17. Allard-Seina

70.1K 10.4K 3.6K
                                        

Cepet kan?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Cepet kan?

Part full Allard Seina Ares. Buat yang kemarin katanya yang kurang part Seina&Allard sama kangen sama Ares.

*****

"Ibu nyuruh kamu pesenin kain udah Sei?"

Seina menoleh menatap Bu Desi, "udah Bu, mungkin nanti nyampai pesananya," ujarnya pelan.

Banyak pertanyaan yang bersarang dikepalanya membuat Seina pusing. Matanya tetap mengawasi Ares yang kini berjalan kearahnya dengan sendok penuh pasir. Senyumnya mengembang, lalu terkekeh gemas meraih Ares kepelukanya.

"Ulang," gumam Ares mengecup pipi Seina singkat.

Gadis itu merenggangkan pelukanya, membersihkan pasir yang menempel disekitar tubuh Ares. Kebiasaan Balita itu jika berada di panti maka tak segan jika main dipasir bersama anak-anak lainya.

"Mau pulang sekarang?" tanya Seina memastikan.

Ares mengangguk semangat, "lapel," ujarnya mengelus perutnya yang rata.

Seina terkekeh, mengangkat Ares kegendonganya dengan sekali tarikan. Balita itu tampak menatap sekitarnya membuat Seina paham. Mengelus rambut Ares lembut.

"Mama sendiri, Papa kamu gak tau kemana. Nanti dateng, mungkin," ujarnya memberi pengertian.

Ares lebih dekat dengan Allard daripada denganya. Dan itu benar, kenyataan. Dua laki-laki berbeda umur itu walaupun tak sering melakukan waktu bersama, tapi Ares malah lebih dekat dan akrab dengan Allard ketika cowok itu datang. Tak heran jika Ares selalu mencari Allard seperti ini.

Tatapan sedih yang tidak bisa dihindarkan dari mata Ares membuat Seina menghela nafas pelan. Senia bergerak maju, mengecup dahi Ares singkat sebelum mengukir senyum manisnya.

"Pulang oke? Nanti telfon Papa," ujarnya yang diangguki Ares semangat.

"Ales sayang Ama, Apa, kalian. Angan inggalin Ales," ujar Ares rendah memeluk leher Seina erat.

"Nggak akan," mungkin.

Mereka berjalan menuju rumah, dengan Seina yang menggendong Ares sesekali mereka tertawa bersama. Tak peduli tatapan orang-orang yang menilainya sekarang, bagi Seina dia tak salah.

Masih denga seragam lengkap yang membalut tubuhnya, dengan tas yang tersampir dipundaknya kini Seina tetap jadi perhatian.

"Ales adi atoh," adu balita itu ditengah celotehanya.

"Iya?" tanya Seina panik.

Ares mengangguk tenang, memperlihatkan sikunya yang sedikit tergores tanpa mengeluarkan darah. "Ales kuat, kaya Apa," balasnya sombong.

"Hilih, Papa kamu jangan tiru tingkahnya. Jangan sok jagoan kamu," balas Seina yang malah membuat Ares tertawa.

"Sultan ebas Amaaa.." bibir Ares mengerucut.

Our Destiny [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang