Waktu sudah menunjukkan pukul 08.15 pagi, sudah tiga hari ini Adin tidak memasuki sekolah tanpa izin. Adin membuka pintu kamar perlahan dan matanya langsung tertuju kepada Bunda nya yang sedang terduduk di sofa ruang tengah sambil menatap majalah dengan kacamata oval yang bersandar di batang hidung nya.
"Keluar lo!" Ujar Sahira yang mengetahui anak gadis nya sedang mengintip dari pintu kamar.
Mata Sahira masih menatap ke majalah dan membuka perhalaman meskipun Adin sudah berdiri di depan pintu kamar nya. Adin menggenggam tangan nya sambil menundukkan kepala, berharap Bunda nya tidak menyerang nya kembali karena tahu jika ia tidak mengikuti jam sekolah hari ini.
Sahira berdiri dari sofa, berjalan menghampiri Adin dengan tatapan tajam,
"3 Hari kaga sekolah?! udah ngerasa pinter lo?" Teriak Sahira.
"Enggak gitu, bun" Jawab Adin dengan bibir pucat yang bergetar.
Mata Sahira menatap wajah Adin dengan seksama sambil menyipit, "Belanja sana ke pasar! Jangan mentang-mentang lo bolos tapi enak enak an dirumah" Oceh Sahira lalu kembali duduk di sofa.
Mendengar perintah dari Bunda nya, Adin yang sedang dalam kondisi tidak sehat mau tak mau harus pergi ke pasar untuk berbelanja bahan masakan hari ini. Mengambil jaket berwarna abu-abu, berganti menggunakan celana training dengan warna sepadan dengan jaket nya, dan tak lupa mengikat rambut hitam panjangnya.
Menutup pintu pagar dengan pelan, lalu menyapa Oma Athi yang sedang duduk di teras rumah sambil merajut yang sudah menjadi kebiasaannya di pagi hari,
"Pagi Oma!" Sapa Adin sambil melambaikan tangan kanan nya.
Oma Athi terlihat tersenyum lebar melihat Adin yang sudah ceria menyapa nya di pagi hari. Adin kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke pasar sambil menyapa beberapa tetangga yang sedang sibuk menyiram tanaman, atau bersiap berangkat ke kantor.
Melewati pos satpam dan berpapasan dengan Pak Yono, Satpam komplek nya yang sudah mengenal Adin. Pak Yono terlihat bergegas menghampiri untuk menyapa gadis dengan tinggi 165 cm ini,
"Loh neng? Kaga sekolah? Bukan nya ini masih hari Jumat ya?" Tanya Pak Yono dengan heran.
Adin membalas nya dengan senyum tipis, "Sekali-kali nyobain bolos pak!" Jawab Adin,
"Saya ke pasar dulu ya pak, mau nitip sesuatu?" Tanya Adin hendak berpamitan.
Pak Yono menggelengkan kepala pelan dan senyum yang tersirat di wajahnya. Melihat Adin membuat Pak Yono teringat dengan anak perempuan semata wayangnya yang memiliki kepribadian sama dengan Adin. Kini, anak perempuan nya tinggal jauh dari nya setelah di pinang oleh seorang laki-laki yang juga memberikan cinta kepada putri sau-satunya.
Memasuki ke Pos Satpam dan merogoh saku kiri seragam nya, menatap sebuah nama yang ada di layar ponsel miliknya. "Si Eneng" , nama yang tertulis pada nomor anak perempuan semata wayang Pak Yono. Tak terasa air mata turun dengan sendirinya, jemari nya bergetar saat hendak menyentuh gambar telepon yang ada dibawah nomor.
-- Tutt , Tutt --
"Halo abah?" suara dari telepon.
Mendengar suara putri tersayang membuat suasana hati Pak Yono menjadi terharu dan berhasil menangis sambil berkeluh kesah tentang dirinya yang sedang sangat merindu.
###
Adin sedang sibuk menyusuri seluruh koridor yang ada di pasar sambil menengok ke kanan dan kiri mencari kebutuhan yang diperlukan olehnya. Tangan nya masih saja kosong meskipun sudah berkeliling kurang lebih 30 menit. Langkah nya terhenti di depan gerai yang tutup, merogoh saku jaketnya dan segera mengirim pesan kepada Jedden.
Namun sudah lebih dari 15 menit ia menunggu, tak ada balasan pesan dari saudara kembarnya dan saudara sepupu nya. Ya! Adin sedang menanyakan, apa menu yang harus ia masak hari ini?. Mengambil kembali tas belanjaan nya, dan mulai menyusuri gerai-gerai yang berjualan ayam segar.
