Yang nunggu?
Baca pelan-pelan, ini udah panjangg..
Koreksi typo ya..
***
Tangan Allard dengan sigap menahan kepala Seina yang lagi-lagi terbentur dashboard mobil. Mendorong kepala Seina agar tegak lagi kebelakang, Allard menyentil pelan dahi gadis itu.
"Bangun bego!"
Seina membuka mata, menyipitkan matanya yang terasa berat. Gadis itu menguap sambil bergerak membelakangi Allard. "Ya elo ngajak pergi jam empat."
Allard menatap punggung Seina. Gadis itu menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan memeluk kakinya yang dinaikkan. "Katanya mau jemput Ares," ujar Allard memberi pengertian.
"Empat pagi Lard. Gue biasanya bangun jam setengah lima. Jadwal tidur masih setengah jam lagi, ah lo mah gitu!" omel Seina.
Seina dengan cepat berbalik, menatap Allard yang dengan tenang menatapnya. "Lagian jam empat pagi didepan gerbang rumah orang, kaya maling!"
"Maling matamu."
Allard mengambil botol minum air putih dari kursi belakang. Menyodorkanya ke arah Seina. "Cuci muka nih!" ujar Allard sambil menunjuk pintu. Menyuruh Seina agar keluar untuk mencuci muka.
"Gak gelap."
"Astaga, kan ada gue."
"Yaudah ayo temenin!!" sentak Seina menatap Allard sebal.
Allard tersenyum terpaksa menatap Seina. Mencubit pipi Seina kencang. Bukan gemas, menyalurkan emosi. Seina itu terlalu ribet, dan sama sekali tak pernah mau mengalah.
"ARGH!!"
Seina mengusap pipinya yang memerah sambil menatap Allard berkaca-kaca. "SAKIT MONYET!!"
"Mau aja temenan sama monyet," ujar Allard santai sambil keluar mobil.
"HIH!"
"Buruan," ujar Allard. Cowok itu menyandarkan tubuhbya di kap mobil, mengamati rumah didepanya. Rumah bertingkat dua, meski tak terlalu besar jika disandingkan dengan rumahnya. Tapi, dibatasi pagar menjulang tinggi seolah melindungi sekeliling rumah. Yang Allard tau, Ares sedang disini. Dia berada di gerbang bagian depan. Berada agak jauh karena beberapa orang berjaga dibagian sana. Sedangkan beberapa orang suruhanya ke bagian paling belakang. Katanya ada satu gerbang kecil lagi disana.
Allard mengambil ponselnya yang berdering dari saku celana. Salah satu orang suruhanya.
"Hallo.."
"Ada hal penting?" tanya Allard to the point.
Seina yang sudah selesai membasuh muka pun mengamati Allard dalam diam. Allard sendiri setelah mendengar apa yang diucapkan orang itu melirik Seina sekilas. Wajahnya tampak tegang sampai kegiatan telfon berakhir.
"Kenapa?" tanya Seina langsung, wajahnya tampak segar.
Allard terlihat berfikir sejenak. Setelahnya cowok itu menarik tangan Seina kasar lalu membuka pintu mobil, mendorong gadis itu agar duduk.
"Lard?! Kenapa sih?!"
Allard duduk lalu menutup pintu mobil kencang. Menatap Seina sambil nyengir tenang, berusaha menutupi keteganganya. "Kita pulaangg!"
***
Allard menangkup pipi Seina, tapi terlalu menekankan. "Udah ya, sekolah, jangan bolos." Allard merogoh sakunya, mengeluarkan uang dua puluh ribu. "Nih, buat ngojek." ujar Allard menaruh uang itu ditangan Seina.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Destiny [END]
Novela JuvenilNemu anak? Loh, yang tanggung jawab siapa dong? Putra Allard Aditama. Pangillanya Allard, bukan Putra maupun Tama. Si brandalan yang sialnya sangat tampan. Allard itu seperti bunglon. Kadang cuek, kadang galak, kadang gila, kadang dingin. Tapi yang...
![Our Destiny [END]](https://img.wattpad.com/cover/242199910-64-k191579.jpg)