Duduk di atas rerumputan yang juga banyak orang menikmati jajanan bersama sahabat, kekasih, maupun keluarganya. Adin menegak es susu yang dibelikan oleh Husein sambil tetap meratapi rasa malunya, sesekali matanya melirik Husein yang sedang menatapi beberapa anak kecil bermain baling-baling kelap-kelip dibawah bintang malam hari.
"Kenapa ngelirik gue terus?" Tanya Husein yang mengetahui jika Adin meliriknya terus menerus.
Adin semakin memasang wajah kesal padanya, "Ish! Kesel banget gue sama lo!" Ujar Adin memukul lengan Husein lagi.
Husein mengalihkan pandangannya ke arah Adin yang menatapnya dengan raut wajah kesal dan bibir yang monyong kedepan.
"Lagian kenapa lo gak bilang dulu sih kalo ada promo gituan? Kan bisa di diskusiin biar akting gue keliatan meyakinkan. Malu banget teriak-teriak depan kios!" Oceh Adin pada ketua Wolves Gank.
Husein memperhatikan dan tersenyum menatap Adin yang sedang mengocehi nya dengan banyak kalimat.
"Kak! Lo dengerin gue gak sih?" Teriak Adin yang semakin kesal.
Husein tersadar dari lamunan nya, "Jangan mentang-mentang lo gemoy terus seenaknya bikin senior gemes ya!" Ujar Husein dengan spontan.
"Udah 2 kali lo ngomong begitu. Kenapa emang nya kalo gue gemoy? Lo suka?" Sahut Adin dengan nada ketus.
"Iya. Gue suka." Jawab Husein tanpa ragu. "Gue jadiin pacar tau rasa lo!" Tambah Husein.
"Ya udah! Kenapa sekarang gak sekalian dijadiin pacar aja?!" Sahut Adin yang tak sadar karena kesal.
Selang beberapa detik, Adin baru menyadari ucapannya dan mendengar ucapan Husein yang semakin to the point membuatnya menjadi malu dan tak tahu harus mengatakan apa lagi. Adin langsung menampar bibirnya sendiri,
"M-maksud g-gue gak . . ." Ucap Adin yang terpotong.
"Ya udah, ayo pacaran" Kata Husein tanpa ragu.
Sekali lagi, Adin dikejutkan dengan ucapan Husein yang tak terdengar adanya keraguan sama sekali untuk mengatakan hal tersebut.
"HAH?!" Teriak Adin dengan sangat kencang.
Semua orang yang duduk di dekat mereka mengalihkan pandangan nya ke arah keduanya.
###
Sampai dirumah pukul 8 malam, Adin menutup kembali pintu pagar rumahnya saat Husein sudah menarik gas dan pergi menuju pulang ke kosan. Berjalan memasuki rumah dengan tatapan kosong karena hari ini sudah seperti hari ajaib di hidupnya.
Berjalan melewati Bunda nya yang sedang duduk di sofa ruang tengah sambil membaca majalah, Adin tetap saja menatap ke arah bawah sambil melamun. Membuka pintu kamar dan masih saja tak menyadari jika Dynan sudah pulang lebih awal darinya.
Entah ini suatu keberkahan atau kesialan untuk Adin yang tiba-tiba resmi menjadi kekasih Husein. Lamunannya menjadi pudar saat mendengar isakan tangis dari saudara sepupunya, Dynan. Dynan mengusapi wajahnya menggunakan tisu, dan dilihatnya di lantai banyak tisu yang berserakan.
Adin langsung menghampiri Dynan yang menangis semakin kencang saat diberi pelukan oleh Adin. Beberapa kali Adin menanyai apa yang membuatnya menangis,
"Harrel . . ." Ucap Dynan yang tak terdengar jelas.
"Iya, Harrel kenapa?" Tanya Adin semakin tegas.
Dynan berusaha berhenti menangis sejenak, "Gue cuma jadi alatnya Harrel biar gank nya bisa nyerang lo dengan gampang. Sorry . . ." Jelas Dynan yang kembali menangis terisak-isak.

KAMU SEDANG MEMBACA
SENIOR ; HAECHAN LEE
Fanfictie"Sejauh dan seberapa lama pun kita pisah, gue bakal tetep cari lo" - Husein Ralendra . . . by DIXLEOH'January 2021