"Ya gapapa kali," balas Allard malas. Tangan Allard digunakan untuk menggendong Ares, melihat Seina yang memilih es krim untuk Ares.
"Masa ke pasar beli eskrim doang. Lagian pasar masa ada es krim?"
"Idih, ya kan bisa sekalian belanja. Kalau es krim mah didepan gang tuh banyak warung." Seina menatap Allard tajam.
"Gak papa, yang lebih mahal," ujar Allard ceplos.
"Harganya sama juga," cibir Seina mengambil tiga bungkus es krim.
"Ayok," ujar Seina berjalan mendahului Allard dan Ares.
"Itu aja?" tanya Allard.
Seina mengangguk, "iya ini doang."
Gadis itu berjalan kearah kasir untuk membayar, sedangkan Allard malah keluar supermarket berniat menunggui gadis itu didepan.
Mata Allard menelisik ke seluruh penjuru arah. "Ares cuma mau beli itu doang?" tatapanya beralih menatap Ares yang berada digendonganya.
Balita itu mengangguk semangat. "Ales mau es klim aja," ujarnya tersenyum memperlihatkan gigi gigi mungilnya.
Bibir Allard membentuk senyum tipis. Cowok itu menoleh kearah pintu supermarket yang terbuka dengan Seina yang berjalan menenteng plastik kresek kecil.
Allard mulai berjalan mengiringi Seina menuju motornya yang diparkir. "Udah siap belum Sei?"
"Apanya?" tanya Seina.
"Kalau ketemu Mama lo," ujar Allard.
Seina diam sebentar. Gadis itu memberikan cengiran polos. "Gak terlalu sih," ujar Seina pelan. Gadis itu mengambil alih Ares agar Allard bisa mengambil motornya.
"Dia gimana Lard? Baik kan?"
"Maybe," ujar Allard, pasalnya dia tak pernah bertemu dengan Mama Seina. Hanya beberapa orang suruhanya yang menemui.
"Semoga, oke?"
****
Allard merapihkan seragamnya saat berpapasan dengan Pak Bram. Allard mencibir pelan kala guru laki-laki itu menatapnya sinis.
"MAU KE SEKOLAH APA MAU JADI PREMAN KAMU ALLARD?!!"
"Ganteng gini dikira preman," balas Allard kesal.
"Emang preman gak boleh ganteng?" tanya Lintang yang tiba-tiba datang berdiri sejajar disampingnya.
"Nah nah!! Contoh Lintang, pakaianya rapi, bajunya dimasukin, dasinya ada, rambutnya klimis, seger lihatnya," ujar Pak Bram membuat Lintang dengan pede berdiri disamping guru itu dan menyombongkan dirinya pada Allard.
Berasa anak culun, batin Lintang tetap menunjukkan kesombonganya.
"Lah kamu?!" Pak Bram geleng-geleng kepala diikuti Lintang yang berlagak membuat Allard mendengus.
"Bajunya ada diluar, dasinya ilang, rambutnya acak acak, pakai disemir coklat lagi!"
"Asli kali Pak," balas Allard jengah. Warna rambutnya memang seperti ini dari dulu. Coklat gelap.
"Tidak mencerminkan pelajar. Brandalan iya!"
"Iya Pak, iya," balas Allard.
"RAPIHIN BAJU KAMU ALLARD!! JANGAN CUMA IYA IYA AJAA!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Destiny [END]
Teen FictionNemu anak? Loh, yang tanggung jawab siapa dong? Putra Allard Aditama. Pangillanya Allard, bukan Putra maupun Tama. Si brandalan yang sialnya sangat tampan. Allard itu seperti bunglon. Kadang cuek, kadang galak, kadang gila, kadang dingin. Tapi yang...
![Our Destiny [END]](https://img.wattpad.com/cover/242199910-64-k191579.jpg)