Kali ini, Adin akan memasak menu opor ayam yang menjadi makanan favorit Bunda nya, Sahira. Dengan kepala yang sudah hampir terasa berat, Adin tetap menyusuri setiap koridor pasar dan mengantri bergerombol untuk melakukan tawar-menawar.
"Bang! Ayam nya 2 ekor, langsung dipotong jadi 4 aja ya" Ujar Adin pada si abang penjual ayam.
Si abang penjual ayam dengan segera melakukan tugasnya sesuai yang di inginkan Adin sebagai pelanggan. Memotong dengan lihai dan terampil. Disodorkan kantong plastik berwarna hitam pada Adin,
"80 ribu aja ya?" Kata Adin yang mencoba menawar kepada si penjual.
"Iya udah sini. Untung cakep." Sahut si penjual yang menyetujui penawaran dari Adin.
Setelah selesai menemukan ayam nya yang merupakan bahan utama, Adin segera menyusuri koridor pasar kembali untuk mencari rempah-rempah yang ia perlukan. Namun, langkahnya kembali terhenti dengan tiba-tiba setelah melihat adanya . . .
Roti Goreng . . .
Mata nya terbelalak saat melihat jajanan roti goreng kesukaan nya baru saja diangkat dari penggorengan. Tanpa basa-basi, kaki nya berbelok sendiri ke kanan untuk menghampiri gerai roti goreng tersebut.
"Ibu! Roti goreng nya 5 ribu." Sahut Adin dari samping gerobak.
Ibu penjual pun ikut tersenyum adanya kedatangan Adin sebagai pelanggan pertamanya. Bahkan, Adin di beri bonus 3 potong roti goreng olehnya. Tak lupa mengucapkan terima kasih berulang kali kepada sang penjual sebelum ia berpamitan pergi untuk kembali mencari bahan yang dibutuhkan.
Berjalan menoleh ke arah kanan dan kiri sambil mengunyah roti goreng yang memiliki cita rasa tersendiri di lidahnya. Mata elang nya menemukan gerai yang menjual rempah-rempah sangat lengkap, bibirnya terangkat tersenyum dengan ceria.
Adin mengambil beberapa rempah yang ia butuhkan tak lupa dengan cairan santan. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit untuk sibuk memilih rempah di gerai tersebut. Merasa jika bahan-bahan nya sudah cukup, Adin segera melangkahkan kaki untuk kembali ke rumah.
Namun, lengan nya di raih oleh seseorang. Adin menoleh dan menatap pria yang memiliki tinggi sekitar 178 cm,
"Lo Adin kan?" Tanya pria tersebut dengan tiba-tiba.
Adin mengernyitkan dahi nya, mencoba mengingat siapa pria ini. Dipikirannya langsung teringat hidungnya yang bengkok karena dihantam oleh pria yang sedang bertatapan dengannya sekarang.
"Gue Saka dari Lixard Highschool, kenal gue kan?." Kata nya dengan sangat ringan.
"Ouh. Ya udah, gue duluan ya" Jawab Adin dengan sangat singkat.
Kali ini, Adin benar-benar tak ingin terlibat pada perihal antar gank milik Husein dan Jeco termasuk Saka, pria yang sedang mengajaknya mengobrol. Ditariknya lengan Adin kembali,
"Gue cuma mau ngomong makasih, karena waktu itu kalo lo gak ada mungkin gue udah dibantai sama Huse--"
"Dia senior!" Sahut Adin.
Saka membuang nafas, "Iya Bang Husein!" Tegasnya memperbaiki perkataannya.
Adin memberinya tatapan tajam, "Cuma makasih doang? Bukan nya seharusnya minta maaf dulu baru makasih ?" Sindir Adin sambil mengangkat satu alis nya. "Dasar gak bertata krama" Tambah Adin.
Saka mendengarnya dengan sangat jelas, emosi nya memuncak setelah mendengar umpatan dari Adin, gadis tengil di matanya.
..
.
.
HULLA! Gimana cerita kali ini?
Terimakasih udah baca sampai akhir !!
Jangan lupa vote + komen!
Have a Nice Day ^^

KAMU SEDANG MEMBACA
SENIOR ; HAECHAN LEE
Fanfiction"Sejauh dan seberapa lama pun kita pisah, gue bakal tetep cari lo" - Husein Ralendra . . . by DIXLEOH'January 2021