Yang belum baca Erlan, mampir ke lapak sebelah ya!
Yang nungguin update mana?
___
"Dari mana saja kamu Allard?!!"
Suara mengintimidasi itu membuat Allard memijat keningnya pelan. Luka lebam baru juga terdapat diwajah Allard, pakaian berantakan dengan celana terdapat sobekan menggambarkan betapa kacaunya Allard sekarang.
"Mana-mana!" balas Allard ngawur. Matanya melirik jam dinding, baru jam 2 pagi kenapa Papanya sewot?
Bagas menahan emosinya yang hampir meluap. "Baru pulang? Darimana?!" tegas Bagas meminta jawaban.
"Heboh banget, Papa nggak pulang berhari-hari aja Allard diem kenapa Allard cuma pulang pagi situ masalah?"
Allard sudah lupa siapa lawan bicaranya sekarang. Cowok itu tetap diam menatap tajam Papanya yang berdiri diatas tangga.
"Ini kelakuan kamu?" ujar Bagas tetap tenang.
Allard tertawa meremehkan. "Iya, gimana dong? Tumben banget perhatian sama Allard,"
Tangan Bagas terkepal. Menatap anak laki-laki satunya itu. "Naik ke atas! Tidur!" titah Bagas.
"Waw, drastis banget perubahanya. Dulu aja, orang-orang cuma tau kalau Papa itu sayang keluarga. Aslinya? Cih, Allard aja nggak sudi," balas Allard tajam, menusuk.
"Adik kamu besok balik,"
Allard diam sebentar, tubuhnya kaku. Tatapannya menajam. "Allard nggak pernah punya adik," ujarnya dingin. Berbeda dengan sebelumnya yang asal njeplak.
Cowok itu menaiki tangga dengan cepat. Tak menghiraukan Bagas yang dalam diam menatapnya. Saat berpas-pasan dengan Bagas langkahnya memelan.
"Allard nggak sudi," bisiknya tajam.
__
"Ah!!"
"Ambigu goblok," umpat Lintang menatap tajam Andra.
Andra menoleh, memegang sikunya yang terkena goresan. "Gue sakit dikatain ambigu. Lo gila aja gue gak bilang gila!" balas Andra sewot.
"Pipipipip!!" senandung Naresh tak jelas.
"Goblok," umpat Rio. Cowok itu tertawa, "kita tuh, goblok satu goblok semua!" ujarnya menunjuk satu-satu sahabatnya yang prilakunya tak jauh beda. Kecuali Erlan yang masih bisa jaga etika, sedikit.
"Tapi, pinter satu," Rio menunjuk Erlan. "Yang ikut pinter cuma Allard." cibirnya.
Lintang tertawa ngakak. Kakinya diangkat ke kursi. "Astagfirullah, gue harus tobat deh. Udah bolos pas pembagian otak gue. Masa kata Emak tinggal secuil, sehina itu kah?" melas Lintang.
"Lah mereka didikanya buat nerusin perusahaan. Kita?" sewot Andra.
"Kita? Lo aja kali," kata Naresh. "Gue mah nerusin usaha restoran Papih."
"Papih papih, bahasa lo. Bapak aja belagu lo!"
Rio menempeleng kepala Naresh sehingga cowok itu terjungkal kedepan. "Bapak gue marah marah kemaren njir!" curhat Rio kemudian.
"Ngapa lo? Ngintipin Janda?"
Andra merubah tatapanya menjadi lembut. "Lintang minta di cipok mulutnya?" ujarnya mengedipkan mata.
Lintang bergidik. "Gue nggak maho ya anjir!! Kalaupun kaya gitu gue mau cari yang sexsoy! Nggak kaya lo!!" balas Lintang sewot.
Allard seketika langsung bangkit. Menjauh dari kawanan mereka setelah mendengar ucapan Lintang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Destiny [END]
Ficção AdolescenteNemu anak? Loh, yang tanggung jawab siapa dong? Putra Allard Aditama. Pangillanya Allard, bukan Putra maupun Tama. Si brandalan yang sialnya sangat tampan. Allard itu seperti bunglon. Kadang cuek, kadang galak, kadang gila, kadang dingin. Tapi yang...
![Our Destiny [END]](https://img.wattpad.com/cover/242199910-64-k191579.jpg)